Surga dan Neraka di Pilkada DKI

Pilkada DKI tahun ini sungguh luar biasa, menyita begitu banyak waktu dan tenaga. Satu hal yang menurut saya ‘unik’ adalah ketika momentum Pilkada bisa menentukan orang masuk surga atau neraka?

Masih belum paham?

Surga neraka itu hak prerogative Tuhan sepenuhnya. Tapi jikalau kita mau mengkaji, ada banyak ditemukan riwayat tentang urusan surga dan neraka justru dari hal yang sepintas terlihat sepele — tapi orang tidak paham (awam).

Dalam kitab-kitab Islam klasik misalnya ditemukan riwayat ;

  • Ada seorang pelacur yang masuk surga hanya karena menolong seekor anjing yang kehausan.
  • Atau lelaki yang masuk neraka hanya karena dia mengorbankan seekor lalat untuk berhala demi melindungi jiwanya yang terancam.
  • Atau penjahat yang sudah membunuh seratus orang menjadi diampuni dosa-dosanya padahal dia baru dalam perjalanan untuk menemui seorang ulama untuk belajar bagaimana caranya bertobat.

Dan ternyata memang di dalam Al Qur’an banyak dijelaskan bahwa surga nerakanya seseorang lebih banyak ditentukan oleh PEMIHAKANNYA daripada KEYAKINANNYA.

Kalo soal meyakini Tuhan sebagai maha pencipta, pemelihara dan pengatur kehidupan, itu orang-orang kafir juga mengakuinya.

Tapi kemana pemihakannya?

Kembali ke urusan politik, Al Qur’an juga bicara tentang hal tersebut. Hanya saja disitu disebutkan bahwa partai itu hanya ada dua, yaitu Hizbullah atau saya menyebutnya partainya Allah dan Hizbussyaithan yang sebaliknya, partainya setan.

Masalahnya adalah, bagaimana dengan partai politik yang berlandaskan islam di negeri ini? Apakah sudah benar-benar berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa di jalan Allah? Atau memfokuskan aktivitas dan kehidupan untuk meraih kemenangan akhirat, yaitu kerdhaan Allah dan masuk syuga Allah.

Siapa yang bisa jamin dari semua tujuan partai adalah benar-benar tulus dan bersih dari cela? Saya berbicara tentang tujuan perorangan, maksudnya siapa yang berjuang dengan harta dan jiwanya, bukan malah memperkaya diri lewat jalur politik? Karena meskipun mayoritas pendukungnya bersih, tapi kalau ada satu orang yang ‘kotor’ maka gugurlah niat mulia partai tersebut.

Dan dijelaskan bahwa walaupun aqidah seseorang adalah mu’min, tetapi jika dia berpihak kepada Hizbussyaithan, maka mereka dianggap sama dengan orang MURTAD (munafik).

We’ll never know..

Dari situ saya tidak pernah berniat menakar kualitas kekafiran orang lain, karena sejujurnya saya sendiri masih malu untuk mengaku sebagai muslim.

Saya tidak menuduh siapapun, bermotif untuk memojokan, untuk membenarkan apalagi menyalahkan. Apalagi men-judge orang sudah pasti kafir, masuk neraka, golongan sesat.

Bukan, bukan itu. Tapi mungkin kalian bisa liat ini..

“Janganlah Anda (Muhammad) menyalati seseorang yang mati di antara mereka (orang-orang munafik) selama-lamanya dan janganlah Anda berdiri (mendoakan) di atas kuburnya. Sesungguhnya mereka itu membangkang (kufur) kepada Allah dan Rasul-Nya, dan mereka mati dalam keadaan fasik”. QS At-Taubah : 84.

Buat awam, yang mungkin kurang belajar mengaji pasti ayat tersebut akan langsung diartikan secara explisit. Padahal, seruan kepada Allah dalam ayat tersebut dimaksudkan untuk Nabi Muhammad SAW, bukan kita sebagai manusia biasa. Karena hanya Nabi dan orang-orang pilihan Allah SWT yang bisa mengetahui apakah orang itu benar munafik jikalau telah mengucap dua kalimat syahadat. Itulah yang terjadi ketika kita mengartikan ayat suci Al Qur’an dengan ‘dipotong’.

Berikut penjelasan dari KH Imam Ghazali Said, MA soal ayat tersebut.

Ayat Alquran surat At-Taubah (84) turun karena Abdullah bin Ubay bin Salul memohon kepada Rasul agar berkenan memberikan baju gamis beliau sebagai kafan Ubay sekaligus menyalati jenazahnya.

Perlu diketahui, Ubay bin Salul itu adalah pemimpin orang-orang munafik di Madinah. Abdullah adalah orang mukmin dan sahabat Nabi, anak Ubay yang munafik tersebut.

Dijelaskan sebelumnya bahwa Ubay bin Salul adalah pemimpin orang-orang munafik di Madinah. Sementara Abdullah adalah orang mukmin dan sahabat Nabi. Dia adalah anak Ubay yang munafik itu.

