Rekonsiliasi itu mulainya dari meja makan

Bagaimana kalian mengikuti Simposium 65? Kalau saya, selama dua hari berturut-turut, 18 dan 19 April, memanfaatkan kekuatan teknologi untuk mengikutinya. Iya saya yang lahirnya berpuluh-puluh tahun setelah peristiwa 1965 itu, sangat penasaran mau tahu apa saja yang dibahas di Simposium 65. Jadi seperti anak milenial kebanyakan, saya memantaunya melalui live streaming plus kicauan di Twitter.

Apa yang saya dapat setelah itu?

Satu hal yang saya tahu banget, sepanjang nonton live streaming, kepala saya persis mesin popcorn yang bikin biji jagung meletup-letup untuk jadi makanan gurih nan empuk. Karena pertanyaan-pertanyaan yang muncul setiap kali nonton film Pemberontakan G30S itu pelan-pelan menemukan jawaban.

Bukan cuman kepala yang bereaksi tapi juga hati saya. Setiap kali mendengar cerita kesaksian dari para penyintas ’65, saya merinding karena menyadari kita melakukan pembiaran atas penderitaan yang mereka alami. Kenapa setelah 51 tahun baru sekarang kita sadar ya?

Ya karena selama 32 tahun, sejarah yang ditulis dan diyakini benar adalah sejarah si pemenang. Alhasil pembiaran itu berlangsung sampai setengah abad lebih.

Lalu sekarang setelah mulai banyak buku, artikel, dan film berbicara terbuka mengenai tragedi 1965, apa yang kita lakukan?

Mungkin kebanyakan dari kita, keluarganya tidak ada yang berarsir langsung dengan peristiwa itu. Sama seperti saya. Tapi saya sangat gelisah melihat bagaimana peristiwa ribuan orang dipenjara bahkan dibunuh tanpa diadili itu terus berdampak pada keseharian kita. Kekerasan jadi opsi untuk menciptakan ketidakpedulian. Seolah-olah asal tangkap dan asal bunuh biasa dilakukan selama tak banyak yang membicarakan. Iya, budaya impunitas itu ada karena kita tidak terbiasa membicarakan apa yang salah di sekitar kita.

Berbicara. Ini yang saya dapat dari Simposium ’65.


Ilmu psikologi bilang, berbicara adalah modal utama dalam keberhasilan suatu hubungan. Mau itu hubungan keluarga, pasangan, maupun negara.

Nggak…saya tidak sedang mencoba mengutip banyak sekali nama para ahli-ahli untuk menguatkan tulisan saya. Karena saya bukan you know who yang hapal sekali banyak teori para ahli yang bisa menegaskan pemikirannya tentang maaf. Saya juga tidak sedang ngelantur, karena menghubungkan 1965 dengan berbicara sebagai modal keberhasilan hubungan.

Salah satu semangat dilakukannya simposium ini adalah untuk mengungkapkan kebenaran dan rekonsiliasi. Bagaimana agar ini terjadi? Harus dimulai dari satuan masyarakat yang paling kecil, keluarga. Iya bahwa kesadaran untuk mengungkapkan kebenaran dan rekonsiliasi itu harus ada juga di setiap keluarga. Karena apa yang terjadi pada peristiwa 1965 itu telah mengarsir kehidupan banyak orang di Indonesia. Kita telah membiarkan itu terjadi selama bertahun-tahun karena tidak pernah membicarakannya dalam keluarga.

Saya teringat salah satu cerita yang ada di Ingat65. Cerita Ika Krismantari, yang tahu kakeknya dipenjara selama 11 tahun tanpa diadili setelah ia bertanya kepada bapaknya tentang 1965. Atau cerita Widiatmoko Putranto yang dibentak neneknya karena pakai kaos palu arit tapi setiap kali dikejar bercerita tentang 1965, neneknya selalu menghindar.

Iya betul, trauma membuat keluarga dan masyarakat kita berpikir untuk tidak membicarakannya. Tapi salah satu pemulihan trauma yang paling mudah adalah dengan bercerita. Ketika kita mulai bercerita, bisa jadi bukan hanya benang kusut trauma yang terurai tapi juga memutus mata rantai ketidakpedulian.

