Peserta kongres pemuda II | id.wikipedia.org/wiki/Sumpah_Pemuda

Mungkin Lebih Baik Indonesia Tidak Merdeka

Surat untuk Pemuda Indonesia

Rizky Syaiful
Jul 6, 2013 · 7 min read

Bukti Sejarah
Degup semangat sahut-menyahut dalam malam di sebuah tempat megah: gedung FK UI, saat itu bernama STOVIA. Tempat anak Jawa —priyayi atau bukan — bisa mendapatkan pendidikan ‘dual-degree’, serta ikatan dinas seumur hidup mereka: diploma di Batavia, satu tahun sekolah lanjut di Belanda, sebuah gelar dokter Eropa, lalu kembali untuk mengobati buruh-buruh sakit di Sumatra Timur. Pemicu kehebohan malam itu adalah seorang tua, almamater STOVIA yang sudah pensiun jadi dokter, bernama Wahidin Soedirohoesodo. Beliau berkeliling Batavia, menggalang dana beasiswa pendidikan. Beliau punya sebuah gagasan.

Aksi dan gagasan Dr. Wahidin memicu Soetomo, yang masih menjadi mahasiswa STOVIA, mendeklarasikan Budi Utomo — organisasi gaya Barat pertama yang didirikan oleh orang Nusantara. 20 Mei 1908, pukul sembilan pagi, bertempat di salah satu ruang belajar STOVIA, pertama kali digaungkan: “ada di tangan kita, nasib bangsa dan tanah air ini”. Meski didirikan oleh mahasiswa, dan atas gagasan seorang pensiunan dokter, kepemimpinan Budi Utomo diserahkan kepada para priyayi keraton.

Dr. Soetomo

Sebagaimana dialog dua generasi pada zaman yang berubah, para calon dokter muda itu menuntut lebih dari apa yang ditawarkan. Oktober 1908, kaum muda sepakat dalam kongres, untuk Budi Utomo yang lebih dari sekedar mengurus beasiswa dan merawat kebudayaan. Politik ternyata bukan jalan yang direstui para tetua. Ide itu terhempas.

Budi Utomo: fokus pada pendidikan dan kebudayaan, non-politik, non-nasionalisme & masih Jawa-sentris

Kelak, memilih keluar dari Budi Utomo dua mahasiswa STOVIA itu: Cipto Mangunkusumo, yang menaruh lencana penghargaan Belanda di pantat; dan Suwardi Suryoningrat, yang terang-terangan menyindir perayaan 100 kemerdekaan Belanda dari Napoleon Bonaparte di tanah Nusantara. Mereka bersama dengan Douwes Dekker, seorang Indo bernenek Jawa, mendirikan Indische Partij. Partai multi-etnis berisi orang Indo dan bumiputra. Saat itu, baru partai tersebut yang terang-terangan menuntut kemerdekaan dari pemerintah Belanda. Bagi mereka, beasiswa & pemerataan pendidikan tiada berarti jika secara politik tidak merdeka.

Di tempat lain di zaman yang sama, Samanhudi mendirikan Serikat Dagang Islam. Bermula dari upaya untuk meningkatkan daya saing pedagang non-keturunan-Tionghoa akan pedagang keturunan Tionghoa yang sengaja lebih didukung Belanda. Tiga dari lima anggaran dasar tersebut berbau peningkatan karakter kewirausahaan, baru sisanya berbau keislaman. Salah satu anggarannya berbunyi: “Memajukan pengajaran dan semua usaha yang mempercepat naiknya derajat rakyat”. Pendidikan, karakter, laku-hidup, menjadi prioritas.

Pendiri Sarikat Dagang Islam. Butir anggaran organisasinya terlihat lebih ‘dagang’ daripada ‘islam’.

Sebagaimana semangat zaman yang menggelora saat itu, kemudi pergerakan sebenarnya agak searah. 1912, tujuh tahun setelah didirikan, H.O.S. Cokroaminoto menghilangkan ‘dagang’. SDI menjadi Sarikat Islam. Perkembangan SDI memang pesat, cabangnya bermunculan dan merangkul anggota multi suku dan etnis. Di tengah kondisi penjajahan, organisasi yang bisa merangkul dan menyatukan banyak bumiputra tentu memiliki potensi politis yang kuat.

1928, dua puluh tahun setelah berdiri Budi Utomo, tiga tahun setelah Tan Malaka menerbitkan “Menuju Republik Indonesia”, terjadi hal yang jauh lebih indah. Di gedung pondokan pelajar bernama Indonesische Clubgebouw, berkumpul organsasi pemuda dari segala penjuru Nusantara: Java, Soematranen, Bataks, Islamieten, Celebes, Ambon, Betawi, dll.

