Bagaimana 1965 menitipkan senyap pada masa kecil saya


Ibu saya lahir 31 Desember 1966. Awal tahun 1966 pembantaian sistematis terhadap kelompok kiri di Indonesia sampai ke Bali. Nenek mengandung Ibu saya dalam ketakutan dan fisik yang hancur lebur. Kakek saya yang kabarnya berbau politik kiri menghilang ketika penangkapan-penangkapan terjadi.
Stress yang hebat yang dialami nenek saya menyebabkan ibu saya lahir dan tumbuh dengan gangguan mental. Waktu kecil, sebelum saya mengetahui bagaimana kekerasan 1965–1966 memengaruhi kehidupan keluarga saya, saya sering membenci ibu yang telah susah payah sudah melahirkan saya.
Menjadi anak ibu saya, ada satu kata yang bisa menggambarkan bagian masa kecil saya: senyap.
Penyakit jiwa Ibu saya begitu unik. Ia sangat terganggu dengan beberapa jenis suara dan bisa memercik amuk darinya. Waktu kecil, sesudah matahari terbenam, saya harus harus diam tanpa suara
Tapi, bagian senyap dari masa kecil saya yang penuh warna membuat saya jatuh cinta pada kisah-kisah tahun 1965–1966; tentang bagaimana dan mengapa pembantaian terhadap semua yang terkait dengan Partai Komunis Indonesia terjadi ketika itu.
Menurut saya, tidak hanya hal-hal indah seperti bunga melati, matahari terbenam, dan padang rumput yang bebas yang bisa menjadi pemicu manusia jatuh cinta. Namun suasana yang senyap (seperti judul film ke dua Joshua Oppenheimer) juga mampu membuat manusia macam saya jatuh cinta. Saya cinta pada sejarah 1965.
Saya lahir di Batubulan, sebuah desa di Gianyar Bali. Desa ini berada di tengah masyarakat yang kental dengan adat istiadat yang nampak indah, terbingkai dengan suasana hingar bingar industri pariwisata.
Di tengah ramainya pariwisata, saya tumbuh dalam suasana senyap, karena Ibu saya terganggu dengan suara-suara yang tidak bisa ia lihat sumbernya.
Saya ingat waktu kecil, ketika keadaan ekonomi keluarga kami carut marut, ada tetangga yang menghidupkan radio, kaset atau sejenisnya, yang samar- samar terdengar oleh ibu, dan ibu mengamuk. Jika ibu tidak melihat sumber suara, maka perlahan ia akan panik, gelisah, lalu mengamuk, seperti akan dibunuh. Ia akan lari berputar-putar di halaman rumah sambil berteriak dan memaki tanpa tujuan. Ibu kemudian akan hilang kesadaran, lidahnya kaku, mulutnya mengeluarkan banyak air liur hingga nampak seperti busa. Kadang berakhir di rumah sakit.
Jika ibu masuk rumah sakit, sanak saudara sejenak akan menemani saya di rumah. Sesudah suasana tenang, saya sering sendirian. Ditemani lampu minyak tanah, rasanya gelap dan senyap. Tanpa ada aliran listrik saya menghayal atau bermain bayangan tangan di dinding sampai tertidur dan lupa apa yang terjadi.
Tidak hanya suara kaset dan radio tetangga yang bisa membuat ibu mengamuk. Ia juga terganggu dengan suara pesawat terbang dan suara orang mengobrol yang tidak terlihat olehnya.
Pernah, suatu malam saya tidak sengaja mengusir rasa bosan dengan membenturkan kaki ke tembok dan menimbulkan bunyi pelan. Ibu kalut. Dalam gelap ibu menyeret saya ke luar rumah. Saya menangis kencang, diikuti ibu yang menangis kencang juga. Setelah semua tangis reda, ibu menghampiri dan memeluk kaki saya meminta maaf. Tapi esok, kejadian sama akan terulang, sampai tetangga bosan dan kadang mencibir. Dan wajar, karena saya dan ayah sering datang menggangu kesenangan mereka mendengar radio.
