“Jangan nakal! Mau jadi anak PKI?!”

Penulis saat mudik ke Tuban, Jawa Timur, pada lebaran tahun 2016.

Namanya Winarno, saya biasa memanggilnya Nano. Dia adalah lelaki kecil yang selalu menghabiskan hari-harinya semasa duduk di sekolah dasar dengan murung dan menundukkan kepala.

Bukan salah Nano ketika harus terlahir sebagai anak eks tapol kelas B. Orang-orang di desa kami tahu tentang riwayat keluarganya. Tidak sulit mengingat kejadian tersebut, apalagi untuk sebuah desa kecil di Kabupaten Tuban, Jawa Timur.

Nano menjadi kiblat para orang tua di kala itu bagi anak-anak mereka yang rewel dan nakal. Padahal dia adalah sosok yang pendiam dan tergolong cerdas di kelas. Ibarat tubuh yang ditato permanen, tidak bisa hilang dengan mudah. Stereotipe itu melekat dan susah dihapus di benak sebagian besar orang.

“Jangan nakal kalau di sekolah. Mau jadi kayak Nano kamu? Anak PKI itu!”

Saya terlalu sering mendengarnya dari mulut orang-orang dewasa di sekitar kami. Bahkan, seorang guru pernah mengucapkannya secara lugas kepada kami yang masih duduk di kelas 2 Sekolah Dasar (SD).

Bagi Nano, ada dua tanggal yang paling dibenci dalam kehidupannya. Tanggal 30 September dan 1 Oktober. Dua tanggal yang selalu diharapkannya agar terhapus dalam kalender kehidupannya.

Ketika SD, secara otomatis, jika mendekati kedua tanggal itu tiba-tiba saja ingatan semua orang tertuju pada Nano. Anak kecil yang tidak tahu apa-apa tentang sejarah Bapak kandungnya sendiri.

Sekolah kami berhadapan dengan kantor kecamatan. Memasuki bulan Agustus hingga September, semua eks tapol yang ada di kecamatan kami dikumpulkan di kantor kecamatan. Itu agenda rutin.

Mereka akan diberikan semacam penyuluhan tentang nasionalisme dan Pedoman Penghayatan Pengamalan Pancasila. Pokoknya segala materi untuk penguatan nasionalisme agar mereka tidak membelot lagi ke paham yang dianggap kiri itu.

Dari halaman sekolah kami bisa terlihat jelas siapa saja yang duduk di sana, serta spanduk yang terpampang dengan huruf-huruf besar. Tentu saja Nano juga melihatnya jelas. Pemandangan itu hanya akan membuatnya menjadi pria yang pemurung dan jarang tersenyum.

Pernahkah terbayang dalam benak kalian? Melakukan dan melihat suatu hal yang dibenci dan itu terus berulang setiap tahun selama 6 tahun. Entahlah, ini mungkin tak dialami oleh semua orang. Tapi itulah yang terjadi.

Kewajiban menonton film G 30 S PKI setiap malam tanggal 30 September bagi saya, semakin tahun menjadi ritual yang menyedihkan dan membosankan. Itu berlangsung mulai saya kelas 1 hingga kelas 6 SD.

Pengalaman pertama saya menontonnya ketika masih duduk di kelas 1 SD. Tidak ada PR untuk membuat ringkasan, cukup melihat dari awal sampai akhir.

Karena esoknya, Ibu Guru akan menanyakan beberapa potongan filmnya secara acak. Pengalaman pertama itu sukses membuat saya ketakutan dan susah tidur.

Program pemerintah untuk membenci dan membuat takut pada monster yang bernama PKI sukses tertanam dalam jiwa saya sejak saat itu. Upacara bendera peringatan hari kesaktian pancasila pun tak luput atas doktrin-doktrin kebencian yang diucapkan oleh pembina upacara.

Tahun-tahun berikutnya, terlewati dengan penuh kebosanan dan tanda tanya. Tapi kita tidak boleh protes. Tidak boleh bertanya terlalu dalam. Bahkan untuk menggambarkan logonya saja, larangan keras.

Kalisat, Jember.

