Salam Harapan dan Perdamaian dari Paduan Suara Dialita

Pada 31 Januari lalu, hujan mengguyur Jakarta pada sore hari. Meski demikian, gedung Goethe Institut penuh oleh pengunjung. Malam itu, Paduan Suara Dialita meluncurkan album kedua yang bertajuk “Salam Harapan” di gedung Goethe Institut. Peluncuran album Paduan Suara Dialita mungkin menjadi salah satu acara yang paling ditunggu-tunggu di awal tahun.

Album kedua Paduan Suara Dialita menawarkan konsep yang lebih matang daripada album pertama, ‘Dunia Milik Kita’ yang dirilis pada September 2016. Pada album baru ini, Paduan Suara Dialita bekerja sama dengan sejumlah musisi, antara lain Bonita, Endah Laras, Endah Widiastuti, Junior Sumantri, Kartika Jahja, dan Sita Nursanti.

Kover album ‘Salam Harapan’ oleh Paduan Suara Dialita

Tepat pukul 19.00 WIB, konser peluncuran album dimulai. Kursi di ruang utama Goethe Institut dalam hitungan jari penuh. Di atas panggung, sejumlah musisi telah siap menjadi pengiring Paduan Suara Dialita dan beberapa artis lain yang berkolaborasi dalam album tersebut.

Sita Nursanti menjadi penampil pertama. Ia membawakan lagu Tetap Tersenyum Menjelang Fajar. Digubah oleh Zubaidah dan Nungtjik A. R., lagu tersebut dinyanyikan pada saat perayaan ulang tahun para tahanan politik (tapol) yang dipenjara pada masa Orde Baru. Lirik tersebut dibuat sebagai ‘pengganti’ lagu yang biasa dinyanyikan saat perayaan ulang tahun, karena kehidupan di penjara terasa terlalu pahit untuk dirayakan dengan suka cita oleh para tahanan politik di hari ulang tahun mereka.

Penampil kedua dan ketiga, Junior Sumantri dan Endah Widiastuti, membawakan lagu Mawar Merah dan Ibu. Kedua lagu tersebut juga menyimpan cerita yang menggugah. Lagu Mawar Merah menceritakan kisah romansa yang putus di tengah jalan, yang merupakan salah satu pengalaman tapol Orde Baru saat menjalani masa tahanan. Sementara itu, lagu Ibu digubah oleh Utati pada Februari 1968 saat ia memasuki tahun pertama menjadi tahanan di Bukit Duri. Kerinduan mendalam terhadap ibu menjadi perasaan yang begitu menyiksanya, dan dengan dibekali pengalamannya bermain musik dan berolah suara, ia pun menciptakan lirik lagu tersebut.

Kemudian sampailah di acara yang paling ditunggu-tunggu, yakni pembawaan lagu oleh Paduan Suara Dialita. Tatanan panggung berubah. Kursi-kursi berwarna putih ditempatkan di atas panggung, menambah kehangatan pada malam hari itu.

Satu persatu anggota Paduan Suara Dialita keluar dari belakang panggung dan duduk di kursi yang telah disediakan. Sejumlah lagu dari album kedua yang ditampilkan pada acara peluncuran album tersebut antara lain Aku Percaya, Tani Menggugah Hati, dan Salam Harapan. Tidak hanya membawakan lagu di atas panggung, mereka juga memberikan kesempatan bagi para penonton untuk memberikan pertanyaan terkait karya-karya dan pengalaman mereka selama ini.

Penampilan Paduan Suara Dialita dalam peluncuran album “Salam Harapan”. (Dokumentasi Adrian Mulya)

Uchikowati, selaku ketua Paduan Suara Dialita, mengaku sangat bahagia dan bangga dengan diberikannya kesempatan untuk melakukan rekaman album kedua di rumah produksi RumahBonita. Selain itu, ia pun juga menyampaikan rasa bahagianya mengingat lagu-lagu yang ada di album pertama mereka ternyata dapat didengar dan dinikmati oleh kalangan muda. Bahkan antusias penonton dari usia muda pun juga terlihat jelas pada malam peluncuran album kedua tersebut.


Saat salah satu penonton bertanya berapa jumlah stok lagu yang dimiliki oleh Paduan Suara Dialita, kami pun dibuat tercengang dengan jawabannya. Dengan wajah yang berseri, mereka menjawab pertanyaan itu dengan menyampaikan masih ada sekitar 25–30 stok lagu yang mereka miliki, dan jumlah tersebut masih akan bertambah. Tedja Bayu, salah satu anak dari Mia Bustam yang juga pernah mendekam di Kamp Plantungan, sedang menulis sejumlah lagu tentang kehidupan penjara Orde Baru yang dapat dilantunkan oleh Paduan Suara Dialita.

Dengan jawaban tersebut, para penonton pun diyakinkan bahwa kita masih akan mendapatkan kesempatan untuk menikmati karya-karya Paduan Suara Dialita di waktu yang akan datang. Paduan Suara Dialita juga menyampaikan keterbukaan mereka untuk para musisi muda yang ingin berkolaborasi atau bekerjasama dengan mereka dalam penggarapan album-album mereka selanjutnya. Hal ini juga ditekankan lagi oleh Petrus Briyanto Adi selaku komposer album “Salam Harapan” yang menyampaikan pesan kepada para generasi muda, terutama yang tertarik dan berkecimpung di dunia musik.

Petrus Briyanto Adi juga mengundang para generasi muda untuk ikut menggali karya-karya yang pernah dibuat oleh para penyintas tragedi kemanusiaan 65–66. Menurutnya, hal tersebut merupakan salah satu cara yang tepat untuk mempelajari sejarah negeri ini dan membuka kebenaran-kebenaran yang selama ini direkayasa dengan sejumlah kepentingan. Oleh karena itu, musik bisa menjadi salah satu media bagi generasi muda untuk terus memperjuangkan penyampaian salam harapan dan perdamaian yang berusaha dilakukan oleh ibu-ibu penyintas yang tergabung dalam Paduan Suara Dialita.