Membawa 65 ke Meja Makan
Meja makan adalah pusat kesenangan. Ngobrol macam-macam sambil makan enak adalah memori masa kecil yang menyenangkan. Selama ada teh hangat dan masakan Ibu di meja makan, semua hal bisa dibicarakan baik-baik…

Pagi hari di meja makan.
Tempe mendoan buatan Ibu masih hangat, dibuat garing dengan sedikit saja daun bawang, menyesuaikan selera para penghuni rumah ini. Pendampingnya sambal kecap, tumis sayuran dan kerupuk, tidak lupa segelas susu atau teh hangat. Obrolan saya dan Bapak atau Ibu saat sarapan tidak jauh-jauh dari urusan sekolah. Apakah uang saku masih? Atau sepulang sekolah ada les tidak?
Siang hari di meja makan.
Ibu saya, seorang guru SD yang jam kerjanya usai bersamaan dengan bubarnya jam sekolah, selalu punya waktu untuk menyiapkan makan siang segar. Sup sayuran, ikan bandeng yang digoreng kering dan ditumis kembali dengan potongan cabe dan kecap, dan tahu goreng adalah beberapa menu kesukaan kami. Obrolan makan siang lebih macam-macam. Tentang rencana pergi ke rumah Simbah di akhir pekan, atau cerita si anu yang tadi jatuh dari sepeda, atau soal majalah Bobo minggu ini.
Malam hari di meja makan.
Malam adalah saatnya menu makanan yang mudah dibuat, seperti sambal tempe dengan banyak cabai rawit dan bawang putih, ditambah telur dadar. Bapak biasanya sudah pulang bekerja saat makan malam, dan akan mengajak saya ngobrol soal pertandingan bola, kaset terbaru, dan buku apa yang ingin dibaca minggu ini.
Ibu jago sekali memasak. Soto ayam, garang asem, tumis udang, perkedel kepiting, sayur lodeh, apapun yang terhidang di meja makan sudah pasti lezat. Meja makan adalah pusat kesenangan. Ngobrol macam-macam sambil makan enak adalah memori masa kecil yang menyenangkan. Selama ada teh hangat dan masakan Ibu di meja makan, semua hal bisa dibicarakan baik-baik…
Kecuali beberapa topik tabu seperti PKI dan sepak terjangnya. Secara umum, Bapak berpikiran terbuka, gemar sekali membaca, dan membebaskan anak-anaknya memilih masa depannya masing-masing. Seorang ayah idola yang tidak suka melarang macam-macam.
Tapi ketika membicarakan tentang peristiwa tahun 1965, penjelasan Bapak singkat dan pedas, bahwa PKI berisi orang-orang jahat yang suka membunuh para kyai dan tokoh agama Islam. Kabarnya, Kakek (Ayah Bapak) yang jadi guru agama sempat jadi target operasi PKI. Kakek dan beberapa tokoh agama Islam lain sudah “ditandai”. Untung usaha pemberontakan PKI gagal dan partai itu dibubarkan.
Soal itu sebenarnya adalah kabar yang diceritakan dari mulut ke mulut. Tidak ada yang bisa memastikan “daftar” calon korban tersebut. Kakek meninggal bertahun-tahun kemudian karena sakit. Tapi kebencian akan gagasan komunisme sudah terlanjur ditebar dan diturunkan ke generasi selanjutnya, yaitu saya. Juga pemahaman bahwa PKI sama sekali tidak menghargai para agamawan.

