Kenangan sebuah propaganda

Foto ‘blur’ saya, ayah dan kakak adik saya di monumen Pancasila Sakti. (Sumber: Pribadi)

Sejak kecil hingga beranjak dewasa, di setiap malam pada 30 September, jalanan di lingkungan tempat kami tinggal di pinggiran Jakarta akan berubah sepi. Hampir setiap orang, termasuk kami, dan juga teman-teman sekelas saya akan meluangkan waktu itu dengan keluarga masing-masing: merasakan ketakutan luar biasa menonton tayangan tahunan film G 30S/PKI.

Judul resmi film itu adalah Pengkhianatan G 30S/PKI dan ditayangkan oleh TVRI, stasiun TV milik pemerintah, selama 14 tahun berturut-turut sebelum dihapuskan pada 1998 sesudah Suharto dilengserkan dari kursi kekuasaan.

Film ini bercerita tentang Gerakan 30 September yang pada dini hari 1 Oktober 1965 menghabisi nyawa enam jenderal Angkatan Darat Indonesia dalam upaya melakukan kudeta yang kemudian digagalkan.

Pada realita, pada hari dan minggu sesudah peristiwa ini, pihak militer Indonesia menyalahkan PKI atas upaya kudeta ini. Tak lama sesudahnya terjadi pembantaian berdarah yang berakhir dengan tewasnya ratusan ribu orang yang dituduh sebagai komunis dan pendukung komunis. Bagian ini tak diceritakan dalam film yang panjang itu

Karena saya sudah menyaksikan film itu berulang kali selama bertahun-tahun, saya hapal betul adegan demi adegannya.

Saya ingat ketika salah satu jenderal akan mengancingkan seragamnya sementara istri sang jenderal memandanginya dengan raut wajah sedih; saya ingat dengan persis adegan ketika Ade Ima Suryani, putri kecil Jenderal AH Nasution akan tertembak; saya bahkan ingat juga adegan di mana seorang pria mengendus ketiaknya sendiri dan berpikir tidak ada orang yang melihatnya.

Film berdurasi empat jam lebih ini diproduksi pada 1984 oleh PPFN atas dasar permintaan rezim Orde Baru pimpinan Suharto untuk menjelaskan kepada masyarakat versi “resmi” peristiwa yang terjadi pada malam 30 September 1965 ini di Jakarta.

Disutradarai oleh salah satu sutradara Indonesia paling ternama, Arifin C. Noer, film yang menggambarkan para pendukung komunisme sebagai gembong haus darah yang bertekad untuk menghancurkan negara kesatuan Indonesia terbukti menjadi film propaganda paling sukses dalam sejarah Indonesia.

Bahkan buku sejarah sekolah saya menjabarkan versi peristiwa yang sama seperti yang ditampilkan di film. Meski film itu berisi fiksi dan fitnah terhadap Gerwani yang digambarkan terlibat menyiksa para jenderal.

Film tersebut menggambarkan negara yang terancam oleh kelompok komunis garis keras yang merancang pemberontakan untuk menggulingkan pemerintahan dan mengubah haluan negara menjadi komunisme.

Presiden Sukarno, yang fisiknya menjadi lemah akibat kondisi kesehatan yang memburuk, digambarkan terlalu lunak menghadapi para penganut kiri dan mendorong terjadinya pemberontakan tersebut.

Para komunis nyaris merampas Indonesia hingga seorang jenderal berparas tampan bernama Suharto mengambil inisiatif untuk merebut kembali negara ini dari cengkeraman para komunis yang keji dan tak bertuhan.

Saya ingat saya dulu menonton film itu dengan kakak dan adik saya setiap tahunnya.

Kami semua bersekolah di sekolah dasar yang sama dan hari berikutnya kami akan menulis laporan yang membahas film itu.

Propaganda Orde Baru bekerja memasuki kepala anak-anak saat itu. Sebagai murid yang baik, saya selalu mengikuti naskah yang sama, menulis bagaimana Suharto menyelamatkan bangsa ini dari kehancuran.

Bila saja saya tahu ada kisah-kisah penderitaan dan kekerasan di balik dongeng kepahlawanan Suharto, mungkin naskah yang saya tulis akan berbeda.

Ada banyak adegan dalam film itu yang membuat saya bermimpi buruk — perseteruan dengan senjata, lumuran darah, anggota keluarga yang meraung-raung ketika sang jenderal tewas dibunuh, juga cara mereka menyeret mayat-mayat untuk dimasukkan ke dalam lubang sempit yang dikenal dengan nama Lubang Buaya.

Namun, menonton film itu terasa tidak terlalu menakutkan ketika ayah saya, yang semasa hidupnya mengabdikan diri di Angkatan Udara, tidak sedang bertugas ke luar kota dan bisa menonton film itu bersama kami.

Tapi jika Ayah sedang bertugas, saya, kakak, dan adik akan duduk berdekatan, sambil bolak-balik menutupi mata kami dengan kedua tangan karena merasa ketakutan di malam yang mencekam itu.

Pada akhirnya, saya berhenti menonton film ketika saya lulus sekolah dasar, dan hanya menonton sesekali ketika saya duduk di bangku SMA, itu pun kalau saya sedang merasa ingin.

Sekarang, sesudah 20 tahun lebih sejak terakhir saya menonton film itu, ada kalanya saya semacam merindukannya. Mungkin terdengar konyol tapi saya terkadang merasakan dorongan kuat untuk menontonnya lagi.

Saya menemukan situs di internet yang menawarkan film itu untuk diunggah gratis dan saya nyaris tergoda sampai saya menyadari bahwa sebenarnya bukan filmnya yang saya rindukan.

Yang saya rindukan adalah kenangan yang dirasakan oleh saya ketika bersama keluarga saya.

Kakak dan adik saya sekarang sudah menikah dan memiliki keluarga sendiri tetapi saya sekarang menyadari betapa saya ingin kami bertiga kembali duduk berhimpitan di sofa memakai piyama satu kali lagi, merasa ketakutan dan menemukan rasa nyaman dalam kebersamaan.

Dan tentu saja saya kangen mendapati mendiang ayah berada di dekat kami untuk membuat kami merasa aman.

Ketika saya menonton film itu sekarang, tanpa mereka di sisi saya, akan membuat retorika dan propaganda dalam film itu terasa jauh lebih kosong.