Anak Anda Obesitas? Bisa Jadi Ini Penyebabnya

Pertengahan tahun ini media banyak mengangkat kisah Arya Permana, bocah 10 tahun dari Desa Cipurwasari, Kecamatan Tegalwaru, Karawang. Ia menjadi sorotan media karena berat badannya yang jauh melebihi anak seumurannya.

Arya menderita kegemukan atau obesitas. Ketika berat rata-rata anak seumurannya adalah 39 kilogram, berat Arya malah mencapai 140.

Akibat kondisi yang ia alami, Arya tak sanggup melakukan aktivitas fisik. Ia tidak sanggup lagi berjalan ke sekolah karena merasa sesak saat berjalan.

Kondisi yang dialami Arya dapat memperngaruhi perkembangan mentalnya. Penelitian University College London (UCL) menyebutkan obesitas pada anak terkait dengan perkembangan mental yang lamban. Jika tidak diatasi hal ini dapat berlanjut hingga masa remaja bahkan dewasa.

Dampak dari hal tersebut adalah anak akan merasa rendah diri, tidak bahagia, bahkan mencari pelarian pada tindakan-tindakan beresiko seperti merokok atau mengonsumsi alkohol.

Penelitian yang dilakukan UCL menunjukkan faktor utama pemicu obesitas pada anak adalah kebiasaan merokok ibu saat hamil, melewatkan sarapan, dan waktu tidur yang tidak teratur atau kurang tidur.

Hasil penelitian yang diterbitkan di jurnal Pediatrics bulan edisi November 2016 itu dilakukan pada anak dari 19.244 keluarga di Inggris yang lahir antara September 2000 dan Januari 2002. Para peneliti mengambil data berat dan tinggi anak pada usia 3, 5, 7, dan 11 untuk mengukur indeks berat ideal anak di 10 tahun pertama.

Penelitian yang melibatkan ribuan anak itu menemukan beberapa gaya hidup yang memicu kegemukan pada anak. Profesor Yvonne Kelly dari bagian Epidemologi dan Kesehatan Masyarakat UCL mengatakan selama ini masyarakat menganggap kelebihan berat badan pada anak diturunkan dari ibunya yang juga menderita obesitas atau karena adanya kecenderungan genetik kelebihan berat badan.

“Penelitian menunjukkan gangguan terhadap rutinitas seperti pola tidur yang tidak teratur atau melewatkan sarapan dapat memicu kenaikan berat badan karena nafsu makan anak naik dan mereka akan mengonsumsi banyak makanan padat energi,” kata Kelly seperti dilansir dari UCL News.

Sementara itu pengaruh merokok pada masa kehamilan terhadap kelebihan berat pada anak yang dilahirkan kemungkinan karena pengaruh tembakau pada janin yang berdampak pada koordinasi motorik bayi sehingga dapat memicu meningkatnya indeks berat ideal.

Penelitian itu juga melihat faktor-faktor lain yang berpeluang mempengaruhi berat badan anak.

Mereka menemukan bahwa pola pemberian air susu ibu maupun pengenalan makanan padat yang terlalu dini tidak memiliki pengaruh pada kelebihan berat anak. Sama halnya dengan konsumsi minuman bergula, asupan buah-buahan, kebiasaan menonton televisi maupun partisipasi dalam kegiatan olahraga ternyata bukan penyebab kelebihan berat badan pada anak.


Jika anda menyukai artikel ini, silahkan menekan tombol hati kecil di bawah. Dengan cara itu artikel ini lebih mudah ditemukan pembaca lain yang bisa berguna untuk mereka.