Harus diakui, saat itu saya kurang “bandel” untuk menuntaskan rasa penasaran terhadap sejarah 1965 di lingkungan saya. Begitu dapat tanggapan masam dari Bapak, saya langsung berhenti. Meskipun nekad, mencari tahu tentang komunisme ke orang-orang tua lain pun sama saja. Topik itu terlarang. Pokoknya PKI itu kejam, peristiwa tahun 65 itu kejahatan luar biasa, dan kita tidak seharusnya bertanya tentangnya. Dengan demikian, semua pertanyaan tentang komunisme berhenti di ujung lidah.
Saya tumbuh dengan keterasingan yang aneh akan isu komunisme. Sejarah keluarga saya tidak secara langsung berkaitan dengan peristiwa 1965 (baik sebagai korban ataupun pelaku). Diskusi tentang komunisme tidak pernah mampir dalam keseharian saya. Saya tidak peduli pada peristiwa 1965 dan selalu mengambil jarak aman dari orang-orang yang diduga terkait.
Ketakutan, atau lebih tepat disebut keengganan, saya tentang PKI makin besar setelah kunjungan ke Museum Pengkhianatan PKI di Lubang Buaya, Jakarta Timur, saat saya SD. Saya sampai berkeringat dingin saking takutnya saat mendekati sumur tempat mayat para jenderal dikubur. Saya sungguh tidak paham bagaimana tempat itu menjadi situs yang wajib dikunjungi siswa dari semua tingkatan.

Alergi saya pada peristiwa 1965 mulai berubah setelah membaca buku-buku Ahmad Tohari, juga Pram, yang cukup banyak menceritakan para “korban” 1965. Mereka yang hidupnya terenggut setelah peristiwa itu. Mereka yang masa depannya mendadak gelap. Para mahasiswa yang tidak punya lagi rumah untuk pulang. Anak yang menangisi kematian bapaknya. Ayah yang tak tahu nasib putranya. Perempuan yang kehilangan kehormatannya. Generasi yang menjadi pembenci. Generasi yang dibenci karena dosa orang tuanya.

Ternyata peristiwa 1965 tidak hitam putih. Mungkin tidak ada yang benar. Mungkin tidak ada yang salah. Ternyata ada banyak yang harus kita bincangkan di meja makan, Bapak.
Sejak punya pemikiran yang berbeda tentang 1965, saya sering membayangkan kami bercakap-cakap tentang sejarah gelap itu. Tanpa rasa takut. Tanpa kebencian yang meletup. Tiap makan bersama Bapak, ada niatan untuk memulai topik yang sejak dulu kami hindari. Tapi tiap kali pula, saya urung melakukannya.
Buat apa? Kok cari perkara saja. Tanpa topik itu pun, obrolan kami sudah makin canggung (biasalah, problem klasik tentang komunikasi yang merenggang di antara ayah dan anak). Mungkin lebih baik kalau pembahasan ini disimpan di hati masing-masing saja.
Tapi kemudian saya memandang anak lelaki kesayangan. Si tiga tahun yang tidak akan berhenti bertanya (hal yang sama) selama pertanyaannya belum dijawab. Betapa saya tidak ingin mengharamkan topik apapun untuk kami bicarakan nanti. Saya tidak pernah ingin dia menyimpan tanya untuk suatu perkara, merasa asing pada satu hal, tapi terlalu segan bertanya. Sebab keingintahuan bukanlah dosa. Tapi ketidaktahuan menghasilkan ketakutan.
Duh, berlebihan amat?
Tidak juga. Tragedi 1965 hanyalah satu di antara banyak hal tabu yang selama ini diam-diam disembunyikan di bawah tikar. Mampu membicarakan topik itu secara terbuka, dewasa dan tanpa prasangka adalah titik balik. Menyusuri sejarah 1965 adalah hutang saya kepada anak saya. Hutang generasi saya, generasi Bapak, dan para generasi sebelumnya, kepada generasi masa depan.
Jika berhasil membawa topik 1965 ke meja makan, boleh lah saya berharap isu lain akan mendapat perhatian. Intoleransi beragama? Homoseksualitas? Bolehkah saya mendonorkan organ setelah meninggal?
Saya bayangkan, 15 tahun dari sekarang, kami semua (Bapak, saya dan si bocah ceriwis yang sudah remaja) duduk di meja dan bertukar pikiran tentang apa saja.
Karena sebenarnya, tidak ada yang mustahil dibicarakan di antara nasi hangat, sayur asem, dan ikan asin.