Yang tahu bahwa Ubay bin Salul munafik hanya Rasul dan beberapa sahabat saja. Karena Rasul tahu Ubay munafik, maka beliau dilarang Allah menyalati dan mendoakannya saat mati.

Tapi anehnya, setelah ayat itu turun, Rasul tidak melarang para sahabat dan anak-anaknya menyalati Ubay.

Dengan begitu, larangan menyalati dan mendoakan jenazah munafik itu hanya berlaku bagi kaum muslimin yang betul-betul tahu dan yakin bahwa jenazah itu mati dalam keadaan kafir atau munafik.

Bagi ‘saya’, tentu sulit mengetahui dengan yakin apakah orang yang sudah berikrar dua kalimah syahadat, tetapi dalam kehidupan sehari-harinya tidak atau jarang salat bisa dikatakan kafir atau munafik.

Sayyidina Umar bin Khatab pun tidak tahu siapa di antara sahabat itu yang munafik. Di antara sahabat Nabi yang punya ilmu rahasia mengetahui bahwa seseorang itu munafik yaitu Hudzaifah bin al-Yaman ra.

Kendati demikian, dia hanya meyakini munafik, tetapi dia tidak mengajak orang lain untuk meyakini dan bertindak seperti dirinya. Umar hanya mengikuti tindakan Hudzaifah untuk tidak menyalati. Ia juga tidak melarang orang lain yang mau menyalati.

Lalu bagaimana ‘meyakini’ orang tersebut munafik?

Rasul SAW bersabda :

Tanda munafik itu tiga, jika bicara bohong, jika berjanji tidak menepati, dan jika diberi kepercayaan khianat”. (HR. Bukhari-Muslim)

Tapi, ini tanda yang tidak selalu menjadi realita dan fakta bagi orang lain. Seharusnya, lebih tanda-tanda munafik tersebut menjadi bahan koreksi bagi diri kita masing-masing, bukan untuk menuduh orang lain munafik, sedang diri sendiri merasa muslim yang paling suci dan benar.

Back to up..

Sudah sedemikian dekadensi moral kah politikus kita? Yang tega mengadu domba rakyatnya demi sebuah jabatan yang hanya sementara?

Banyak orang beragama tapi lupa ber Tuhan. Sibuk mengkaji hukum & tata cara, sibuk menggali perbedaan bukan persamaan sampai keblinger dan lupa esensi agama adalah ‘perdamaian’.

Dengan dalih menegakkan hukum Tuhan di muka bumi, malah menebar kekacauan, keresahan, bahkan kematian, merasa berhak mencabut nyawa orang lain ‘mengkerdilkan’ Tuhan dengan berlagak menjadi Tuhan.

Sampai pada satu titik mereka tanpa sadar telah menuhankan agama dan meberhalakan teks-teks suci. Padahal puncak dari agama adalah nilai-nilai kemanusiaan, selain beriman dan beribadah kepada Tuhan. Kita semua pasti mengerti Habluminallah dan Habluminannas, lalu dimana posisi kita?

Endingnya, ada menganggap yang tidak sependapat adalah munafik,kafir, padahal dalam islam sendiri saja begitu banyak perbedaan fiqih dan para ulama tidak mempermasalahkan asalkan belum menyangkut akidah.

Saya tidak mau agama dijadikan alat komoditas politik, yang masih belum jelas perjuangannya.

Saya juga bukan panitia hari kiamat, bukan pula juri yg bisa memutuskan surga nerakanya seseorang. Mana berani saya men-judge orang sambil nunjuk hidung.

“Dan janganlah kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan ”salam” kepadamu, “Kamu bukan seorang yang beriman,” (lalu kamu membunuhnya) (QS. Al-Nisa : 94).
“Jika ada seseorang yang melemparkan tuduhan fasiq dan kafir kepada orang lain, dan ternyata tuduhan itu tidak benar, maka tuduhan itu akan kembali kepada dirinya” (HR. Al-Bukhari).

Masih belum yakin?

Yang tidak meyakini surga neraka, atau yang menganggapnya sebagai urusan yang sepele; atau berani bermain-main di tepi jurang neraka dengan penuh percaya diri tanpa khawatir terperosok, atau orang-orang yang merasa bakal cukup kuat untuk mendebat para malaikat nantinya.

Demikian juga dengan ‘permainan’ aqidah dalam politik Pilkada. Siapa yang berteriak dan siapa bersalah, bagi saya bukan soal.

Disonansi kognitif kebanyakan menjadi pilihan karena orang lebih milih mengikuti ketakutan mereka atas kekurangan ilmu, atau bahkan tidak percaya bahwa Tuhan maha adil dan mereka yang berteriak tangkap penista agama yang paling benar..

Wallahu’alam bishawab..

Telah masyhur di kalangan ulama Islam satu prinsip dalam agama, yaitu bila ada ucapan seseorang yang mengarah kepada kekufuran dari seratus penjuru, dan mengandung kemungkinan iman dari satu arah, maka diperlakukan iman didahulukan, dan tidak boleh dihukumi kafir. — Syeikh Muhammad Abduh, Ulama Al-Azhar.

supersaiaz #supersaiaz

Show your support

Clapping shows how much you appreciated supersaiaz’s story.