Menemukan Sisi Lain Sejarah 1965

Persinggungan gitaris Banda Neira dengan Cornell Papers

“Sejarah akan membebaskanku” dari lirik lagu “Tini dan Yanti” yang dibuat oleh tahanan politik 1965 di penjara di Bali. (Ilustrasi Ellena Ekarahendy)

Saya lahir di Batam, sebuah pulau kecil dekat Singapura, pada Desember 1987. Saya tidak tahu sedikitpun tentang 1965 sampai akhirnya kuliah.

Sejak lahir hingga tamat SMA, tidak pernah ada yang memberi tahu saya bahwa dulu banyak orang komunis di Indonesia mati dibunuh dengan cara yang sadis.

Saya tak pernah tahu kalau dulu banyak orang dibuang dan dipenjarakan tanpa diadili gara-gara dia komunis, atau dekat dengan orang komunis, atau sebenarnya bukan komunis tapi dituduh komunis oleh aparat.

Saya juga tak tahu kalau orang-orang PKI (Partai Komunis Indonesia) yang selamat dari pembantaian massal sempat dibikin susah hidupnya oleh pemerintah. Tak banyak perkara politik yang dibicarakan di rumah sewaktu saya kecil dan remaja. Di sekolah? Apalagi.

Kalau soal PKI — ya saya enggak ngerti-ngerti amat. Soal siapa mereka dan dari mana asalnya masih agak kabur, jauh dari pemahaman saya.

Tapi setidak-tidaknya ada beberapa hal yang dulu saya pikir saya tahu dengan pasti:

  • PKI itu jahat.
  • PKI suka bunuh-bunuh jendral.
  • PKI itu buatan DN Aidit, dan DN Aidit itu jahat.
  • PKI pakai baret merah.
  • PKI punya pasukan yang keren bernama Cakrabirawa.
  • Kalau membunuh, PKI tak sembarangan membunuh. PKI harus membunuh orang dengan cara yang sadis. Kalau bisa jenderal-jenderal itu dibunuh sembari disaksikan seluruh anggota keluarga.
  • PKI juga tak peduli kalau saat hendak membunuh, pelurunya nyasar, hingga kena bocah perempuan malang anak Jendral. Lalu anak perempuan itu meninggal di pelukan ibunya dengan punggung yang bolong ditembus peluru.
  • PKI tak peduli sama sekali bahwa peristiwa itu mencabik-cabik rasa kemanusiaan, bahkan di hati seorang bocah sekalipun.
  • Sebelum jendral-jendral itu dibunuh ada yang disilet-silet dulu pipinya baru akhirnya ditembak mati di dada. Ada jendral yang saat sedang sibuk menjawab pertanyaan interogator, tengkuknya dihantam popor senjata sampai pingsan. Setelah itu dia ditembak beberapa kali hingga mati.
  • Ada yang diberondong peluru di hadapan anak-anaknya cuma karena minta waktu mau ganti baju sebentar.
  • PKI tak suka menunggu orang ganti baju.
  • Dan terakhir, setelah dikumpulkan di sebuah markas bernama Lubang Buaya, jendral-jendral itu dicemplungkan ke dalam sumur, ditumpuk-tumpuk, lalu ditembaki dari atas oleh para PKI dengan senjata serbu.
  • Setelah itu sumur ditimbun tanah dan pasukan PKI tertawa-tawa sambil menyanyikan yel-yel merayakan kematian para jenderal. Betapa jahanam PKI itu di benak saya.

Bayangan-bayangan itulah yang ditanam dalam kepala sewaktu saya kecil lewat sebuah film propaganda yang diputar di televisi setiap tanggal 30 September, judulnya Pengkhianatan G30S/PKI.

Begitu hebatnya film itu sampai-sampai adegan demi adegan masih membekas di ingatan sampai belasan tahun lamanya. Film itu meyakinkan saya bahwa PKI adalah jelmaan iblis yang turun ke dunia — bengis, jahat, dan tak berprikemanusiaan.

Tak terlintas sedikitpun oleh saya untuk mengkritisi film tersebut atau mempertanyakan apa maksud pemerintah membuat, memutar, dan menjadikan film itu sebagai tontonan wajib bagi seluruh warga Indonesia, termasuk bocah-bocah ingusan seperti saya yang notabene belum boleh melihat tontonan-tontonan sadistis.

Ya wong waktu itu saya masih kecil, kemampuan memilah dan mencerna informasi masih terbatas. Menarik benang merah antara PKI, komunisme, 1965, Soeharto, dan tokoh-tokoh lain yang terwakili dalam film itu saja masih sulit bagi saya, apalagi membuat sebuah tinjauan kritis atas film tersebut.

Selama beberapa belas tahun yang menggelayut di kepala saya perihal PKI adalah hal-hal di atas tadi. Sesudah saya besar baru saya sadari film itu salah satu usaha rezim Soeharto mencuci otak orang-orang Indonesia.

