Catatan kecil untuk merawat ingatan dari Timor

Kupang (Photo: Robert Tyabji/Flickr, CC BY-NC-ND 2.0)

Apa yang kamu ketahui dari peristiwa di tahun 1965? Saya akan menjawab: Partai Komunis Indonesia (PKI) membunuh para jenderal dan membuangnya ke sumur Lubang Buaya. PKI adalah pembangkang dan pemberontak.

Ya. Jawaban itu saya dapati dalam buku-buku sejarah saat Sekolah Dasar dulu. Dan apa lagi yang harus diingat di tahun itu? Bagaimana dengan pembunuhan keji lebih dari 500.000 warga negara Indonesia saat itu? Tidak ada.

Begitulah pemahaman saya waktu itu.

Saya perempuan kelahiran 1992, tinggal di Kupang, Nusa Tenggara Timur. Selama tujuh belas tahun mengeyam pendidikan, saya tak peduli dengan persoalan sejarah.

Tumbuh dalam keluarga dengan budaya patriarki yang kental, membuat saya merasa tak perlu mengurusi hal-hal di luar aturan yang telah ditentukan: Sekolah dan menjadi Pegawai Negeri Sipil.

Semuanya berubah sejak saya bergabung dalam organisasi perempuan progresif, Aksi Perempuan Indonesia (API) Kartini. Ketertarikan saya terhadap peristiwa 1965 dimulai saat saya belajar tentang sejarah gerakan perempuan yang termasuk di dalamnya adalah Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani).

Gerwani yang memiliki garis perjuangan sama dengan PKI turut mendapat imbas dari peristiwa tersebut. Mereka dituduh memegang dan memotong kemaluan para jenderal.

Media yang seharusnya netral kini menjadi alat untuk menunjukkan kekuasaan suatu pihak. Sangat jelas terlihat bagaimana Surat Kabar Berita Yudha dan Angkatan Bersendjata menggambarkan keterlibatan Gerwani. PKI pun menjadi dalang utama peristiwa 1965.

Sejak saat itu saya awas dengan segala perkembangan tentang peristiwa 1965.

Perkara pelurusan sejarah dan minta maaf

Termasuk mengamati perkembangan Indonesia akhir-akhir ini yang belakangan diributkan dengan ketakutan masa lalu akan bangkitnya hantu komunis. Festival buku kiri dan gambar palu arit semacamnya menjadi momok kebencian mendalam pihak-pihak tertentu. Komunis akan dikaitkan dengan Atheis.

Saya kemudian berpikir: Bagaimana nasib keyakinan lokal yang ada di daerah-daerah? Sungguh, Indonesia yang dulu sangat anti-kolonialisme sekarang berganti menjadi anti-komunisme.

Sementara itu, telah banyak buku beredar menceritakan tentang kisah pilu genosida 1965 dilihat dari perspektif korban, saksi, maupun pelaku. Para tahanan politik, baik mereka yang secara aktif terlibat dalam PKI atau mereka yang di-PKI-kan sudah sangat tua, bahkan sebagian sudah meninggal.

Tapi itu ternyata tidak cukup.

Segala stigma baik secara struktural maupun kultural telah membuat sikap kritis terhadap kekuasaan nyaris mati. Ditambah, sikap pemerintah yang terkesan tidak peduli dengan peristwa ini.

Kemudian berbagai pertanyaan muncul dalam kepala saya dan membuat saya hampir gila. “Sudahkah kita meminta maaf, mengaku, dan meluruskan kebenaran sejarah?”

Apa yang dimaksud dengan pengakuan dan pelurusan kebenaran sejarah?

Penggalian tentang kebenaran sejarah 1965 harus sampai pada titik di mana adanya pengakuan bahwa pada tahun 1965 telah benar terjadi suatu tindak kekerasan dan pelanggaran hak asasi manusia yang massif.

Karena pelanggaran HAM berat yang telah dilakukan oleh bangsa ini tidak saja mendatangkan trauma bagi para korban dan keluarga namun juga seluruh masyarakat Indonesia. Pengakuan ini merupakan langkah awal untuk penyembuhan luka-luka masa lalu demi rekonsiliasi sosial.

Pemahaman akan sejarah hari ini akan membentuk masa depan bangsa kemudian. Kita tak dapat melanggengkan kekerasan dan penyiksaan yang pernah dilakukan oleh bangsa ini. Para korban yang dengan kerelaan berusaha melepaskan masa lalu dan menghilangkan dendam.

Mencoba menceritakan kembali apa yang telah mereka alami dulu merupakan bentuk dari upaya penyembuhan trauma. Dan tugas kita semua untuk menciptakan suatu kondisi kehidupan bersama yang lebih baik lagi. Indonesia harus mampu berdamai dengan dirinya sendiri.

Kamu Pilih Yang Mana?

Saya sebagai anak bangsa yang mengkonsumsi dengan lahap sejarah yang salah tentu merasa prihatin. Masih banyak anak muda di luar sana yang tidak peduli dengan peristiwa ini. Termasuk di Pulau Timor, tempat saya tinggal.

Kita masih hidup dalam bayangan orde baru; segala bentuk ketidakadilan dan pembungkaman aspirasi masyarakat masih menunjukkan bahwa sisa-sisa orde baru tumbuh dengan subur.

Ketakutan yang berlebihan terhadap isu komunis membuat kita tidak mampu berdamai dengan diri kita sendiri.

Menulis tentang genosida 1965 merupakan perjuangan yang panjang. Berbagai narasi akan terus dikumpulkan dan upaya rekonsiliasi akan terus dijalankan. Anak-cucu kita harus mengetahui kebenaran sejarahnya.

Tentu saja tulisan ini hanyalah pengantar untuk tulisan saya lainnya tentang Ingat65. Karena dengan menulis seperti ini, saya dapat merawat dan meneruskan ingatan.

Jadi bagaimana dengan kamu?