Mitos Sungai Ular

Ilustrasi Sungai (Source: “Still River” by Skvor/Deviantart.com, CC BY-NC-ND 3.0)

Masih teringat jelas di kepalaku. Tahun 1997. Kala itu saya masih bocah ingusan berusia 8 tahun. Anak polos yang masih duduk di sekolah dasar yang suka bertanya tentang apa yang baru dilihatnya.

Kami mudik untuk merayakan hari raya. Pulang kampung menggunakan bus. Kami melewati jembatan yang cukup panjang. Sungai di bawah jembatan tampak begitu luas.

Saya bertanya pada Ayah: “Yah. Itu sungai apa namanya?”

Ayah menjawab, “Itu Sungai Ular, nak.”

“Banyak ularnya ya yah? Kok bisa dibilang Sungai Ular?”

Ayah tertegun sejenak. Dan beliau mengalihkan pembicaraannya. Ayah berkata kepadaku kita sudah sampai di Deli Serdang.

Aku tahu ayahku menyimpan sesuatu dariku. Saya penasaran, dan mendesaknya ntuk bercerita kepadaku mengenai Sungai Ular. Ibu kemudian bercerita asal muasal nama Sungai Ular. Ibu berkata di sungai itu terdapat sepasang buaya putih yang konon dapat merubah wujudnya menjadi manusia. Mereka mencari mangsa, dan siap menerkam penduduk desa yang berada di sekitar sungai pada malam hari. Aku takut mendengar cerita tersebut dan ibuku tidak melanjutkan bercerita.

Sesampainya di kampung halaman orangtuaku, saya sungkem kepada kakek dan nenek. Tanpa basa basi saya tanya kepada Kakek tentang Sungai Ular. Kakek tertegun sejenak, dan akhirnya membenarkan cerita Ibu di bus tadi.

Saya masuk perguruan tinggi 2007 lalu. Akhirnya saya mendapatkan informasi lain mengenai Sungai Ular yang melegenda itu. Ternyata mitos yang saya dengar dari orangtua maupun keluarga besar tidaklah benar.

Saya mengerti mengapa orangtua saya menutupinya kebenaran soal Sungai Ular dari saya. Orang tua saya sebenarnya tahu bahwa Sungai Ular itu tempat pembantaian tapol. Namun, karena waktu itu yang berkuasa masih Orba keluarga saya bungkam demi keselamatan keluarga.

Saya akhirnya leluasa berbicara mengenai G30S dengan ayah saya sesudah memasuki bangku kuliah.

Orangtua saya tidak mengizinkan saya menontoh film Pengkhiatan G30S/PKI ketika rutin diputar di TVRI setiap tanggal 30 September. Alasan yang diberikan orang tua saya adalah bahwa film tersebut ditayangkan jam 9 malam dan mengganggu jam tidur anak sekolah yang masih SD. Alasan asli orang tua saya ternyata agar pikiran saya tidak terhegemoni atas propaganda film (yang dibuat Orba).

Sesudah film dokumenter karya Joshua Oppenheimer, Jagal dan Senyap, keluar, saya mendapatkan informasi lebih banyak lagi mengenai Sungai Ular. Tempat pengambilan film dokumenter Jagal berada di Medan dekat kampung halaman orangtua saya walaupun berbeda kecamatan.

Film dokumenter Senyap pengambilannya di Deli Sedang tepatnya di sekitar Sungai Ular. Baru saya paham, kenapa tempat itu dikeramatkan hingga sekarang. Masyarakat disana menganggap bahwa daerah tersebut adalah saksi sejarah, tempat terakhir bagi yang akan dibantai oleh sang jagal.