Mengenang Redup Jejak ’65 di Malang

Pemandangan gunung dan suasana perdesaan di Malang.

Udara sejuk langsung terasa begitu saya tiba di Malang pada suatu pagi menjelang siang. Lega betul akhirnya bisa menghirup oksigen segar dengan cuaca cerah selepas menempuh perjalanan dengan kereta api sekitar 14 jam dari Jakarta. Buat saya, Malang jadi salah satu tempat paling berkesan di Jawa. Selain iklim yang menenangkan, ia juga memiliki rumah-rumah peninggalan Belanda yang cantik. Tetapi yang tak kalah menarik adalah beragam situs bersejarah yang sarat makna.

Kali ini, saya kembali ditemani Roni — kawan yang tinggal di Malang. Saya sebetulnya amat ingin menelusuri tempat-tempat bersejarah yang “berbeda”. Jika pada kunjungan sebelumnya, saya getol sekali dengan percandian, maka perjalananan ini diinspirasi oleh suatu peristiwa yang baru saja saya kenang dan terkesan begitu mendalam. Emosi tentang memori kelam yang terjadi di Malang tempo dulu yang saya dapati di novel Lasmi karya Nusya Kuswantin. Itu tentang genosida 1965. Tidakkah angka yang menunjukkan tahun itu masih samar atau mungkin bagi sebagian dari kita justru terdengar angker? Dari perasaan penasaran itu kami pun melakukan perjalanan ke tempat-tempat di Malang yang terkait dengan peristiwa 1965.

Bendungan Sutami dan Merah yang Mengalir di Sungai Brantas

Bendungan Karangkates atau Waduk Sutami adalah danau buatan berupa waduk terbesar di Jawa Timur (luas permukaan sekitar 15 km2) yang dibangun oleh Ir. Sutami tahun 1964 sampai 1973 dan diresmikan Presiden Soeharto tahun 1977. Bendungan ini menahan aliran Sungai Brantas dan menampung air dari Gunung Arjuno maupun air hujan. Awalnya berfungsi sebagai pengendali banjir, pembangkit listrik tenaga air, dan penyedia air irigasi, tapi belakangan berkembang untuk kegiatan pariwisata dan perikanan air tawar.

Saya sebetulnya agak males kalau sekadar melihat bendungan, tapi, ya, mumpung searah, jadi mengapa tidak sekalian mampir.

Benar saja, waduk ini ternyata begitu ramai menjadi arena rekreasi. Di sebelahnya, tampak plang bertuliskan “Taman Wisata Karangkates” yang berarti pengembangan bendungan menjadi lokasi wisata sudah dilakukan. Karcisnya murah, hanya Rp 7 ribu. Selain ada taman bermain dan kolam renang, ternyata di tepian ada saung yang menghadap ke danau buatan. Lumayan buat leyeh-leyeh di bawah pohon sambil menikmati angin sepoi-sepoi. Suasananya sudah seperti di pantai!

“Katanya, ini lokasinya angker!” celoteh Roni tiba-tiba yang pastinya mengganggu keasyikan saya menikmati suasana. Roni memang punya banyak gosip soal tempat-tempat di Malang. Ia melanjutkan cerita, “Katanya, sih, kalau malam-malam di sekitar sini suka muncul penampakan hantu perempuan, kadang berwujud kuntilanak.”

Salah satu tanda kehadiran makhluk halus di tempat itu adalah bau anyir darah atau bau daging busuk dibakar. Saya juga bingung seperti apa bau macam itu! Salah satu spot angker itu berupa jalanan yang berada di atas bendungan dan target si hantu adalah para pengendara motor.

Cerita angker waduk ini kami dapat dari obrolan kami dengan Yu Lik (bukan nama sebenarnya). Yu Lik adalah sapaan akrab bagi perempuan berusia sekitar kepala enam yang juga kerabat Roni. “Yu” singkatan untuk mbakyu — bahasa Jawa untuk memanggil perempuan yang lebih tua. Dia bercerita tentang peristiwa yang terjadi di desanya pada hari-hari tahun 1965–1966 — peristiwa kelam yang terjadi tak lama setelah hari itu tercatat sejarah: G30S atau Gerakan 30 September.

Peristiwa itu terjadi saat Yu Lik beranjak remaja. Kondisi di desanya sangat mencekam. Isu penangkapan simpatisan PKI (Partai Komunis Indonesia), kian merebak. Bukan hanya anggota PKI yang ditangkap, tapi juga kelompok-kelompok yang diduga terkait, termasuk Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia) — organisasi perempuan di Indonesia sekitar tahun 1950-an sampai 1960-an yang disebut-sebut sebagai salah satu organisasi perempuan terbesar dan termaju di dunia pada zamannya.