Dulu, saya iri mendengar cerita teman-teman yang masa kecilnya dipenuhi musik atau lagu-lagu hits pada zamannya. Saya tidak mengalami itu bahkan ketika listrik sudah terpasang. Mulai jam 7 malam, kami harus diam, dan rumah senyap, tanpa suara. Saya menghibur diri dengan mengkhayal dan membaca seadanya.
Pernah suatu malam saya haus. Saya jalan ke dapur mengambil air dan tidak sengaja menjatuhkan gelas. Suaranya membangunkan ibu. Seperti biasa ibu mengamuk. Tapi episode kali ini lebih menakutkan. Ia mengambil pecahan gelas dan berkata mau membunuh saya, lalu akan bunuh diri. Saya menangis menjerit membuat ibu berlari menjauh. Kemudian lakon yang sama dimulai. Ibu berlari berputar di pekarangan, lidahnya kaku lalu roboh dan pingsan.
Tapi jika sedang santai ibu seperti ibu kebanyakan yang menyayangi anaknya. Hanya saja, kalau saya atau bapak membuatnya marah, walau sepele dia akan memaki dan membentak. Beberapa barang akan hancur berserakan.
Dengan keadaan seperti itu, sedari kecil saya suka menginap, agar bisa bersuara di malam hari atau sekedar mendengar bunyi-bunyian. Saya paling sering menginap di rumah nenek dari ibu, atau kakek dari ayah, seorang duda tua yang tinggal di gubuk sebuah tegalan. Ia mengisi hari dengan kidung, membaca lontar dan menyurat lontar. Sementara nenek dari ibu sering bercerita tentang masa lalu yang tak berterima di dirinya.
Kakek sering mendongeng mitos seperti I lutung, Mahabrata, Cakra Birawa. Dari semua cerita kakek masa itu, cerita yang saya paling suka ialah Pan Balang Tamak karena cerita ini sangat membumi. Ceritanya tentang seorang rakyat yang menghadapi masyarakatnya dengan cara yang cerdik dan cenderung licik.
Dari kebiasaan mendengarkan dongeng kakek dan cerita kemarahan nenek, saya mulai mencari sebab kondisi ibu saya.
Belakangan saya tahu mengenai kekerasan yang terjadi di tahun 1966 di Bali. Nenek bercerita sesudah kakek menghilang, nenek yang sedang mengandung janin ibu saya, tinggal sendiri bersama anak pertamanya. Ia tinggal di atas tegalan sungai beralaskan daun pisang dan jerami seadanya.
Di malam hari ia melihat di seberang sungai asap membumbung tinggi dari rumah-rumah yang dibakar di banjar seberang di mana banyak anggota PKI tinggal.
Dalam keadaan hamil dan lapar, nenek kenyang akan berita mengerikan tentang anggota PKI yang dibantai di lapangan desa, di pasar atau di jalan. Malam hari di gubuknya, nenek tidak pernah tenang. Suara daun yang tertimpa angin terdengar olehnya seperti suara tameng yang akan datang membelah mengeluarkan isi perutnya.
Dalam penderitaannya, nenek mengandung janin ibu saya. Sesudah ibu saya lahir, kakek pun pulang dari persembunyiannya.
Masa kecil ibu sangat miris. Ekonomi kacau. Saudara nyaris tak ada.
Ayahnya stress dan sering mengamuk.
Menurut nenek, karena tinggal di kawasan sungai, sesuai kepercayaan di Bali, mereka harus menyajikan banyak sesajen pada makhluk halus yang tidak terlihat. Pulang sekolah sampai matahari terbenam ibu saya menghabiskan waktunya mempersiapkan sesajen, ada hampir seribu canang dan segehan dibutuhkan setiap hari. Kakek kadang tiba tiba mengamuk dan menghancurkan sesajen yang sudah dipersiapkan berjam jam. Ibu harus mengerjakan ulang sampai tengah malam dengan perut lapar dan kaki gemetar.
