Indonesia, Sosial Media, dan Lahirnya para Mufassir Bermuka Dua

Saksikanlah wahai kawan
Kelahiran para mufassir instan

Mereka tetiba mengatakan ulama dulu menafsir dengan kolot
Walaupun diri mereka sendiri belum mengerti ilmu lughot

Mereka tetiba menjadi fasih dalam menafsir ayat
Walaupun mungkin kacau dalam ilmu qira’at

Mereka inovatif dalam membuat tafsir baru
Walau mereka tak kenal ilmu nahwu

Mereka menafsir sesuai keinginan dan permintaan
Walau tak pernah khatam ilmu bayaan

Mereka membaca Al-Qur’an saja masih senin kamis
Ditambah lagi tak pernah mengaji ilmu hadits

Mereka datang ke majelis Ilmu saja rasanya kaki perih
Malah mengambil istinbath hukum tanpa mengaji ilmu Fiqih

Wahai Para mufassir bermuka dua
Siapakah yang hendak engkau bela ?
Allah dan RasulNya ?
atau Dunia dan seisinya ?

Wahai para Mufassir bermuka dua
tak malukah engkau dengan HAMKA ?
bahkan beliau menyelesaikan tafsirnya dipenjara
bukan di tengah-tengah kenikmatan dunia

Wahai para Muffasir bermuka dua
bertaubatlah sebelum ajalmu tiba didepan mata
ikutilah jalan Rasul dan sahabatnya
bukan hawa nafsu dan keindahan semu dunia ..

- Abu Hamizan Rudy Rahadian -
11 Muharram 1438H