Pengalaman Wawancara Kerja di London

Saya mengikuti proses seleksi penerimaan karyawan di berbagai lembaga nirlaba di London. Posisi yang ditawarkan beragam tetapi masih berkaitan dengan latar belakang pendidikan dan pekerjaan. Terutama yang mengangkut pengelolaan proyek dan penelitian seputar TIK. Culture shock adalah istilah yang tepat untuk mendeskripsikan pengalaman saya sebagai pencari kerja berkulit cokelat yang bersaing dengan ras kulit putih di London.

Sumber: https://www.explainxkcd.com/wiki/index.php/1545:_Strengths_and_Weaknesses

Bukan hanya sekali!

Proses seleksi penerimaan staff di Indonesia biasanya dilakukan melalui wawancara singkat sekitar 30–45 menit. Tidak ada tes tertulis dan wawancara susulan. Mungkin HR menimbang bahwa rekam jejak CV dan refensi sudah mencukupi.

Di London, prosesnya tidak kalah rumit dengan seleksi CPNS. Ketika mengirimkan lamaran, ada 4–5 lembar formulir yang harus diisi. Proses berikutnya adalah tes tertulis (lagi!), menyiapkan presentasi atau membuat karangan. Wawancara dilakukan beberapa kali dengan staff dari berbagai jabatan — mulai dari officer, manager hingga director, tergantung dengan tata laksana organisasi.

Selain menyita banyak waktu, hal tersebut cukup mengurus tenaga dan kantong mengingat ongkos naik kereta bawah tanah lumayan mahal. Proses seleksi yang rumit ini juga berlaku untuk posisi konsultan dengan masa kerja dalam hitungan jari.

Menandatangani nondisclosure agreement

Wawancara yang paling aneh terjadi di sebuah lembaga yang berkantor di Waterloo. HR hanya memberitahukan tentang rencana penelitian dan posisi yang dibutuhkan tetapi menolak untuk menyebutkan topiknya. Sebelum wawancara berjalan, dua staff menyodorkan dokumen nondisclosure agreement untuk ditandatangani. Semua hal yang didiskusikan selama proses wawancara tidak boleh dibocorkan kepada pihak manapun. Ha? Meraka beralasan karena sensitifitasnya topik dan subyek penelitian yang akan dilakukan. Kebayang kan, baru wawancara saja sudah diperlakukan sedemian rupa?

Karena terlanjur duduk di ruangan wawancara, saya tidak bisa menolaknya. Seminggu kemudian, mereka mengirimkan email bahwa penelitian dibatalkan. Saya setengah curiga dan tidak peduli. Kalau jujur, minat saya untuk bergabung hilang seketika selama wawancara ;-)

Bagaimana anda mendapatkan visa kerja?

Aturan untuk memperkerjakan WNA di Inggris sangat ketat. Ditambah lagi dengan sentimen Brexit, pekerja migran diburu dan dipukuli. Pekerja migran juga dianggap sebagai penyebab naiknya kesenjangan sosial di Inggris karena mencuri lapangan kerja. Setiap lembaga yang saya temui mengorek masalah visa, yang berbeda hanyalah bungkusnya.

Saya biasanya dengan sopan menjawab kalau visa tinggal memperbolehkan saya bekerja penuh waktu hingga 2.5 tahun kedepan. Pengalaman yang paling buruk adalah di lembaga X. Pewawancara mencecar secara detil mengenai alasan kepindahan saya ke London dan bagaimana WNI bisa mendapatkan ijin tinggal. Pertanyaan semacam ini tidak pada tempatnya karena tidak berkaitan langsung dengan kualifikasi yang dibutuhkan. Apabila anda mengalami hal yang sama, anda berhak diam dan tidak perlu menjawabnya.

Kualifikasi anda tidak cocok (karena anda berasal dari Indonesia?)

Secara general, pekerjaan di London tidaklah sesusah yang dibayangkan. Mengapa? Dari target kegiatan saja bisa dibandingkan. Indonesia memiliki penduduk 240 juta jiwa, pola pemerintahan yang berbeda disetiap daerah dan anggaran proyek minimal ratusan hingga jutaan USD.

Target lembaga nirlaba di sini adalah negara berkembang di Afrika — jalannya pemerintahan diatur oleh pusat, pemerintah lokal tidak mempunyai otonomi layaknya di Indonesia. Dari segi jumlah penduduk, jenis kegiatan, sasaran dan anggaran, biasanya jauh lebih “sederhana” dibandingkan dengan proyek-proyek di Indonesia.

Yang agak susah adalah bagaimana menjelaskan kualifikasi pekerja dari Indonesia bisa bersaing dengan negara maju lainnya. Sebagian besar pekerja di bidang pembangunan yang saya temui belum pernah ke Asia Tengara, apalagi Indonesia. Mereka terkadang masih mempunyai pola pikir kolonial — bahwa pembangunan berkelanjutan adalah upaya satu arah dari negara maju (baca: Inggris, Amerika Serikat, dan Skandiavia) untuk negara berkembang (baca: Asia dan Afrika). Sehingga, apabila ada pekerja dengan pengalaman bertahun-tahun yang berasal dari Asia Tenggara pindah ke Inggris, kualifikasi mereka dianggap tidak sepadan dengan pekerja dari Inggris yang hanya pernah ikut program magang selama 6 bulan di Thailand! Hal inilah yang terkadang membuat geregetan.

Apakah anda mempunyai pengalaman selama mencari kerja di Inggris atau negara maju lainnya? Silahkan berkomentar untuk berbagi cerita.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.