Kumpulan video testimoni penulis Ingat65

Bulan Desember lalu, Ingat65 meluncurkan kampanye video testimoni sembilan penulis Ingat65

“Ceritaku Ceritamu Cerita Kita Tentang 65”

Untuk isu tragedi 1965 penting untuk generasi yang lahir sesudah tahun 1965 ikut bercerita mengenai bagaimana periode tersebut memengaruhi kami. Lagipula, kami mewarisi budaya kekerasan tersebut hingga saat ini. Fobia ideologi politik kiri, impunitas terhadap kekerasan militer, hingga lemahnya masyarakat sipil Indonesia saat ini berhubungan dengan represi politik di era Orde Baru dan langgengnya narasi versi Orde Baru mengenai tragedi 1965.

Kumpulan video ini adalah bentuk lain penceritaan generasi muda mengenai bagaimana periode tersebut memengaruhi kita semua. Vide0-video ini cukup singkat. Bagi pembaca yang lebih suka penceritaan dengan medium audio dan gambar bergerak. Ini untuk kalian.

Prodita

“Kekuatan Suara Pemuda”

Prodita Sabarini adalah pemimpin redaksi Ingat65 dan juga seorang wartawan. Ia mengingatkan kita bahwa setengah penduduk Indonesia usianya di bawah 30 tahun? Apa kita sadar kekuatan kita dalam menentukan masa depan bangsa?

Baca tulisan Prodita “Ingat65: Generasi muda tak ingin lupa”.

Puri

“Bertanyalah: Apa yang Kita Tahu Tentang 65?”

Puri Lestari menulis di Ingat65 soal bagaimana ia mengetahui sejarah mengenai kakeknya yang meninggal pada G30S. Di video ini ia mengajak kita menjadi berani untuk saling memahami dan meminta maaf.

Baca tulisan Puri “Ini kan buku komunis”.

Evi

“Meruwat Indonesia Dari Warisan Kekerasan 1965”

Evi Mariani, wartawan yang peduli soal keadilan sosial dan masalah urban mengajak kita menelusuri budaya kekerasan terhadap yang lemah di Indonesia.

Baca tulisan Evi “Pertemuan-pertemuan yang menyelamatkan”.

Berto

“Peristiwa 1965 Mengubah Jalan Sejarah Bangsa Indonesia”

Berto Tukan adalah seorang peneliti dan editor di Indoprogress. Ia bercerita bagaimana ia mendengar mengenai kisah-kisah pembunuhan yang terjadi di 1965 di kampung halamannya di Larantuka, Flores dan menuliskannya dalam sebuah cerita pendek.

Baca tulisan Berto “Sisi gelap bangsa di sekitar kita”.

Febriana

Peristiwa 1965 Inspirasi Bagi Febriana Firdaus Menjadi Jurnalis

Kakek Febriana Firdaus menghilang di 1965. Ia bercerita bahwa apa yang menimpa kakeknya menginspirasi ia menjadi wartawan, karena ia ingin mencari jawaban.

Baca tulisan Febriana “Kehilangan yang tak pernah tuntas”.

Rika

“Banyak Praktik Diskriminasi Terjadi Setelah ‘65”

Rika Theo, seorang wartawan dan peneliti yang tinggal di Belanda, baru menyadari bahwa ada banyak keturunan Tionghoa yang berkontribusi pada perjuangan kemerdekaan Indonesia. Namun kisah-kisah mereka dilupakan dan praktik diskriminasi terhadap keturunan Tionghoa merajalela sesudah tragedi 1965.

Baca tulisan Rika “Dialog seorang eksil dan perempuan Tionghoa”.

Whisnu

“Mimpi Pengetahuan Sejarah yang Sehat Dan Bebas Kebohongan”

Whisnu Yonar, produser film Pulau Buru Tanah Air Beta, menyadari bahwa ada banyak kebohongan mengenai 1965 yang disampaikan pada generasi muda yang lahir sesudah 1965. Ia menginginkan generasi muda saat ini memiliki pengetahuan sejarah yang sehat dan bebas kebohongan.

Baca tulisan Whisnu “Mengapa saya memproduksi film tentang Pulau Buru”.

Ellena

“Produk Budaya Zaman Orde Baru Melanggengkan Kebohongan”

Ellena Ekarahendy adalah seorang perancang grafis dan editor. Ia bercerita bahwa ia tumbuh di keluarga yang apolitis. Di video ini ia bercerita mengapa orang tuanya bersikap demikian dan apa yang memantik perubahan dalam dirinya hingga peduli dengan isu tragedi 1965.

Baca tulisan Ellena “Belajar Kasmaran: Mencari Sejarah Yang Terjarah”.

Ika

“Adakah Keluarga Kita yang Menjadi Korban 65?”

Lima puluh tahun sejak 1965, Ika Krismantari, redaktur pelaksana Ingat65, akhirnya mengetahui bahwa kakeknya korban 1965 dan dipenjara selama 10 tahun tanpa pengadilan di Ambarawa. Pengetahuan ini berawal dari pertanyaan iseng yang Ika lancarkan pada ayahnya: “Adakah keluarga kita yang menjadi korban 65?”

Baca tulisan Ika “1965 yang tidak lagi sama di 2015”.