supersaiaz
Jan 18, 2017 · 4 min read

“Kabar gombal adu kera yang ngibul belaka”

I am not responsible for what you read on the internet — Anonymous

Sadar atau tidak, kita sedang berada dalam war zone — perang informasi, di dunia maya. Socmed bukan lagi selayaknya sebagai sarana bersosialita tapi menjadi portal berita. Mulai dari isu politik sampai isu sara. Kalimat terakhir ini yang paling sensitif, soalnya kaitannya sama kaidah iman.

Propaganda.

Salah nggak? Sebenernya nggak juga. Dalam perang jaman dulu — selagi masih merebut teritorial — perang informasi memang sudah ada. Propaganda, adalah suatu hal yang biasa dalam dunia militer dan politik. Propaganda bisa apa saja dan bebas, tergantung kebutuhannya. Mau terima syukur nggak ya juga ngga apa apa, namanya juga propaganda. Sudah banyak sampel propaganda seperti holocaust — nya Nazi atau Weapons of mass destruction — Nya Irak.

Dalam perang propaganda bertugas melumpuhkan penalaran. Sejak jaman dulu, hal tersebut biasanya ampuh. — supersaiaz.

Saiber wor, katanya.

Lebih mengarah ke upaya untuk mempertahankan dan mengganggu hal yang berkaitan dengan transmisi elektronik. Dalam hal ini berkaitan dengan “algoritma code”, saya menyebutnya.

Mungkin kalian ada yang sudah pernah menonton filmnya Arnold Schwarzenegger yang judulnya Terminator : Rise of The Machines, atau Salt — nya Angelina Jolie, kurang lebih seperti itu. Bayangkan kalau kita bisa meretas sistem, sebut saja nuklir balistik suatu negara kemudian memanipulasinya? Bisa untuk kita setel menyerang negara lain atau yang lebih ekstrem, dijual di Deep web. Mengerikan bukan? Tenang, sejauh ini itu semua masih dalam film. Tapi tidak menutup kemungkinan bisa jadi di masa yang akan datang perang justru lewat dunia maya, saling meretas.

We’ve gona from the cold war to the code war. — Thomas Waite.

Psychological Operations

Belum, kita belum masuk ketahapan itu. Kita masih pada jalur Psychological Operations, yang bertujuan untuk meresahkan dan merutuhkan keyakinan sesorang. Why should the psychology of the subject? Karena pada saat membaca, orang lebih mudah mengalami depolarisasi.

If you read a story on the internet and it’s being wrong, who’s to blame?

And what about the propaganda on the internet — means such as social media and others? Buat yang pro, mungkin biasa saja tapi buat yang kontra? Ya, minimal sakit mata.

Saya bukan memberi saran atau masukan, tapi lebih bijak dan cerdas dalam mengolah suatu kabar berita bukanlah sesuatu yang buruk. Apalagi yang menyangkut isu politik dan sara, too sensitive..

Kalian yang aktif di dunia maya, pastinya mengerti. Sudah berapa kali menerima broadcast message soal server bbm penuh? Atau kalau tidak mengirimkan pesan berantai maka kematian akan menghantui? Itu baru contoh kecil dari beberapa hoax yang sering kita temui, sekarang lebih massive lagi. Tentunya dengan konten yang lebih aktual dan disertai link sumber.

Seperti yang pernah dibilang oleh Anonymous, I am not responsible for what you read on the internet..

“Nggak konvensional, cuma biar dibilang anti mainstream dan nggak ikutan status quo” — mindset kebanyakan orang sekarang.

Menarik. Sayangnya banyak dari teman teman saya yang tangannya suka iseng nge-share. Mereka lebih suka itu karena cuma satu kali klik, dibanding kroscek lebih dulu yang mesti berkali-kali klik.

Dahsyat bukan? Now is not a Weapons of mass Destruction but Weapons of mass Disruption. — Supersaiaz.

“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang seorang yang fasik kepadamu membawa berita, maka tangguhkanlah (hingga kamu mengetahui kebenarannya) agar tidak menyebabkan kaum berada dalam kebodohan (kehancuran) sehingga kamu menyesal terhadap apa yang kamu lakukan” QS. Al-Hujurat : 06.

So, biasakan jangan asal nge-klik aja, baca dulu, kroscek dulu, bener atau nggak. Jangan sampai karena kebetulan “pro” terus bisa dengan gampang klik & share.. Mending kalo cuma hoax, kalo phishing? Contohnya akun socmed teman saya, yang lalu disalahgunakan.

Last.. In the free society like this era, saya — kamu, bebas untuk berfikir tentang apa saja. Tapi informasi yang kita terima seharusnya adalah kebenaran, karena informasi adalah order sekuens dari simbol atau penafsiran. Kalau informasi yang kita terima saja sudah salah, maka dalam hal apapun bakal terjadi banyak distrorsi alias ngaco! Kalau sudah begitu, siapa yang dirugi dan untungkan?

Jadi inget kata temen saya, Satya pernah bilang begini ; jadi siapa yang ditipu nih, mereka yang ditipu, kita yang tertipu, kamu yang tertipu atau bagimana?

Be a smart, guys.

supersaiaz

Indonesian Articles

Semua artikel tentang apa saja yang berbahasa Indonesia

supersaiaz

Written by

We have stories to tell, stories that provide wisdom about the journey of life.

Indonesian Articles

Semua artikel tentang apa saja yang berbahasa Indonesia

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade