Melawan Ketidaktahuan Kita Soal Sejarah

HAM atau Hak Asasi Manusia adalah hak dasar yang dimiliki manusia sejak lahir. Semua manusia memiliki hak hidup, hak berpendapat, hak asasi ekonomi, hak asasi politik dan hak-hak lainnya.

(Sumber:pribadi)

Namun, dalam praktik kehidupan sehari-hari perlindungan HAM masih sulit untuk ditemui. Berbagai tindakan dan perilaku yang melukai HAM kerap terjadi dari masa ke masa, bahkan sejak masa Indonesia belum merdeka.

Yang lebih memperihatinkan adalah ketika tindakan-tindakan yang menyederai HAM tidak diusut secara tuntas dan diselesaikan dengan adil bahkan kerap kali dilupakan begitu saja. Lantas, jika begini dimanakah HAM yang sesungguhnya?

Di Indonesia, sebuah peristiwa berdarah yang melukai HAM pernah terjadi. Tragedi 1965 merupakan salah satu bukti nyata bahwa praktik pelanggaran HAM terjadi dalam sejarah bangsa Indonesia.

Peristiwa berdarah itu konon menewaskan lebih dari satu juta umat manusia. Sebagai generasi milennial yang lahir jauh setelah peristiwa tersebut terjadi, saya miris mendapati fakta bahwa pemerintah diam saja. Satu juta nyawa melayang sia-sia dan tidak ada yang mengusut tuntas kasus ini sampai saat ini.

Saya pertama kali tahu isu ini ketika saya masih di bangku Sekolah Dasar. Ibu saya seorang guru sejarah yang memberikan les tambahan di rumah. Suatu ketika, saya mendengar ibu saya membahas peristiwa 1965 dengan murid-muridnya. Saya menjadi penasaran karena tidak banyak yang Ibu saya bahas. Ketika saya tanya langsung ke beliau, dia hanya bilang bahwa peristiwa tersebut membunuh banyak orang yang tak bersalah dan kelak saya akan tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Hal yang sama terjadi ketika saya di SMP dan SMA. Topik ini berkali-kali muncul dalam pembicaraan dengan guru-guru saya di sekolah. Di SMA, saya cukup beruntung karena bisa mendapatkan versi sejarah yang lumayan lengkap dari guru saya, tidak sepenggal-penggal seperti yang ditawarkan pemerintah lewat narasi tunggalnya.

Di SMA, saya sempat terlibat diskusi film. Waktu itu film yang saya tonton adalah Gie yang disutradarai oleh Riri Reza dan film Soekarno yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo. Meski kedua film ini tidak membahas banyak tentang peristiwa 1965, tapi topik itu tidak terelakkan dalam diskusi yang saya ikut. Pengetahuan saya menjadi bertambah tentang apa yang terjadi di balik peristiwa 1965.

Pengetahuan saya yang bertambah sedikit demi sedikit mengenai peristiwa 1965 tetap saja tidak bisa memuaskan keingintahuan saya tentang apa yang sebenarnya terjadi dan siapa dalang di balik semua ini. Rasa penasaran dari SD sampai saya kuliah belum juga terjawab. Saya merasa negara harus bertanggung jawab atas semua ini karena banyak sekali orang yang terbunuh.

Secara pribadi, saya merasa paham komunisme bukanlah ideologi yang cocok dan tepat untuk diterapkan tidak hanya di Indonesia tapi juga seluruh dunia.

Namun pertanyaannya, tepatkah melawan komunis dengan cara membunuh? Menurut saya pribadi, jawabannya adalah tidak.

Dengan tujuan dan alasan apapun, membunuh bukanlah tindakan yang baik untuk mengatasi masalah. Dengan membunuh, secara otomatis kita melanggar HAM. Membunuh dengan alasan apapun tetaplah membunuh.

Setiap orang, apapun latar belakangnya, bagaimanapun sikap dan cerita hidupnya, berhak untuk hidup. Dengan alasan apapun manusia tidak selayaknya menggantikan posisi Tuhan untuk mengambil nyawa manusia lain.

Hidup dan mati manusia sudah selayaknya menjadi kuasa sang pencipta, bukan ditentukan oleh tangan –tangan ringkih manusia. Dan apapun alasannya juga, mengambil hak asasi orang lain tanpa penyelesaian yang seimbang dapat dikategorikan sebagai kejahatan atas HAM atau pelanggaran HAM.

Pertanyaan lainnya, sudahkan kasus-kasus HAM diusut secara adil, tuntas dan transparan di negara ini? Terlebih bagi mereka yang menjadi korban di tragedi 1965.

Jawabannya belum.

Pemerintah dari era ke era seolah enggan memecahkan kasus 1965. Padahal sejatinya, pemerintah sebagai wakil publik seharunya melindungi dan membela hak-hak asasi warga negaranya.

Pemerintah seolah turut lupa dan kebingungan arah dalam menyelesaikan kasus ini. Dalang di balik aksi pembunuhan massal 1965 tidak diketahui bahkan sampai sekarang. Atas ide dan perintah siapa pembunuhan massal dapat terjadi belum pernah benar benar diungkap sampai sekarang.

Tentu hal ini menjadi PR kita bersama. Saya sebagai generasi milennial merasa ini menjadi PR besar bagi saya dan generasi saya. Ketidaktahuan ini adalah sebuah misteri besar bangsa ini yang jika tidak dipecahkan dapat saja memicu konflik besar di kemudian hari. Saya rasa bangsa ini berutang kepada generasi masa depan. Dan jika pemerintah peduli dengan masa depan bangsa ini, seharusnya mereka mulai mengambil langkah untuk menuntaskan kasus 1965.