Membicarakan Peristiwa 1965

Ilustrasi buku sejarah. (Sumber: William Hoiles/Wikimedia Commons, CC BY-SA 3.0)

Bang, apa yang kamu ketahui tentang peristiwa 1965?” tanya saya suatu hari kepada putra saya yang duduk di bangku sekolah kelas XI.

“Peristiwa 1965? Itu G30S/PKI bukan,” tanyanya lagi. “Betul. Bagaimana menurut kamu mengenai peristiwa itu?”. Begitulah awal perbincangan kami di suatu pagi ketika saya mengantarkannya ke sekolah. Saya penasaran bagaimana pandangan anak 15 tahun menilai kejadian tersebut.

Dari diskusi terlihat pengetahuannya dan saya terhadap peristiwa 1965 tidak jauh berbeda. Tidak heran memang karena penjelasan buku sejarah tidak banyak berubah dari versi saya ketika masih di bangku sekolah. Buku sejarah kami sama-sama menjelaskan peristiwa itu sebagai sebuah pemberontakan oleh kelompok komunis yang ingin mengambil alih pemerintahan dan kemudian berhasil diselamatkan Soeharto.

Namun tak saya kira, pemahaman putra saya sudah jauh lebih dalam dibandingkan saya waktu itu. Dia menguraikan kepada saya bahwa dari hasil telusurannya di internet ada banyak keganjilan dari peristiwa tersebut. Ada ratusan ribu bahkan jutaan korban yang dianggap sebagai simpatisan PKI tanpa bukti jelas ditangkap, ada pula yang diculik, kemudian hilang tanpa jejak. Keluarga para korban ini mengira mereka telah dieksekusi.

“Bagaimana sedihnya perasaan keluarga mereka ketika mengetahui ayahnya atau kakaknya dianggap bagian dari pemberontakan tanpa bukti yang jelas tiba-tiba dibawa dari rumah dan tidak pernah kembali sejak saat itu,” kata putra saya.

“Dan bagaimana setelahnya, penderitaan keluarganya belum usai karena dengan cap sebagai pemberontak mereka sering diasingkan dalam masyarakat dan didiskriminasi dalam segala hal,” tambahnya.

Semua opini yang terbentuk di benak putra saya ini murni dari hasil kumpulan informasi yang dibacanya di berbagai situs.

Darinya saya belajar memahami bagaimana kebenaran dari sebuah peristiwa sejarah yang terjadi selama lebih dari 50 tahun sedikit demi sedikit terkuak dengan bantuan teknologi.

Film dokumenter The Act of Killing (Jagal) dan The Look of Silence (Senyap) karya Joshua Oppenheimer mengingatkan kembali masyarakat Indonesia dan menunjukkan kepada dunia mengenai sisi lain peristiwa 1965. Apakah yang terjadi di 1965 adalah benar aksi heroik oknum tertentu atau sebuah kejahatan massal terhadap kemanusiaan?

Waktu saya seusia putra saya, internet masih menjadi barang langka. Saya tidak memiliki akses untuk mencari informasi. Sewaktu saya masih di bangku sekolah, buku-buku sejarah yang saya baca mengatakan peristiwa 1965 adalah upaya kudeta Partai Komunis Indonesia yang akhirnya digagalkan oleh Soeharto melalui operasi militernya yang juga menyelamatkan persatuan Indonesia. Cerita ini begitu tertanam di ingatan saya terlebih lagi dengan diputarnya film kekerasan G30S/PKI setiap tahunnya di Televisi Republik Indonesia.

Saya ingat sekali saya sampai sulit tidur berhari-hari setelah kunjungan sekolah ke Lubang Buaya karena saking seramnya dengan kekejaman PKI. Saat itu saya bahkan sempat kagum dengan keberanian Soeharto melawan PKI.

Saya dan anak saya

Saya kagum dengan anak saya yang di usianya yang ke-15 memiliki pemahaman yang dalam tentang peristiwa tersebut. Di usianya, saya benar-benar tidak tahu apa-apa kecuali apa yang tercantum di buku-buku sejarah. Saya baru mengetahui sisi lain dari peristiwa 1965 setelah bekerja dan mendapat akses internet.

Berkat teknologi, kenyataan yang dulu hanya diketahui segelintir orang sekarang diketahui dunia. Kini saatnya sejarah diluruskan. Propaganda orde baru yang membenarkan aksi pembantaian massal atas terbunuhnya perwira militer harus dihentikan. Fakta atas ratusan ribu korban pembunuhan yang tidak pernah dibuktikan terlibat dalam operasi G30S harus diungkap. Karena, walau ditutupi seperti apapun, generasi muda, generasi Z, seperti putra saya ini bukanlah generasi yang mudah dibungkam. Hanya dalam hitungan detik, mereka bisa mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi lewat internet. Pemerintah tidak bisa lagi menutupi kebenaran atas apa yang terjadi. Sudah terlalu lama Indonesia menutupi sejarah hitam 1965.

“Alangkah baiknya jika pemerintah mau membuka fakta sebenarnya atas apa yang terjadi 1965 dan mengadili mereka yang sebenarnya bersalah. Korban 1965 sudah seharusnya dibersihkan namanya,” kata putra saya.

“Saya hanya ingin Indonesia menjadi lebih baik lagi. Bung Karno juga berkata, Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak pernah melupakan sejarah bangsanya sendiri,” tambah putra saya lagi yang hanya bisa saya tanggapi dengan anggukan dan senyuman seiring doa agar harapannya bisa segera terwujud.