Pembelajaran khusus untuk bab ini hanya boleh berlangsung satu arah saja. Metode pembelajaran CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif) tidak berlaku khusus untuk ini. Jika siswa terlalu aktif, maka gurunya yang kurang memberikan gemblengan bahwa PKI itu jahat.

Saya adalah generasi yang tumbuh dan diajari untuk membenci suatu organisasi yang dianggap terlarang bernama PKI. Organisasi yang dalam film itu digambarkan sangat kejam.

Ketika kecil saya sempat berpikir, siapa yang membuat skenario film tersebut? Kenapa film ini harus dibuat berdarah-darah seperti itu dan wajib kami tonton setiap tahun? Sampai melekat dalam ingatan hingga saat ini. Jika ada meme beredar dengan kata-kata ‘darah itu merah, Jendral!’ saya yakin sekali jika yang membuatnya itu juga pernah melewati masa kecil seperti saya.

Tapi ada yang dilupakan pemerintah, tentang daya ingat seorang anak kecil yang didoktrin sedemikian rupa. Tanpa kejelasan yang pasti, benar tidaknya peristiwa itu terjadi, hingga menimbulkan tanda tanya di pikiran kecil mereka.

Pemerintah juga melupakan sebuah kemungkinan, bahwa pertanyaan-pertanyaan yang disimpan semasa kecil, terus dibawa dan dicari jawabannya kelak ketika mereka sudah besar.

Dengan membaca sebanyak-banyaknya buku dan bertemu orang-orang yang mau bercerita secara terbuka, mereka akhirnya menemukan jawabannya.

Lantas ketika sudah mengetahui semuanya secara jelas, apakah mereka akan diam saja dan menganggap ini semuanya selesai? Apakah cukup hanya dengan mencari tahu, kemudian gelisah itu habis? Tidak. Ada semacam perasaan bersalah, karena memendamnya bertahun-tahun.

Mereka yang sedari kecil bertanya, tumbuh menjadi orang-orang dewasa yang kritis. Pertanyaan-pertanyaan yang dulu tabu ditanyakan, kini beramai-ramai diungkapkan untuk mencari informasi yang benar. Yang tidak pernah kita ketahui secara pasti duduk permasalahannya seperti apa.

Orang-orang mulai gemar membicarakan peristiwa 65 dimanapun. Tanpa perasaan takut dan terang-terangan. Bahkan tanpa berbisik sedikitpun.

Suatu ketika, saya dan suami sedang makan di sebuah warung tahu lontong seberang telkom Kalisat, Jember. Dua orang lelaki berusia sekitar 70 tahun sedang bercakap tentang lokasi orang-orang PKI rapat sewaktu di Kalisat. Dalam suasana warung yang ramai, mereka berbicara tanpa kode sedikitpun.

Bagi saya, ini adalah sebuah keterbukaan yang luar biasa.

Namun, itu hanya dari sisi masyarakat yang melihat atau bahkan menjadi korban. Tapi keadaan akan berbeda jauh jika kita bicara pada pelaku atau keluarga yang dianggap simpatisan PKI, tentu keterbukaan adalah sesuatu yang sangat langka. Mengingat ketenangan kehidupan yang sudah mereka bangun di atas bayang-bayang sejarah kelam yang selama ini dikubur.

Sebagai seorang ibu rumah tangga biasa, saya merasa perlu membaca serta bertemu orang-orang yang mau menceritakan segalanya secara terbuka. Selain sebagai pencarian jawaban atas pertanyaan masa kecil yang belum terjawab, juga untuk mempersiapkan diri agar kelak ketika anak-anak saya nanti bertanya tentang peristiwa ini, saya tidak gagap dan menyembunyikan kebenarannya.

Berat rasanya, menikmati masa kecil dengan banyak pertanyaan dan simbolisasi konyol tahunan.

Tulisan ini saya buat, atas nama pertanyaan-pertanyaan masa kecil. Serta untuk mengenang sahabat kecil saya, Nano. Selepas SD hingga sekarang, kami sudah jarang berjumpa. Bertukar kabar lewat facebook pun sudah lewat beberapa tahun yang lalu. Saya hanya berharap, kini Nano hidup berbahagia dengan keluarganya.