Tidak banyak yang tahu, pemuda-pemuda Tionghoa juga hadir dalam acara tersebut. Wakil Jong Soematranen Bond sendiri adalah Kwee Thiam Hiong. Bahkan pemilik gedung pondokan tempat kongres tersebut adalah Sie Kok Liong. Di tempat lain, 6 tahun setelahnya, AR Baswedan menghimpun pemuda Nusantara keturunan Arab untuk juga bersumpah bertanah air di tempat kelahiran mereka.

Tidak banyak yang tahu, ada hal lain yang tidak kalah besar selain sumpah pemuda yang melegenda itu. Bahasan hari terakhir kongres justru adalah pentingnya pendidikan anak yang demokratis, sesuai minat, dan dekat pada kebangsaan. Juga dibahas pentingnya kepanduan, yang mampu mengajarkan disiplin dan kemandirian.

Kongres Pemuda II. Tempat Kelahirannya Sumpah Pemuda.

Jikalau kita napak tilas jauh ke belakang. Tujuh abad sebelumnya, ada sumpah lain. Dari sebuah kerajaan, seseorang bersumpah berpuasa dari kenikmatan duniawi selama belum berhasil menyatukan Nusantara. Sayang, tidak ditemukan nilai luhur di sana. Kemungkinan besar sumpahnya murni agresi politik.

Tujuan Yang Sebenarnya
Hampir semua gerakan kemerdekaan, dan mungkin gerakan perubahaan pada umumnya, bermula pada bagian terpenting dari peradaban: manusia itu sendiri. Bila akhir dari cita-cita politik zaman kolonialisasi adalah pemerintah dari dan untuk bangsa sendiri. Maka cita-cita membangun budaya bangsa Indonesia berujung pada termanusiakannya manusia Indonesia. Sebuah perjalanan yang lebih sulit, terjal, dan panjang.

Lalu apa itu manusia yang termanusiakan? Sebuah diskusi filosofis yang melelahkan bisa jadi jawabannya. Tapi setidaknya, Mas Wahidin beranggapan, adalah manusia yang bisa bebas terlahir dari kaum apa saja, namun tetap memiliki kesempatan untuk mengenyam pendidikan. Bagi Samanhudi, adalah manusia yang mudah mendapat akses pada pengajaran dan segala usaha untuk menaikan derajatnya. Juga yang berkarakter wirausaha. Menurut pemuda angkatan 1928, adalah yang mendapatkan pendidikan yang demokratis, sesuai dengan yang dia minati, ditambah dengan kepanduan yang menghantar kepada gaya hidup yang disiplin dan mandiri.

Bagi bangsa Jerman di abad 17 & 18, hal ini mungkin senada dengan Bildung. Sebuah gerakan kebudayaan yang mengangkat kesadaran bahwa termanusiakannya seseorang adalah pada pertumbuhan intelektualitas, moral, estetika, dan kebebasannya. Bergerak ke ranah yang lebih ilmiah. Mungkin ‘termanusiakan’ itu ada di puncak piramida Maslow. Manusia yang sepenuhnya berorientasi pada aktualisasi karena telah terpenuhi semua kebutuhan-kebutuhan dasarnya. Mungkin ‘termanusiakan’ berarti mampu menghayati Kaidah Emas, dasar moralitas untuk memperlakukan orang lain sebagaimana dirinya di posisi orang tersebut. Mungkin ‘termanusiakan’ itu adalah ‘tumbuh di negara yang telah memenuhi keadilan sosial bagi seluruh rakyatnya’.

Piramida Maslow

Masalah
Jika terdapatlah dua pilihan imajiner. Yang satu adalah Indonesia yang merdeka secara politis, namun berpuluh tahun gagal memanusiakan rakyatnya. Dan yang satu lagi adalah Indonesia yang tidak merdeka secara politis, namun berhasil memberikan kesempatan bagi seluruh rakyatnya untuk terus tumbuh berkembang dan mengaktualisasikan dirinya. Manakah yang akan kita pilih?

Sebelumnya kita sering mendengar istilah ‘mengisi kemerdekaan’. Timbul pertanyaan, apakah memang ‘merdeka’ itu yang utama? Yang perlu selalu dikenang untuk seterusnya diisi? Memang, tidak perlu diragukan lagi manfaat-manfaat yang dibawa dari deklarasi kemerdekaan republik ini. Tapi apakah hanya ‘negara’ tujuan utama bangsa ini?

