Pengalaman Karyawisata yang Menakutkan

Museum Sasmitaloka Ahmad Yani. (Sumber: NaidNdeso/Wikimedia commons, CC BY-SA 3.0)

Mimpi buruk sering mengganggu saya ketika saya duduk di sekolah dasar. Latar belakang mimpi saya selalu sama: rumah tua tempat terjadinya pembunuhan yang sadis.

Ketika saya bangun dan mengingat kembali mimpi itu, saya sering mencoba menelusuri asal mula mimpi tersebut dan teringat akan kunjungan saya dan teman-teman sekolah ke Museum Sasmitaloka Ahmad Yani. Museum di Jakarta Pusat itu berisi diorama Gerakan 30 September dan koleksi barang milik Jenderal Ahmad Yani, salah satu tentara yang diculik dan dibunuh pada peristiwa G30S.

Seingat saya, kami masih duduk di kelas dua SD. Kunjungan tersebut bagian dari karyawisata sekolah. Saya lahir pada 1989, maka ketika saya kelas dua SD di usia sekitar 7 tahun, kunjungan tersebut kemungkinan besar terjadi pada 1996 atau 1997.

Foto masa kecil saya.

Karyawisata itu menjadi pengalaman yang menyeramkan. Masuk ke museum, si pemandu langsung bercerita bahwa di rumah tersebut jenderal bernama Ahmad Yani diberondong tembakan tujuh orang pembunuh dari Partai Komunis Indonesia. Pemandu itu tidak menjelaskan lebih lanjut konteks sejarah peristiwa dan nama-nama yang disebutkan di ceritanya.

Di dinding, ada lukisan yang menggambarkan sang jenderal membuka pintu dan dengan raut terkejut melihat beberapa lelaki berseragam menenteng senapan laras panjang di hadapannya.

Saya ingat jantung saya berdebar-debar melihat lukisan tersebut dan berpikir: “Wow! Pasti inilah saat-saat sebelum sang jenderal dibunuh dengan sadis!”

Di usia 7 tahun, saya belum terpapar dan belum terdesensitisisasi kisah pembunuhan (termasuk buku-buku Agatha Christie yang mulai saya lahap dengan rajin di usia remaja), sehingga penggambaran mengenai pembunuhan, berondongan tembakan, serta darah saat itu sungguh mengganggu pikiran saya.

Kengerian berikutnya timbul ketika sang pemandu museum menggiring saya dan teman-teman sekolah — bocah-bocah belaka— ke tempat tubuh sang jenderal terempas setelah diberondong tembakan. Saya tidak ingat persis berapa jumlah peluru yang disebut oleh si pemandu, yang jelas ia bercerita ada banyak peluru yang dimuntahkan dari moncong senapan para lelaki berseragam.

Lokasi meninggalnya Jenderal Ahmad Yani:(Sumber: Merbabu/Wikimedia commons,CC BY-SA 3.0)

Entah ingatan saya terdistorsi atau tidak, tapi saya ingat saya melihat bercak-bercak kecokelatan di lantai rumah tempat tubuh sang jenderal tersungkur hingga meregang nyawa. Bercak-bercak kecokelatan itu saya percayai merupakan darah sang jenderal yang telah mengering. Tambahan anasir horor berikutnya untuk saya, yang sangat ngeri melihat darah.

Masih terkait dengan darah, dalam ingatan saya, yang mungkin salah, sang pemandu menjelaskan konon kaus putih yang dikenakan sang jenderal saat ditembak digantung di ruangan terpisah di rumah tersebut. Ia bertanya kepada kami apa ada yang tertarik untuk melihat kaus itu. Lagi-lagi, bayangan kaus putih yang dikenakan seseorang sebelum ia dibunuh dengan keji membuat saya semakin takut. Langkah saya kemudian menjadi sangat hati-hati di dalam rumah itu, agar saya tidak memasuki ruangan kaus putih memento mori tersebut dipajang tanpa sengaja.

Sang pemandu juga menunjukkan kamar sang jenderal sebelum terbunuh dan jejeran foto-foto — yang mungkin hasil reka ulang peristiwa malam tersebut — yang memperlihatkan saat-saat sebelum masing-masing jenderal akhirnya menemui para algojo mereka. Saya yang pengecut ini menolak untuk memandangi foto-foto itu. Saya memilih berdiam diri di pojok ruangan.

Semua peristiwa horor itu dijejalkan kepada kami para murid tanpa penjelasan penyebab peristiwa itu. Ketika saya masih duduk di sekolah dasar pun, penjelasan mengenai PKI, yang konon dalang peristiwa pembantaian sadis tersebut, tidak dilakukan secara mendalam.

Kami hanya dicekoki dengan sekumpulan konsep abstrak, yang kini memunculkan banyak pertanyaan ketika saya sudah lebih dewasa.

Apa itu partai? Apa itu komunis? Apa sebab musabab kemunculan mereka? Mengapa mereka ingin menghancurkan bangsa Indonesia? Bagaimana konsep abstrak mengenai bahaya laten PKI itu terejawantahkan dalam kehidupan sehari-hari?

Tidak ada jawaban yang jelas untuk pertanyaan-pertanyaan di atas di masa SD, SMP, dan SMA saya. Peristiwa G30S harus kami hafalkan sebagai bagian dari pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (dan kemudian, Sejarah) tanpa memahami sedikit pun rincian tentangnya. Seolah-olah peristiwa pembunuhan itu terjadi begitu saja, tanpa anteseden atau pun moral cerita yang jelas, untuk meninggalkan efek yang ngeri di dalam benak kami.