Di desa Yu Lik, konflik diawali dengan kematian Pak Haji X. Pak Haji X ini adalah pemuka desa yang terpandang. Yu Lik menjelaskan tentang sosoknya sebagai pelindung orang-orang yang dijadikan target. Ia tak segan menasehati kelompok asing (dari luar desa) yang tiba-tiba datang untuk menangkap orang-orang. Nasehatnya itu sederhana: “Kalau sesama manusia jangan saling membunuh,” kata Yu Lik meniru ucapan Pak Haji. Desas-desus mereka yang ditangkap, sudah beredar luas. Kalau tidak kembali, ya, berarti mati!

Ketika Pak Haji akhirnya tiada, pembantaian masuk desa. Segerombolan pemuda berkostum serba putih mulai menggedor pintu rumah-rumah warga desa pada malam hari dan satu per satu mereka diculik! Dulu tak jauh dari desa ada lapangan luas yang dipakai untuk mengumpulkan orang-orang. Mereka adalah simpatisan dan/atau orang-orang yang dituduh atau diduga terkait dengan PKI, termasuk perempuan para anggota Gerwani. Mereka dibariskan di lapangan tersebut.

Yu Lik juga bercerita soal sumur yang dipakai untuk beleh orang. Maksudnya, eksekusi mati dengan cara disembelih lehernya di sumur! Mereka yang mati, kupingnya dipotong dan ditusukkan seperti sate sambil dipertontonkan ke warga desa sebagai teror.

Mereka yang diculik, disiksa, dan dibunuh, mayat-mayatnya sebagian dikubur seadanya. Sisanya dibuang ke jurang serta Sungai Brantas — sungai terpanjang kedua di Pulau Jawa (setelah Sungai Bengawan Solo) yang alirannya juga menuju ke Bendungan Sutami. Kala itu, setiap hari ditemukan banyak mayat di sepanjang aliran sungai, bahkan ia bilang warna airnya keruh karena darah. Kami tak ingin menduga-duga, tapi tragedi pembantaian itu terjadi bersamaan dengan periode awal pembuatan waduk. Tak ada acuan data pasti berapa jumlah korban pembantaian terburuk dalam sejarah Indonesia tersebut. Banyak dugaan beredar jumlahnya mencapai ratusan ribu hingga jutaan orang.

Jurang Mayit

Esoknya, kami pergi naik motor ke Gunung Mujur yang sebagian besar masih berupa hutan. Lokasinya masih di Kecamatan Karangploso, tepatnya di Desa Donowarih dan Desa Ngenep di lereng Gunung Arjuno. Udara sangat segar di antara rimbunan pinus.

Kami sampai di warung kecil dan setelah kami permisi memarkir motor, kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menapaki tangga tanah yang dialasi bebatuan. Pada suatu titik, saya begitu kagum dengan apa yang ada di hadapan kami: Gunung Arjuno.

Dalam perjalanan pulang, diam-diam Roni ingin menunjukkan suatu tempat yang menurutnya pasti akan mengejutkan saya. Ia melaju melewati rute alternatif yang menghubungkan Kota Batu dan Kabupaten Malang. Agak sedikit menjauh. Hari sudah mulai dekat dengan Magrib. Saya harap Roni tidak semakin membuat saya khawatir.

Rute alternatif itu berupa jalanan aspal yang tidak begitu lebar. Sisi kiri kami adalah tebing berbatu dan sisi kanan masih berupa perkebunan serta jurang yang cukup terjal. Tak banyak rumah.

Kami akhirnya menepi di sebuah jembatan kecil. Di bawah kami adalah kali yang dipenuhi bebatuan besar, anak Sungai Brantas. Alirannya deras dan disangkuti cukup banyak sampah plastik.

“Ini yang namanya Jurang Mayit!” Mayit berarti mayat.

Roni menunjuk ke arah ujung aliran sungai yang gelap dan dikerumuni hutan bambu lebat. Suara desiran yang membuat bulu kuduk merinding ketika daun-daun bambu saling bersentuhan tertiup angin. Kami dapat mendengar suara reot batang bambu yang bergeser. Seperti hembusan pasir yang diiringi alunan bunyi patah perlahan.

Jurang Mayit.

“Kreeekkk…” Sesuatu berbisik dengan lirih.

Mengapa jadi terasa menyeramkan? Apakah Jurang Mayit itu?

“Ini salah satu jurang yang jadi lokasi pembuangan mayat-mayat PKI yang diceritakan Yu Lik!” Roni sukses membuat saya tercengang kaget.

“Hah, serius?!” Pantas atmosfirnya jadi tiba-tiba bikin ngeri begini!

“Dulu orang ngga ada yang berani menyebut “Jurang Mayit” karena kalau ketahuan tentara, bisa ditangkap!”

Rasanya pilu membayangkan visual tubuh-tubuh manusia yang berada di bagian belakang truk. Tertumpuk bersama puluhan lain yang mungkin sudah jadi mayat atau mereka yang masih sekarat, lantas digelontorkan ke jurang layaknya kumpulan debu dan kotoran pada pengki yang dituang ke tempat sampah. Membayangkan rasa perih dan bunyi saat daging robek dan tulang bergeretak akibat terhantam batu-batu besar dan tajam. Tubuh yang terluka, hancur, mati, membusuk, dan mengalir atau tersangkut seperti sampah yang kini mengotori sungai. Air yang berubah keruh oleh darah dan badan yang tercerai-berai.