Waktu masih kecil istilah “cuci otak” saya pahami secara literal. Otak dikeluarkan dari kepala, lalu dicuci dengan alat serba canggih di rumah sakit, kemudian dimasukkan lagi ke batok kepala si empunya otak. Setelah besar baru saya tahu “cuci otak” adalah istilah konotatif.

Kegiatan mencuci otak ternyata tak menyeramkan sebagaimana yang saya pahami ketika kecil. Kegiatan cuci otak terjadi dengan cara yang sangat halus, bersahaja, dan menyenangkan, seperti menonton film.


Masa-masa jelang reformasi, saat krisis moneter terjadi, keluarga dan saya pindah dari Batam ke Bandung. Hanya 11 tahun saja saya merasakan menjadi warga negara di bawah pimpinan Soeharto.

Selagi krisis moneter terjadi, Soeharto mengundurkan diri. Walau ada perubahan mega kolosal yang sedang terjadi pada negara ini, hidup saya sebagai anak kelas 6 SD pada saat itu rasa-rasanya sama saja.

Saya melewati masa-masa sekolah sebagaimana anak-anak remaja kelas menengah lainnya — menikmati hidup dengan bermain counter strike, basket, belajar mabuk, merokok, main skateboard, belajar gitar, mendengarkan musik-musik Emo, lalu tiba-tiba saja ujian akhir, lulus, seterusnya daftar-daftar kuliah, diterima, kemudian jadi mahasiswa.

Dulu saya tidak tahu bahwa banyak orang komunis di Indonesia mati dibunuh dengan cara yang sadis. Perlahan gambaran soal sejarah 1965 menjadi semakin besar dan sedikit lebih terang dari sebelumnya untuk saya. Di 2015 saya (kanan) bersama Rara Sekar, partner saya di band duo musik Banda Neira, menyanyikan lagu “Tini dan Yanti”.

Apakah pada masa-masa itu terlintas di pikiran menggugat ingatan tentang peristiwa 1965? Tidak sama sekali. Barangkali karena tak terlalu banyak perkara politik yang dibicarakan di rumah. Di sekolah? Apalagi.

Pertemuan kembali dengan hal-hal berbau PKI dan 1965 terjadi di bangku kuliah. Cerita ini jauh dari heroik memang, tapi beginilah adanya yang terjadi dalam hidup saya. Suatu kali tugas kuliah menuntun saya berkunjung ke perpustakaan di kampus Universitas Parahyangan.

Di satu sudut rak buku-buku politik, berjejer buku-buku yang membahas isu-isu seputar peristiwa 1965. Bukan sebuah kebetulan jika buku-buku itu disusun dalam satu kelompok.

Atau lebih dikenal dengan sebutan “Cornell Papers”

Di antara sekian buku yang sekilas saya baca, ada satu yang paling menarik hati, yakni tulisan Bennedict Anderson dan Ruth T. McVey yang membahas tentang kudeta 1965. Belakangan baru saya tahu bahwa buku itu tak lain adalah Cornell Papers.

Kelak saya tahu bahwa buku itulah yang membuat Indonesianis Ben Anderson dilarang pemerintah Soeharto masuk ke Indonesia. Sebab melalui buku itu, Ben dan McVey berteori bahwa kudeta 1965 adalah buah konflik internal faksi-faksi dalam tubuh Angkatan Darat.

Bagi saya yang melewati seluruh masa kecil dan remaja tanpa banyak membicarakan politik, ini adalah informasi baru yang menarik, yang memantik keingintahuan lebih dalam tentang apa yang terjadi seputar PKI, 1965, dan lahirnya Orde Baru.

Seiring berjalannya waktu dan seiring bertambahnya bacaan, pengetahuan perihal 1965 kemudian dihimpun keping demi keping dan disusun layaknya mozaik. Perlahan gambaran menjadi semakin besar dan sedikit lebih terang dari sebelumnya. Tapi, hmm… “Kok beda ya dengan sejarah versi pemerintah? Ada apakah gerangan?”


Ananda Badudu adalah bagian dari duo musik Banda Neira. Di 2015, Banda Neira bekerja sama dengan komunitas Taman 65 di Bali dalam pembuatan album Prison Songs, kumpulan lagu yang diciptakan oleh tahanan politik 1965 yang dipenjara di Penjara Pekambingan Bali.

Banda Neira menyanyikan lagu “Tini dan Yanti” yang digubah oleh Amirudin Tjiptaprawira, seorang pemusik yang ditahan di Pekambingan Bali berdasarkan tulisan Ida Bagus Santosa di dinding penjara tentang bagaimana ia merindukan istri dan anaknya. Santosa diambil suatu malam oleh “laki-laki berseragam hitam” dan tidak pernah kembali.