Adalah sebuah fakta sejarah, bahwa cita-cita luhur memanusiakan rakyat Nusantara lebih dulu ada, dan justru menjadi penyebab munculnya cita-cita kemerdekaan. Juga dengan fakta bahwa cita-cita pertama tersebut jauh lebih sulit dan panjang untuk diwujudkan. Mungkin bisa ditarik kesimpulan: cita-cita merdeka hanyalah sub-bagian dari cita-cita memanusiakan rakyat Nusantara, sebuah batu loncatan kecil.

Pendirian negara-bangsa adalah awal dari kerja keras panjang untuk tujuan yang lebih luhur, besar, dan mendasar, bahkan dari lepasnya belenggu kolonialisme itu sendiri. Negara dan segala keperangkatannya hanyalah kendaraan atau jalan.

Kali ini mari kita bertanya pada diri. Sudahkah kita bawa negara-bangsa ini mendekati cita-cita luhur tersebut? Atau malah menjauhkannya? Dan kita tidak hanya bicara Jakarta, tapi juga di ujung Sabang, Merauke, Papua.

Jangankan bicara tentang menunaikan cita-cita luhur memanusiakan manusia. Menjalankan negara secara sehat dan wajar saja kita masih tertatih-tatih. Sungguh. Terkutuklah para koruptor dan politikus kotor di sudut-sudut pemerintahan dan perusahaan. Arwah pejuang dan jiwa-jiwa anak-cucu kita nanti akan terus mendoakan yang terburuk untuk kalian. Kisah sebuah negara besar, yang defisit stok negarawan.

Di akar rumput, tempat kita semua berada sekarang, kita kehilangan keramah-tamahan kita yang dulu terkenal. Pergilah berkendara di Jakarta, khususnya di saat padat. Akan kita lihat; mungkin kitalah makhluk bar-bar jalanan itu. Dengan segala sumpah serapah, tempramen, dan keringan-tanganannya.

Apakah percuma kita merdeka?

Koruptor yang menyamar untuk kabur.

Harapan
Hampir satu abad setelah didengungkan cita-cita luhur itu di tanah Nusantara. Anies Baswedan, cucu dari AR Baswedan, bergerak menghimpun sarjana Indonesia untuk membantu mengajar dan memberi inspirasi ke pojok-pojok Nusantara. Saptuari, pengusaha di Jogja, menghimpun dana dari rakyat dan menyalurkannya ke anak-anak miskin atau terlantar yang terlahir dengan cacat atau penyakit berat. Seolah-olah menyindir pemerintah yang kesulitan memenuhi tugas dan janji mereka sendiri. Kini, rakyat dari akar rumput yang bergerak. Sebagaimana yang dicontohkan para leluhur yang telah mengenalkan cita-cita luhur.

Semangat ‘swalayan’ ini sebenarnya juga berlaku ke diri kita masing-masing. Diri kita adalah satu-satunya manusia bisa kita kontrol. Sudahkah kita menggerakan diri menjadi pribadi yang mewujudkan dan mencontohkan cita-cita luhur tersebut? Sudahkah kita memanusiakan diri kita? Apa saja yang kita lakukan agar kita bisa beraktualisasi penuh di puncak piramida Maslow? Sebagai mahasiswa, sub-kelas rakyat Indonesia yang amat beruntung, apa saja yang kita lakukan untuk menghabiskan waktu?

DOTA?

Konon katanya, satu abad yang lalu, di setiap malam di asrama, mahasiswa STOVIA menunaikan ritual mereka: menyanyikan lagu revolusi Prancis dengan berkobar-kobar. Sepenggal liriknya berbunyi “Kita lawan tirani!”.

Lalu apa tirani yang akan kita hadapi duhai mahasiswa zaman ini? Sebenar-benarnya tirani, yang membuat bangsa ini kesulitan memanusiakan manusianya, bahkan setelah menjadi tuan di tanah sendiri.

Yang membuat merdeka kita ini terasa sia-sia.

Rizky Syaiful,
yang sempat buat proyek keren (Wikikandidat)bersama mahasiswa.

Depok, 27 Mei 2012

Indonesia Raya!

Pandangan Rizky Syaiful tentang Indonesia. Mungkin Aneh. Pasti Penuh Cinta.

Rizky Syaiful

Written by

Spreading world-class innovation practices to +62 through Tiga Pilar Agile & Learn.AgileCampus.org | Husband of Nurul Bahirah | Father of Amtar Philosophy.

Indonesia Raya!

Pandangan Rizky Syaiful tentang Indonesia. Mungkin Aneh. Pasti Penuh Cinta.

More From Medium

Top on Medium

Ed Yong
Mar 25 · 22 min read

17.3K

Top on Medium

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade