Tentang Hujan di Sabtu Senja

Sekarang, malam semakin dalam dan hujan semakin deras..

Kupasrahkan diri ini terhadap malam yang ingin mengajak bercengkrama. Ditemani kopi dan beberapa batang rokok, setelah selesai sholat isya dan membaca yasin – untuk mama, rasanya jiwa ini “minta” untuk ditenangkan.

Semua suasana yang tampak itu tak layak disandingkan dengan pengertian apapun tentunya, walau hal itu layaknya perjalanan hidup manusia di saat sedang tertatih menghadapi beragam masalah namun timbul kerinduan yang datang perlahan..

Anakku sedang asyik bersama mamahnya didepan televisi.

Kupandangi setiap sisi disekitarku, rasanya setiap sudut mengingatkan aku akan mama yang telah tiada.

Ma, apa kabarnya kamu disana.. Aku kangen mama..

Semenit kemudian, suasananya jadi sentimentil. Apa yang kulihat perlahan memudar, perasaan ini terasa getir.

Rasanya rumah ini sepi tanpamu.

Aku tahu, bukan hanya aku yang merasa kehilanganmu. Tapi hati ini rasanya tak menentu apabila mengingatmu.

Hujan semakin deras.

Demi asap rokok yang kuhisap dan kemudian kehembuskan, bayangan mama seakan ikut melayang bersamanya. Aku semakin terjerumus kedalam jurang yang terdalam, perasaan ini makin tak menentu.

Ku minum secangkir kopi yang mulai hilang panasnya secara perlahan. Tak bisa lagi kubendung rindu ini kepadamu mama..

Aku merindukan mu..

supersaiaz

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.