Coretan Hati dari Melbourne untuk Opung di Surga

Rindu. Kangen. Itu yang sering aku rasakan semenjak Opung pergi 17 tahun yang lalu.. Aku percaya Opung di tempat yang terbaik sekarang bersama kekasih jiwaku: Yesus. Namun, rindu itu masih ada.

Ketika mengingat tulisan tanganmu dalam surat-suratmu yang Opung kirimkan ke SMA-ku yang sayangnya kini tidak lagi tersisa karena dimakan rayap, aku mengingat sapaanmu “How are you?” Darimulah aku pertama kali belajar bahasa Inggris dan mengajariku arti menuntut ilmu setinggi-tingginya. Ketika aku pulang kampung pada liburan sekolah atau Natal, aku akan berlari mencarimu agar Opung bisa mengecek raporku yang untungnya selalu mendapat nilai bagus.

Kaus lengan pendek putih, ikat pinggang, dan celana panjang cokelat, gambaran itu yang sering muncul di kala aku merindukanmu. Satu hal lagi yang aku rindukan tentangmu adalah ketika pengunjung sepi, Opung duduk menekur membaca surat kabar Harian Sinar Indonesia Baru di warung kopi sederhana milikmu. Itu tertanam kuat dalam pikiranku. Ingin rasanya kembali ke masa-masa itu dan menanyakan banyak hal. Tidak hanya tentang hidup, tetapi pertanyaan yang menggelitik pikiran dan rasaku hingga saat ini.

“Opung, kata Bapak Opung pernah tidak pulang ketika Bapak masih kecil. Opung ke mana, di mana, dan kenapa?” Serta mungkin pertanyaan-pertanyaan lain yang muncul menyertai jawaban yang diberikan kepadaku.

Namun, kamu sudah pergi ke tempat yang aku percayai, suatu saat nanti, juga akan kutuju dan kembali bertemu dengan Opung serta kekasih jiwaku. Sekarang tinggal kenangan akan dirimu dan pertanyaan menggunung di benakku.

Memori ini pun membawaku ke peristiwa G30S dan penangkapan-penangkapan tanpa alasan dan pembunuhan massal terhadap orang yang diduga anggota Partai Komunis Indonesia sesudahnya. Penangkapan dan pembunuhan itu tidak akan pernah bisa dibenarkan. Opung, kalau aku bisa bilang, adalah korban. Opung korban salah tuduhan dari orang-orang yang sampai sekarang tidak jelas siapa. Opung dituduh terlibat gerakan ini sampai suatu hari tentara datang untuk menangkap Opung. Untung Opung berhasil lari dan sampai tidak pulang ke rumah. Menurut pengakuan Bapak, peristiwa ini menimbulkan kenangan yang bisa aku katakan kelam dan menimbulkan kesusahan tersendiri bagi Bapak. Untunglah Opung bisa kembali berkumpul bersama Bapak.

Opung, sepenggal cerita ini bukanlah cerita keluarga kita seorang. Aku pikir masih ada banyak orang di luar sana yang memiliki kisah yang bersinggungan dengan peristiwa G30S dan kekerasan yang terjadi sesudahnya. Aku pernah mendengar cerita dari dua orang senior rekan kerjaku. Mereka tidak pernah berhenti mencari ayah mereka tercinta. Mereka menanti setitik terang di tengah kegelapan akan keberadaan ayah mereka. Bahkan mereka siap menerima berita terburuk, asalkan mereka tahu di mana ayah mereka berada.

Cerita ini ini dituturkan bukanlah untuk mengusik kenyamanan yang sudah tercipta atau menunjukkan cerita tentang keluargaku kepada khalayak ramai. BUKAN. Itu bukan maksudku. Aku hanya ingin menunjukkan ada memori yang terkubur dan layak diangkat untuk menunjukkan bahwa di negeri yang aku cintai ini pernah terjadi ketidakadilan dan pelanggaran hak asasi yang, berdasarkan cerita keluargaku, memisahkan anak dari ayahnya. Tulisan ini bukan hanya ekspresi perasaan sentimental semata, tetapi sesungguhnya ada kewajiban yang harus dituntut: kewajiban negara untuk meminta maaf kepada korban dan rakyatnya atas kesalahan di masa lalu.

Ini bukan untuk memperbaiki kesalahan yang sudah terjadi, tetapi demi memulihkan luka yang mungkin tidak akan bisa sembuh sepenuhnya, sekalipun kupikir ini mungkin akan bisa memulihkan banyak hati yang terluka akibat kehilangan orang-orang terkasih.

Marilah kita nantikan masa itu!

Melbourne, Agustus 2016