Cerita-cerita kakek saya almarhum Mayjen (Purn) L.M Sianturi, seorang jenderal polisi, juga memberikan kesan ngeri soal PKI.

Beliau bercerita beberapa saat setelah peristiwa G30S/PKI (ya, dulu masih ada embel-embel PKI-nya), beliau yang bekerja sebagai anggota polisi hidup dalam ketakutan yang terus-menerus, sampai-sampai harus menyimpan pistol di bawah bantal. Ia membiarkan rambutnya tumbuh agak gondrong karena tidak berani pergi ke tukang cukur, takut lehernya akan digorok.

Saya jarang berminat untuk menggali lebih dalam mengenai kehidupan kakek saya, tapi untuk tulisan ini saya mencari berkas-berkas lama yang terkait dengan kiprah beliau di kepolisian. Ternyata, dalam berkas yang saya temukan, tercantum keterangan pada 1965, beliau bertugas di Jakarta. Berarti ingatan saya mengenai cerita-cerita beliau itu akurat.

Meskipun saya dicekoki oleh cerita-cerita mengerikan mengenai kekejaman PKI di G30S, saya tumbuh tanpa kebencian berlebihan atau ketakutan irasional terhadap PKI.

Efek horor yang saya dapatkan dari cerita-cerita tersebut hanya menyublim menjadi mimpi-mimpi buruk yang syukurnya berhenti muncul ketika saya beranjak dewasa.

Ini mungkin karena narasi yang diciptakan oleh para guru, pemandu museum dan kakek saya terpotong-potong dan tidak diletakkan ke dalam kerangka yang mendukung penjelasan lebih jauh.

Ditambah lagi, ketika saya kelas dua SMP saya membaca esai karya Ayu Utami berjudul Maaf, Kamu PKI Ya? dari bukunya Si Parasit Lajang. Esai tersebut menyadarkan saya bahwa semua cerita horor tersebut adalah narasi yang didramatisasi dan dibuat-buat penguasa untuk melenggangkan kekuasaan mereka sendiri.

Saya rasa esai Ayu Utami itulah yang kemudian membasuh semua mimpi buruk saya tentang Museum Ahmad Yani serta Ade Irma Suryani. Esai itu juga yang menanam antivirus kebencian atas PKI di dalam otak saya. Terima kasih Mbak Ayu, saya penggemar berat karya Anda!

Untungnya lagi, ketika saya duduk di bangku kuliah, saya banyak membaca tulisan-tulisan yang kemudian memberikan sedikit pencerahan tentang peristiwa tersebut. Tulisan-tulisan tersebut juga membuka mata saya bahwa pihak yang dicap PKI ternyata menderita akibat peristiwa tersebut.

Salah satu dari buku tersebut adalah Tahun yang Tidak Pernah Berakhir terbitan ELSAM yang disunting oleh John Roosa, Ayu Ratih, dan Hilmar Farid. Buku ini berisi banyak kesaksian pribadi korban penyiksaan, penganiayaan, dan pengucilan karena dicap PKI atau simpatisan PKI.

Saya juga beruntung pernah menjadi anak didik Dr. Nani Nurrachman, salah seorang dosen saya di Fakultas Psikologi Universitas Katolik Atma Jaya. Ibu Nani adalah putri Jenderal Sutoyo Siswomiharjo yang terbunuh pada 30 September. Ia menjelaskan pada saya terkait dengan tragedi 65, semua pihak (termasuk yang PKI) adalah korban.

Mungkin salah satu faktor kunci yang menyelamatkan saya dari kebencian irasional terhadap PKI (atau mungkin, mimpi buruk yang jauh lebih menyeramkan) adalah karena semasa kecil saya tidak pernah menonton film Pengkhianatan G30S/PKI karya sutradara Arifin C. Noer.

Namun, saya pernah melihat beberapa potongan adegan film tersebut dari buku yang suatu hari dibawa teman sekelas ketika saya kelas 6 SD (kenapa teman saya membawa buku tersebut, saya pun tidak tahu!) yang menampilkan tokoh istri Jenderal Nasution menatap dengan sorot mata nyalang kepada orang yang menembak mati putri kecilnya Ade Irma Suryani — yang sedang ia gendong di dalam gambar itu.

Suatu hari di 2015, selepas menghadiri bincang-bincang mengenai kiprah Arifin C. Noer dalam dunia teater di Komunitas Salihara, sempat muncul juga obrolan tentang keterlibatan beliau dalam film Pengkhianatan tersebut. Seorang peserta diskusi menyebutkan Arifin adalah seorang yang kejam karena membuat ia selalu bermimpi buruk akibat film yang wajib ditonton anak-anak pada masa Orde Baru.

Malam harinya, ketika saya sedang naik taksi pulang dari Salihara bersama aktivis feminis zaman Orde Baru Debra Yatim, saya bertanya kepada beliau, apa gerangan yang menyebabkan saya tidak menonton film “wajib” tersebut, padahal saya sempat merasakan menjadi murid sekolah dasar di tahun-tahun terakhir rezim itu berkuasa, yaitu dari 1994 hingga awal 1998. Jawaban beliau? Singkat saja: “Ah, pada saat itu, Orba sudah menjadi ancient regime (rezim silam)”.

Puji Tuhan saya masuk SD di saat rezim Orba sudah uzur dan nyaris runtuh, kegiatan propaganda sudah memudar, termasuk film Pengkhianatan itu.

Kalau tidak, jangan-jangan adegan-adegan mimpi buruk yang senantiasa saya alami saat masih SD dulu bisa jadi lebih dramatis, sadis, dan ngeri!