Kengerian di Museum Brawijaya

Esoknya, seperti rutinitas saya setiap ke Malang, saya melakukan tur keliling kota sekadar menikmati keindahan bangunan-bangunan lama bergaya art-deco yang cukup menyenangkan hanya untuk dilihat-lihat.

Tetapi kali itu, saya terpikir singgah ke Museum Brawijaya. Sudah cukup sering kami melewatinya, tapi enggan menyempatkan mampir. Bahkan, Roni sendiri yang tinggal di Malang pun belum pernah juga berkunjung.

Tampak depan museum, corak militer sudah terasa. Ada tank dan meriam yang memberi pertanda. Di halamannya juga terdapat patung dada Panglima Besar Jenderal Sudirman. Jadi, kami hanya menduga-duga seperti apa isi museum yang dibangun tahun 1967–1968 atas prakarsa Brigjend TNI (Purn.) Soerachman, mantan Pangdam VIII/Brawijaya tahun 1959–1962.

Ketika sampai di meja loket, seorang penjaga berpakaian loreng menghampiri kami. Tak ada senyum, selain cuma memberitahu harga tiket sebesar Rp 2 ribu. Ruang lobi dipenuhi dengan relief perjuangan dan lambang-lambang TNI AD. Bagian koleksi ada pada ruangan di kedua sisi lobi.

Ketika kami masuk ke dalam, ada koleksi yang mencuri perhatian kami. Koleksi tersebut adalah serangkaian foto pembantaian para simpatisan PKI dan aktivis Gerwani tahun 1965. Terlihat pada foto, tubuh mereka penuh luka, ada yang diikat sambil berbaris. Atmosfir mengerikan di ruang yang hening itu tiba-tiba membuat saya ingin menangis. Wajah-wajah pada potret yang memancarkan kesedihan. Atas sebuah perbedaan ideologi, nyawa ditaruhkan menjadi begitu murah.

Tak ada ilustrasi tulis yang bisa kami baca, tapi gambar bisa banyak berbicara dengan beragam tafsir. Tentang kondisi zaman kelam di sekitar Malang dan tentang kaitan Kodam Brawijaya dengan PKI dan pembantaian ’65-‘66.

Potret Kota Malang yang dengan bangunan tua peninggalan Belanda.

Keluar museum, badan saya terasa berat. Entah apakah pengelola museum mempertimbangkan aspek psikologis bagi pengunjung yang datang. Atau jangan-jangan, memang efek inilah yang diharapkan setelah mengunjungi Museum Brawijaya yang terkesan mencekam. Perasaan angker sekaligus ngeri seperti yang saya rasakan ketika mengunjungi Bendungan Sutami dan Jurang Mayit muncul begitu keluar dari museum.

Setelah berkeliling jalan kaki untuk menyegarkan pikiran, pikiran saya tetap tak juga tenang. Saya memikirkan mereka yang mati, disiksa, dipenjara, atau hilang begitu saja. Mereka adalah orangtua dari anak-anak yang kini telah beranjak separuh abad usia. Mereka memiliki kakak, adik, bibi, paman, atau sanak keluarga dan kerabat lainnya yang mungkin hingga kini masih diliputi banyak tanya.

Salah satu dari mereka adalah Bagas (bukan nama sebenarnya) yang kebetulan seumuran dengan saya. Kami berdua lahir di pertengahan tahun 1980-an. Kami tak tahu banyak tentang peristiwa 1965. Amat sangat jarang kami mendengar cerita, apalagi beragam peristiwa seperti yang diungkapkan Yu Lik. Bagas mengatakan memang tak memiliki memori tentang ’65. Namun, dia memiliki seorang paman yang tak pernah ia kenal selain hanya nama. Paman yang sosoknya absen, bahkan keluarganya sendiri enggan mengenang atau berkisah tentang hilangnya saudara ayahnya itu di tahun ‘65-’66. Saya melihat wajahnya yang ingin sedih, tapi bingung ketika ia bercerita tentang pamannya yang hilang. Ada kekosongan yang sulit ia pahami. Seperti halnya jeda yang terlewati bagi perjalanan sejarah negara ini. Kita menanti. Bahwa ada banyak hal penting sebetulnya bisa kita pelajari. Andai saja, negara mau mengakui. Tentu saja, pengakuan dan permintaan maaf mungkin dapat menjadi jawaban buat kita generasi muda yang selama ini diliputi tanya apa yang sebenarnya terjadi tahun ’65 dan apa itu PKI.

Nurdiyansah adalah penulis buku Porn(O) Tour (Metagraf-Tiga Serangkai, 2015). Barus aja menerbitkan buku independen berjudul Kota Tua JKT: Pergulatan Pariwisata, Konservasi, & Kemiskinan.