Kenangan Ibu soal Kakek

Menurut cerita Ibu, kakek anggota aktif dari Partai Nasional Indonesia (PNI), salah satu partai tertua di Indonesia. Saya tak pernah melihat foto kakek. Foto di atas menunjukkan pendiri-pendiri partai. (Sumber: Wikimedia commons)

Saya tak pernah mengenal kakek. Bahkan, tak satu pun saya jumpai sosok kakek dalam foto-foto lawas yang tertinggal. Kakek sudah meninggal sejak Ibu duduk di kelas V Sekolah Dasar.

Saat masih kecil, kira-kira waktu saya duduk di bangku Sekolah Dasar, saya sempat bertanya pada Ibu, “Apa sebab kakek tiada?” Waktu itu Ibu menjawab bahwa penyakit yang menyebabkan kakek meninggal. Dan, saya tak lagi mempersoalkannya.

Memasuki masa awal saya kuliah, sekira 2011, saya bertanya kepada Ibu tentang peristiwa 65 yang banyak memakan korban itu. Saya beranggapan pastilah Ibu tahu. Pertanyaan ini bukan tanpa sebab. Suatu ketika, salah satu dosen di kelas mata kuliah yang saya ambil mengatakan bahwa terdapat distorsi sejarah pada peristiwa mengerikan itu. Terutama dalam buku-ajar sejarah di sekolah. Maka untuk mengonfirmasi hal tersebut, saya coba bertanya pada Ibu.

Ibu tak lantas menjawab pertanyaan saya. Dia terdiam sesaat, memandang jauh seolah mencoba kembali ke masa lalu yang lama tak ingin diingatnya. Ibu justru mengajukan pertanyaan, “Mengapa kamu bertanya soal itu?

Setelah saya menjelaskan alasannya, Ibu mulai bercerita. Dalam cerita Ibu, saya memang menemukan apa yang tak pernah saya baca dalam buku sejarah di sekolah. Ibu sempat menyaksikan orang-orang yang dibawa paksa dan disiksa. Hingga akhirnya Ibu pun mengatakan bahwa Kakek adalah salah satu orang yang meninggal — konon dibunuh — pada peristiwa itu. Dulu, ketika Ibu mengatakan kepada saya bahwa Kakek meninggal disebabkan sakit itu karena Ibu khawatir saya menjadi takut.

Pada tahun peristiwa keji itu terjadi, kakek menjabat sebagai Lurah di salah satu desa kecil di Jawa. Menurut cerita Ibu, kakek juga seorang anggota aktif dari Partai Nasional Indonesia (PNI), salah satu partai tertua di Indonesia. Ketika awal rangkaian peristiwa itu terjadi, Kakek beserta keluarga sempat mengungsi ke rumah salah satu kerabat. Ibu tak tahu persis alasan mereka mengungsi. Ibu mengatakan kurang lebih tiga bulan mereka tinggal di sana. Detik-detik terakhir perpisahan kakek dengan keluarga juga terjadi di rumah ini.

Rabu sekira pukul 15.00 wib — Ibu tak akan pernah lupa hari itu — sebuah mobil Jeep terparkir di depan rumah. Dari dalam mobil tersebut keluar seorang pria mengenakan seragam berwarna hijau, sementara dua orang lainnya berada di dalam mobil. Pria berseragam hijau itu mengajak Kakek pergi, katanya untuk melakukan “operasi” — menurut Ibu makna konotatif kata “operasi” ini merujuk pada kegiatan mencari orang-orang yang menjadi anggota PKI — bersama-sama. Kakek pun masuk ke dalam mobil bersama pria itu. Tapi Kakek tak kunjung pulang.

Keesokan harinya Nenek dan Ibu mendapat kabar bahwa Kakek sudah meninggal. Ada yang menginformasikan Kakek meninggal karena dibunuh. Kakek tak pernah kembali.

Kenangan Ibu tentang Kakek begitu kuat. Ibu tak pernah mengira Kakek akan pergi begitu cepat. Sambil tersenyum dan dengan mata berkaca-kaca, Ibu mengenang masa kecil bersama Kakek.

Kata Ibu, Kakek selalu menjemputnya ketika pulang sekolah. Setiap kali kenaikan kelas di sekolah, Kakek selalu memberikan hadiah istimewa: mengajak Ibu ke kebun binatang, potong rambut, terkadang membelikan baju baru, makan soto atau nasi opor. Berdua saja: Kakek dan Ibu. Bagi Ibu, itu adalah momen terindah yang dimilikinya bersama Kakek.

Setelah Kakek meninggal, hal itu tak lagi dirasakan Ibu.

Sebagai anak tertua dari tujuh bersaudara, Ibu harus membantu Nenek mencukupi kebutuhan keluarga. Akhirnya Ibu memutuskan berhenti sekolah. Ibu hanya punya ijazah Sekolah Dasar. Cita-cita melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi harus dia relakan pupus bersama derasnya tuntutan untuk terus bertahan hidup.

Penderitaan itu ternyata tak berhenti hanya di persoalan perut. Perlakuan diskriminatif dari pemerintah juga dialami oleh Ibu dan adik-adiknya. Jika hendak mengurus berkas-berkas administrasi di lembaga pemerintahan, mereka mengalami kesulitan. Bahkan Lurah di desa itu pernah berujar bahwa anak-anak Kakek saya akan sulit mendapatkan pekerjaan.

Konon, salah seorang paman saya sempat beradu mulut dengan Lurah tersebut karena merasa selalu dipersulit saat hendak mengurus berkas-berkas administrasi.

Ini tidak adil bagi kami. Kami masih terlalu kecil untuk tahu persis peristiwa apa yang sesungguhnya terjadi waktu itu. Mengapa kami (anak-anak Kakek) juga harus menanggung akibat atas kesalahan yang tak pernah kami lakukan?” tutur Ibu menjelaskan.

Stigma yang paling menyakitkan bagi Ibu justru datang dari Ayah saya sendiri. Pernah satu ketika Ayah dan Ibu larut dalam sebuah konflik rumah tangga. Menurut Ibu, dalam pertengkaran itu, dengan lantang Ayah meneriakinya, “Dasar anak PKI!!!

Ini adalah sebuah hal yang mengerikan. Betapa hebatnya narasi yang dibangun tentang keburukan PKI masuk hingga ke ruang privat: ke dalam relasi yang terjalin antara suami dan istri.

Jika berdasarkan cerita Ibu, Kakek adalah anggota PNI, bukan PKI. Dari penggalan cerita ini saya kira ada upaya generalisasi label bagi para korban yang meninggal saat itu: semua yang terbunuh adalah PKI.

Sekarang usia Ibu menginjak 64 tahun. Sering menjelang tidur, Ibu selalu cerita pada saya tentang kenangannya bersama Kakek. Tak jarang pula, dia mengulang cerita yang sama untuk kesekian kalinya. Saya pikir, Ibu menyimpan rindu yang teramat dalam pada Kakek. Kepergian Kakek menyisakan satu pertanyaan besar bagi Ibu saya hingga saat ini: Siapa orang yang membunuh Ayahnya?