Kakekku Pak Atjit, Musisi Idolaku

Foto diambil dari video Si Buyung — The Prison Songs (https://www.youtube.com/watch?v=axKWsh25GQU&t=26s)

Saya selalu tahu saya bisa menyanyi, tapi tidak pernah mengira bisa menulis lagu. Semua orang selalu mengira bahwa saya punya musikalitas tinggi karena ibu. Memang, saya lebih menguasai seni musik daripada pelajaran akademis. Awalnya, di usia 5 tahun, saya merasa bahwa bakat musik saya berasal dari keluarga ibu. Padahal kalau dipikir-pikir, ibu bahkan tidak bisa membaca not balok atau memainkan instrumen musik.

Sebelum ulang tahun ke-14, saya menemukan jawabannya. Itu tahun 2013, saya baru saja lulus SMP. Seperti biasa, tiap liburan panjang, seluruh keluarga berkumpul. Kebetulan, kala itu berkumpulnya di rumah kami di Purwokerto. Di situlah ayah bercerita tentang kakek untuk pertama kalinya. Semua keluarga ayah yang hadir pun ikut bercerita tentang almarhum kakek.

Saya tidak tahu banyak tentang kakek, karena jauh sebelum saya lahir, kakek sudah meninggal karena sakit. Hanya sebatas itu yang saya ketahui tentang kakek. Tak pernah terpikir bahwa nantinya, kakek akan jadi idola saya.

Taman 65 yang menguak sejarah kakek

Ayah mulai bercerita, bagaimana kakak tertua saya, mas Onky, menemukan sejarah kakek. Mas Onky dulu kuliah di Universitas Udayana Bali, dan ikut dalam berbagai komunitas. Salah satunya Taman 65.

Seperti saya, mas Onky juga sebelumnya tidak tahu banyak tentang kakek, sampai dia bergabung dengan teman-temannya di komunitas. Tanpa sengaja, ternyata kakak saya banyak mempelajari tentang alm. kakek di komunitasnya.

Alm. kakek saya adalah R. Amiruddin Tjitraprawira, dulu pernah menjadi kepala RRI di Kupang. Namun entah mengapa kakek menjadi korban tahanan politik (tapol) tahun 1965. Seingat ayah, sebelum kakek menjadi tapol, keluarga kami hidup sejahtera. Tidak lebih, tidak kurang, tapi cukup untuk anak-anak. Nenek sudah meninggal lebih dulu, kemudian kakek menikahi adiknya, nenek Galuh.

Tidak ada yang tahu hingga sekarang kenapa kakek dibawa oleh orang-orang berseragam. Bahkan saat itu, istri dan anak-anaknya pun tidak tahu kakek akan dibawa kemana. Menurut keluarga, tidak lama setelah keluar dari tahanan, kakek dipanggil Tuhan.

Singkat cerita, dari Taman 65-lah kakak saya berhasil bertemu dengan kawan-kawan kakek di tahanan. Mereka semua memanggil alm. dengan panggilan Pak Atjit. Waktu itu keluarga kami tinggal di Bali Jadi yang pertama bertemu dengan kawan-kawan kakek saat jadi tahanan adalah ayah. Betapa terharunya mereka bertemu dengan putra alm. Pak Atjit, kawan mereka selama menjadi tahanan tanpa sebab.

Mereka bercerita bahwa kakek gemar menulis lagu, salah satunya ‘Si Buyung’, yang dinyanyikan Man Angga (Nosstress) dalam Prison Songs. Lagu tersebut bercerita tentang sakitnya hati kakek yang melewatkan kelahiran putranya, om saya, karena ia ditahan. Si Buyung adalah doa-doa kakek untuk anaknya yang tidak ia adzankan saat lahir, dan mungkin tidak akan dia temui. Yang membuat saya menangis saat mendengar dan menulis cerita ini adalah bagaimana kawan-kawan kakek di tahanan masih ingat lirik dan nada lagu Si Buyung, dan menyanyikannya di depan Ayah, yang juga menangis saat itu.

Ada juga lagu yang kakek temukan liriknya di tembok sel, lalu ia tulis iramanya, seperti Tini dan Yanti yang dinyanyikan ulang oleh Banda Neira. Pertama kali mendengar Banda Neira menyanyikan lagu tersebut, perasaan saya campur aduk. Sedih karena membayangkan apa rasanya jadi kakek, serta nenek dan anak-anaknya yang harus terpisah dari Kakek. Namun juga senang karena karya-karya kakek akhirnya bisa didengarkan oleh generasi sekarang.

Sampai sekarang, saya selalu bergetar dan gugup saat harus menceritakan ulang hal ini kepada banyak orang. Tidak jarang saya dipanggil keturunan PKI atau anggota PKI; untungnya tidak jarang juga yang membela saya.

Keluarga saya sangat berharap agar seluruh tahanan politik dibersihkan namanya, supaya almarhum-almarhumah sepuh kami bisa beristirahat dengan tenang. Sejujurnya, saya sebagai generasi ke tiga korban tahanan politik 1965 sangat takut Orde Baru akan kembali lagi. Apa yang akan terjadi dengan kami? Apa kami akan bernasib sama dengan sesepuh kami?

Generasi muda harus bisa melihat peristiwa 1965 dengan pikiran yang lebih terbuka. Cari tahu fakta-fakta tentang 1965, dengarkan cerita para penyintas atau keluarga penyintas. Upaya Taman 65 mengangkat lagi cerita-cerita tahanan politik 1965 dan menyanyikan ulang lagu-lagu mereka agar generasi sekarang bisa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada masa itu, menurut saya gerakan sangat patut diapresiasi. Sejak awal, saya salut dengan mereka.

Saya sendiri belum terpikir untuk ikut menyanyikan lagu tapol 1965, atau menulis lagu soal itu. Untuk saat ini, bermusik dan menulis lagu masih jadi sekadar hobi bagi saya, untuk mengisi waktu luang. Tapi ke depan, siapa tahu?