Saya mencoba melakukan ini dengan mama saya. Kami adalah dua orang yang tidak punya kisah trauma langsung dengan 1965, tapi saya tetap mencoba untuk membicarakannya dengan mama saya. Sambil menemaninya memasak, saya bilang kalau dua hari kemarin ada acara yang namanya Simposium ’65. Saya kira mama akan fokus masak tapi dia malah meminta saya terus bercerita.

“Ya ampun yang dibunuh sampai ratusan ribu orang?” tanya mama saya serius.

“Iya. Malah Komnas HAM bilang bisa 500 ribu sampai 3 juta orang,” jawab saya tidak kalah serius karena senang sekali mendapati mama saya yang ibu rumah tangga dan hobi nonton sinetron India yang lagi nge-hits itu ternyata begitu tertarik dengan 1965.

Saya kemudian penasaran, ingatan apa yang dia punya ketika kecil tentang 1965? “Pas kejadian itu, mama masih kecil jadi ngga ingat banyak. Tapi saat itu kita memang tidak boleh nyebut-nyebut PKI, katanya bisa diambil.”

Rasa penasaran mama membuat saya bercerita banyak tentang apa saja yang dibicarakan pada Simposium ’65. Siapa saja pejabat negara yang datang dan pernyataan apa saja yang menarik perhatian. Pada saat saya bercerita ada saja yang mempermasalahkan jumlah dari mereka yang dibunuh, mama saya setengah tak percaya. Pendapatnya sama dengan saya, bahwa satu saja nyawa yang hilang adalah sebuah kejahatan kemanusiaan.

Percakapan kami pindah ke meja makan. Saya terus bercerita bagaimana tragedi 1965 juga dipengaruhi perang dingin Amerika dan Rusia. Lalu bagaimana itu semua membuat banyak pihak asing terlibat untuk meluluh-lantahkan Soekarno dan para pendukungnya.

Tak berhenti sampai di sana, kami berdua juga coba melihat bagaimana impunitas yang terus menerus dibiarkan menimbulkan banyak aksi kekerasan, korupsi, dan stigmasasi.

Setelah makanan di piring habis, percakapan kami pun selesai. Tapi kami berdua mendapatkan banyak informasi baru. Mama saya yang dari dulu terbiasa untuk tidak berbicara tentang 1965 akhirnya punya kepedulian baru atas peristiwa itu. Dan saya yang berpikir peristiwa itu hanya menjadi pembahasan seru di ruang diskusi, kantor LSM, atau ruang rapat pemerintah dan pekerja HAM, ternyata bisa begitu terbuka dibicarakan di meja makan.

Betapa dialog terbuka memang di mulainya dari meja makan. Ini bukan hanya merujuk pada perlunya perut kenyang untuk membentuk masyarakat yang beradab, tapi juga menggambarkan betapa demokrasi itu memang mulainya dari keluarga. Ketika kedua belah pihak berbicara untuk mewujudkan peradaban yang lebih manusiwai, maka kusutnya benang trauma bisa sama-sama diurai dalam sulur kepedulian.

Itu mengapa saya begitu semangat ketika Ingat65 mengajak banyak anak muda untuk mulai berdialog dengan orang yang dituakan di keluarganya tentang 1965. Karena sebelum negara benar-benar memasuki tahap healing process dari sejarahnya yang gelap, setiap keluarga harus terlebih dahulu melepaskan trauma yang mereka punya. Dengan begitu rekonsiliasi nasional bukan hanya menjadi urusan negara dengan para korban dan penyintas saja, tapi juga terjadi pada satuan masyarakat terkecil.

Jadi mari mulai berbicara dan berdialog, karena kita sebagai satuan dari bangsa ini sudah terlalu lama melakukan pembiaran atas pelanggaran-pelanggaran HAM yang terjadi. Semoga dengan begitu kita bisa mewariskan ingatan yang berkeadilan bagi generasi berikutnya.