13 66 98 4

Foto rumah keluarga penulis di Denpasar. Di sini kakek penulis berbicara dengan anggota ormas Pemuda Banteng yang mencari salah seorang karyawannya untuk “dibon”.

Tiga belas

Film Jagal yang saya tonton di bulan Juli tahun 2013, diakhiri dengan kredit film yang berlatar belakang hitam dan senyap. Nama-nama Barat yang terpampang dengan gagah disambung dengan rentetan kata-kata yang mengalir dengan pelannya.

Anonim

Anonim

Anonim

Anonim

Dan seterusnya.

Nama-nama Indonesia yang tidak bisa disebut.

Dari semua adegan mencekam yang ditayangkan, saya anggap ini bagian dari film yang paling memilukan. Bahwa intimidasi dan rasa takut masih terpelihara secara rapih sampai saat ini.

Diluar bioskop saya berpapasan dengan Joshua Oppenheimer, sutradara film Jagal. Beliau baru saja selesai mengadakan sesi tanya jawab mengenai filmnya yang saya hadiri. Perkenalan singkat saya disambut beliau dengan sebuah pertanyaan yang diutarakan dengan bahasa Indonesia.

“Apakah kamu keluarga korban ?”

Enam enam

Ayah saya lahir di Bali, di akhir zaman revolusi. Beliau adalah bagian dari keluarga Tionghoa yang sudah dari tahun 1920’an bermukim di Bali. Kakek buyut saya, yang saya panggil Kongco menjalankan usaha pabrik es. Waktu saya tanyakan perihal tragedi 65 kepada Ayah, ternyata beliau mempunyai cerita yang saya belum pernah dengar. Beliau mengingat di awal tahun 1966, rumah beliau di Denpasar didatangi oleh tetangga kami. Ketukan di pintu di rumah keluarga kami di Denpasar dijawab oleh Kongco. Setelah dibuka, ternyata berdiri sosok seorang pemuda Bali berkasta ningrat yang beliau kenal dengan baik. Selain bertetangga, ayah sang pemuda adalah teman Kongco bermain ceki dan beradu ayam. Sang pemuda juga anggota ormas Pemuda Banteng.

Dengan santun sang tetangga menyampaikan kabar.

Gondji akan dibon.

Sebagai seorang mandor yang sudah sejak remaja bekerja di pabrik es, Gondji adalah salah satu pegawai kepercayaan Kongco. Waktu dikabarkan oleh sang tetangga, Gondji sudah lama tidak masuk kerja. Beliau sudah hilang. Dosanya? Dia anggota SOBSI (Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia) PKI.

Sekali di zaman revolusi Gondji pernah diselamatkan Kongco. Suatu hari, Gondji seorang pejuang muda, lututnya luka ditembak Belanda dan diburu oleh mereka. Dalam keadaan gawat itu, Kongco menyembuyikan Gondji dibawah salah satu mesin pabrik es dan dirawat sampai sembuh. Namun sayang tampaknya kali ini beliau tak berdaya untuk menyelamatkan Gondji kedua kalinya.

Kongco hanya bisa menjawab, “Blih, kalau bisa tolong jangan digorok.”

“Baik. Akan kami tembak saja.” Sahut sang tetangga.

Gondji pada waktu itu kira-kira umurnya 50 tahun, dan sudah berkeluarga.

Kabarnya pembunuhan masal yang terjadi di Bali, per kapita penduduknya melebihi jumlah yang dibunuh pemerintahan rezim Khmer Merah di Kamboja, akhir tahun 70’an

Sembilan delapan

Memikirkan kembali cerita ayah. Saya mencoba membayangkan histeria yang berlangsung waktu itu. Membayangkan bagaimana suatu tragedi yang sangat menyeluruh di dalam waktu yang singkat dan di tempat yang berbeda-beda. Namun mungkin saya sendiri pernah mengalaminya.

Sembilan delapan adalah angka yang keramat bagi saya. Di bulan Mei 98 saya yang waktu itu bersekolah di luar negeri menyaksikan jatuhnya rezim orde baru. Semua itu saya saksikan dari jauh, lewat layar televisi ataupun telepon. Namun sayang, meskipun secara geografis saya jauh, rasa takut dan teror tidak mengenal batas geografis. Ayah saya yang bermukim di Jakarta telah menyiapkan sebuah koper kecil yang diisi dengan surat-surat penting dan kebutuhan pokok. Siaga kalau sampai ada keributan beliau bisa dengan cepat menyelamatkan diri. Beberapa dari kawan-kawan saya rumah dan tempat usaha keluarganya dirampok dan dibakar. Belum lagi kisah-kisah gila mengenai pemerkosaan dan pembunuhan.

Saat itu, kami Tionghoa. Kami target. Terjadi di tahun 65. Diulang lagi di tahun 98.

Empat

Empat tahun setelah Joshua bertanya kepada saya, saya ingin mengajak kawan-kawan yang lain untuk ikut bertanya kepada diri sendiri. Apakah anda korban ?

Dengan bertanya saya mengharapkan ada proses berpikir yang dimulai. Proses bertanya yang kita lakukan bersama saya harapkan bisa mendekatkan kita kepada sebuah titik dimana kita bisa berdamai dengan masa lalu.

Saya merasa impunitas bukanlah hal yang biasa dan tidaklah pantas menjadi kebiasaan.