Kehilangan yang tak pernah tuntas

Berikut adalah gambaran kondisi ruang di salah satu sudut kamar milik remaja Kalisat, era 1960an. Ketika itu sedang demam The Beatles. Demam ini disusul larangan — secara politis — untuk mendengarkan lagu-lagu yang (dianggap) melemahkan revolusi. Foto dari album keluarga Bapak Suki, warga Kalisat, Kabupaten Jember. Repro dari Sudut Kalisat di Facebook pada Oktober 2015.

Berapa orang dari kita menyadari bahwa keluarga kita punya cerita masing-masing tentang peristiwa 1965? Tidak banyak mungkin.

Sebagai generasi yang dilahirkan 20–30 tahun pasca tragedi 1965, saya dan kamu awalnya bahkan tak tahu menahu tentang apa itu peristiwa 1965.

Kita lebih memahami peristiwa 1965 sebagai peristiwa pembantaian jenderal-jenderal yang dikemas dalam jargon “G 30 S PKI”.

Padahal di peristiwa Gerakan 30 September 1965 yang menurut pemerintah saat itu diprakarsai oleh DN Aidit, tokoh utama Partai Komunis Indonesia saat itu, belum terbukti.

Pun buku sejarah terbitan orde baru tidak pernah mengungkap rangkaian peristiwa setelah tewasnya jenderal-jenderal tersebut. Apa itu? Sekitar 500.000 hingga satu juta orang dibantai, dipenjara tanpa diadili, sampai diasingkan di luar negeri karena dianggap sebagai anggota atau simpatisan Partai Komunis.

Saya sendiri juga awalnya tidak mengetahui tentang hal ini. Di buku-buku sejarah yang tercetak pada saat saya duduk di sekolah dasar dulu, hanya berisi propaganda-propaganda bahwa PKI adalah dalang peristiwa. Pun pengadilan dan penyelidikan tidak pernah dilakukan atas peristiwa tersebut.

Orang-orang Kalisat-Jember di medio 1950–1970an. Dokumentasi milik Njoo Studio Kalisat. Repro oleh admin Sudut Kalisat di Facebook, 2 Januari 2016, atas izin Om Bambang Hermanto.

Kurangnya informasi mengenai peristiwa 1965 tersebut, membuat saya pribadi ingin bertanya pada orang-orang tua di rumah.

Orang yang pertama kali saya tuju adalah nenek saya yang berusia 80 tahunan. Setiap menjelang tidur, biasanya nenek saya bercerita tentang hidup yang ia telah lalui selama zaman Belanda, Jepang, hingga pasca kemerdekaan, dan tahun 1965.

Nenek saya adalah buku sejarah yang menjelma menjadi manusia. Ia hidup ketika bangsa ini masih dijajah Belanda, Jepang, sampai dijajah bangsa sendiri (Baca: orde baru).

Lalu sampailah Nenek saya pada cerita tentang bagaimana kondisi di desa kami, Kalisat, Jember, sesaat setelah jenderal-jenderal itu dibantai entah oleh siapa.

Menurut penuturan nenek saya dan ibu saya, suasana di desa kami saat itu senyap. Kakek saya yang seorang anggota Partai Komunis mondar-mandir ke rumah tetangga. Lalu ia sempat menghilang dan kembali ke rumah.

Beberapa tetangga lainnya juga demikian.

Suatu hari, nenek saya berujar pada kakek saya. “Kamu pergi saja, menghilanglah,” katanya. Tapi kakek saya menolak. Ia ingin bersama istrinya dan anak-anaknya.

Lalu pada suatu pagi, saat Ibu saya sedang bersekolah, konon kata nenek saya, kakek saya dijemput oleh pria berseragam tentara.

Sehingga ketika Ibu saya tiba, ia tak lagi bisa berjumpa dengan pria yang selalu mengantarnya ke sekolah itu.

“Bapak kamu sudah enggak ada nak, mulai sekarang Ibu harus bekerja,” kata nenek saya pada Ibu saya yang masih duduk di kelas 2 Sekolah Dasar tersebut.

Ke mana kakek saya? Ditahan. Setelah itu, kami tak tahu.

Cerita tentang ini saya dengar setelah saya berkuliah di Universitas Airlangga, Surabaya.

Dari cerita keluarga, saya juga mengetahui banyak tetangga-tetangga kami yang ditahan di markas tentara tanpa diadili.

Semua yang berhubungan dengan kakek saya pun ditahan. “Semua yang pernah ikut merayakan ulang tahun Partai Komunis ditahan,” kata Ibu saya mengenang.

Padahal mereka yang berangkat ke ulang tahun itu, bukan hanya anggota, tapi juga seniman. Jadi teringat Nani Nurani, seorang penyanyi Istana yang ditahan karena pernah tampil di ulang tahun Partai Komunis.

Selain itu, saudara kakek, saudara nenek, tetangga, hampir semua yang dikenal dekat dengan kakek saya juga ditahan. Bahkan saudara kembar kakek saya juga ditahan. Beberapa dari mereka kemudian dibebaskan secara bertahap. Kecuali kakek saya.

Hari demi hari berlalu, tak ada kabar dari kakek saya. Tak ada keterangan dari pihak berwajib, ke mana dan diapakan tahanan-tahanan ini.

Tapi setelah peristiwa itu, ada seorang tentara yang sering mampir ke rumah nenek. Ia memberikan uang dan selimut pada keluarga kami. Lalu meminta maaf. Entah minta maaf untuk apa. Mungkinkah dia eksekutor kakek saya? Tidak ada yang pernah tahu dan ia juga tak pernah mengaku.

Namun penderitaan keluarga korban PKI ternyata bukan hanya kehilangan. Melainkan, pasca kehilangan. Keluarga kami dicap ‘PKI’.

Ayah saya yang kemudian menikah dengan Ibu saya itu pun, juga terkena imbas cap keluarga ‘PKI’. Di kantornya, ayah saya tak pernah mendapat promosi jabatan.

Setiap dua-tiga bulan, ayah saya harus diwawancara oleh tentara, nama programnya ‘Litsus’ atau penelitian khusus selama berpuluh tahun.

Nah, yang mungkin tak diketahui oleh generasi muda saat ini adalah, bahwa peristiwa kehilangan itu seperti limbo buat keluarga penyintas seperti kami. Karena kami tak tahu di mana keluarga kami ditahan. Bagaimana nasibnya? Sudah meninggal atau masih hidup? Kalaupun sudah meninggal, apakah tewas karena ditembak atau kerja paksa di Pulau Buru?

Jikalau pun kami kehilangan, kami tidak merasakan kehilangan yang tuntas, dalam hati kami masih berharap, suatu hari, ia kembali ke rumah kami. Mungkin kini umurnya sudah 80-an tahun. Diam-diam dalam hati kami berharap, ia masih hidup, hanya bersembunyi, dan suatu saat akan kembali.

Ibu saya pun hingga hari ini masih trauma. Ia sering bermimpi dikejar pria berparang sambil berteriak, “Anak PKI, bunuh!”

Sampai hari ini saya tidak tahu apa yang bisa saya lakukan untuk keluarga saya. Karena itu saya ingin bergabung dengan Ingat65.

Untuk teman-teman yang punya pengalaman yang sama dengan saya, mari berbagi cerita di Ingat65 :)

Ubud, 19 Februari 2016
Febriana Firdaus