Selain gangguan jiwa, ibu saya menderita maag kronis. Rutinitasnya membuat ibu tidak naik kelas dan teman-teman di sekolah mengoloknya sebagai anak PKI.
Banyak cerita di luar logika dari nenek dan ibu saya. Mereka bilang, gangguan dari makhluk halus sangat nyata. Baju-baju sekolah hilang ditemukan rapi di goa di sungai, ratusan anak-anak merah memenuhi halaman rumah ketika menjelang malam, dan banyak lagi cerita di luar logika dari nenek dan ibu saya.
Saya mengambil kesimpulan, masalah kejiwaan ibu akibat ibu saya disakiti atau di “amah liak “ oleh rezim Orde Baru.
Penelitian menunjukkan stress yang berat pada ibu hamil bisa menyebabkan anaknya mengidap schizophrenia.
Keadaan ibu saya saat ini sudah jauh lebih baik walau belum sembuh total. Seiring keadaan ekonomi membaik, ada waktu dan dana sekedar liburan ke pantai atau ke pasar malam.
Berangkat dari pengalaman masa kecil yang mendapat sentuhan “magis” Orde Baru, bila membicarakan sejarah 1965, saya sepakat pada pandangan yang mengatakan “sebuah masyarakat yang enggan mempelajari dan memahami sejarahnya akan dikutuk untuk mengulanginya”. Itu yang menjadi titik awal kenapa saya tertarik dengan sejarah 65. Tragedi itu bagai setan yang hidup di dalam tubuh ibu saya, setan itu bernama “trauma Orde Baru”.
Cinta saya pada sejarah 1965 tidak akan pernah padam. Saya yakin sejarah 1965 belum selesai. Dan seperti cinta saya pada ibu saya, sejarah itu tidak layak untuk dikubur.
Kekerasan yang terjadi di tahun 1965 sebelum ibu saya lahir, mampu dengan buas memberi pengaruh besar pada hidup ibu, dan saya yang lahir 24 tahun setelahnya. Banyak orang telah lupa dengan kekerasan di masa itu atau termakan propaganda anti-komunisme Orde Baru tentang 1965 yang menciptakan stigma pada korban. Kekerasan tersebut telah meninggalkan trauma pada nenek dan ibu saya, dan merenggut hak-hak dasar saya sebagai seorang anak.
Dengan ukuran itu, menurut saya di tahun 1965 tidak saja terjadi pembantaian manusia, tapi juga awal rekayasa sejarah oleh penguasa pasca 1965. Ini menjadi titik awal pembantaian nilai nilai kemanusiaan, filsafat, semangat berbangsa dan menjadi manusia dengan ribuan kaitan di dalamnya.
Tragedi ini perlu diungkap. Korban-korbannya perlu dipulihkan. Dan bukan hanya korban manusia dan keluarganya yang perlu dipulihkan, nilai filsafat filsafat kiri juga perlu kembali menjadi legal untuk dipelajari di negara demokrasi ini.
Pasca 1965, saya rasa bangsa ini menjadi pincang dan mati gaya. Negara ini menjadikan komunisme hantu tanpa memahami bentuknya.
Apa yang harus negara indonesia lakukan menyangkut tragedi 65? Melihat apa yang terjadi tahun lalu, di lima puluh tahun pembantaian 65, negara tidak berani meminta maaf secara resmi pada korban pembantaian 65 atau orang yang mengaku ikut terlibat dalam pembantaian dianggap pahlawan, suara kecil di kepala saya bertanya, “Apa lagi yang mampu dilakukan negara mati gaya ini?”.
Banyak negara komunis yang mati gaya juga. Saya bermimpi dengan demokrasi kita kelak kita akan tumbuh menjadi negara dengan pemahaman dari berbagai filsafat, tanpa beban dosa masa lalu. Terlebih lagi tragedi macam 1965 tidak akan pernah terulang kembali.