Sisi gelap bangsa di sekitar kita

Film G30S/PKI yang dibuat oleh Orde Baru menjadi satu-satunya acuan sejarah tentang apa yang terjadi pada saat itu dan disalahgunakan oleh pemerintah Soeharto untuk melanggengkan kekuasaannya.

G 30 S 1965 dan dan tragedi yang mengikutinya seperti pembunuhan, penangkapan, dan pemenjaraan tanpa pengadilan kepada mereka yang dianggap terlibat, simpatisan PKI, maupun juga Soekarnois sampai saat ini masih menjadi peristiwa yang sumbing dibicarakan. Ia tabu dibahas, namun kerap kali menyedot perhatian masyarakat di Indonesia.

Dua tahun terakhir ini perbincangan perihal 1965 tidak lagi menjadi milik kaum ‘elitis’ semata, tapi juga milik publik. Salah satu hal yang memantik perbincangan ini adalah dua film dari Joshua Oppenheimer yang membahas tragedi itu: Jagal dan Senyap. Strategi Openheimer untuk mendekati tragedi tersebut bisa dikatakan segar dan memberikan cara baru memandang permasalahan seputar Peristiwa 1965. Cara film tersebut menarasikan tragedi 65 di Indonesia melahirkan polemik, protes, dan kerap kali boikot dari kelompok-kelompok intoleran.

Menurut saya, Peristiwa 1965 dapat menjadi sumur inspirasi yang tak akan pernah habis bagi kerja-kerja kreatif-intelektual.

Pada titik ini kita bisa melihat Peristiwa 1965 di Indonesia dengan kaca mata sosial kemanusiaan. Yoseph Yapi Taum dalam ringkasan disertasinya bertajuk Representasi Tragedi 1965: Kajian ‘New Historicism’ atas Teks-teks Sastra dan Non-sastra Tahun 1966–1998 mengungkapkan ide sosial kemanusiaan sebagai salah satu alasannya menulis karya ilmiah terkait tragedi 1965. Dalam disertasi itu Taum menulis:

Tragedi 1965 merupakan fakta tragis di dalam sejarah kemanusiaan yang membawa penderitaan bagi begitu banyak korban, terutama korban dari pihak anggota dan simpatisan PKI beserta sanak keluarganya.

Korban-korban ini adalah kaum yang, menurut pandangan Gramsci, disebut kaum subaltern, yaitu mereka yang secara tekstual termarginalkan oleh sejarah karena adanya hegemoni historiografi (Bressler, 2007: 363).

Alasan sosial-kemanusiaan ini berkaitan dengan semangat menggugah proses metanoia (pertaubatan) bangsa, yakni mengungkap luka-luka masa lampau untuk tujuan reformasi hati nurani, agar tragedi kemanusiaan seperti itu tidak terulang lagi di masa depan (Taum, 2013: 4).

Saya kira kalimat terakhir kutipan di atas penting untuk direnungkan. Dengan alasan sosial kemanusiaan, kerja kreatif-intelektual dalam rangka melihat Peristiwa 1965 dibutuhkan untuk mencegah terulangnya kembali tragedi kemanusiaan itu.

Pada usianya yang setengah abad ini bergembiralah kita bahwa Peristiwa 1965 semakin menjadi perhatian dari para pekerja kreatif-intelektual.

Buktinya sederhana; pada tanggal 30 September-1 Oktober yang lalu kita menemukan banyak meme dan gambar internet yang mengangkat peristiwa tersebut dengan berbagai cara dan pendekatan serta gaya. Tentu saja lebih banyak lagi karya-karya kreatif yang ‘lebih serius’ yang bisa kita sebutkan.

Salah satu meme yang beredar merespon narasi tunggal yang disebarkan pemerintah Orde Baru.

Peristiwa sejarah tentu perlu didekatkan dan dipahami melalui pendekatan sejarah dan tidak bisa tidak ia perlu dibicarakan dalam horison masa kini sehingga kontekstualisasinya jelas. Beruntunglah bahwa saya termasuk orang yang suka membaca buku-buku sejarah.

Ketertarikan saya pada bacaan-bacaan sejarah pun tentu tidak seluruhnya disumbang dari bangku sekolah. Tentu ada hal-hal lain di luar itu yang membentuk ketertarikan akan membaca. Ayah yang punya hobi serupa dan kolektor buku, misalnya.

Ketertarikan saya akan Peristiwa 1965 dan milieu (lingkungan)-nya memiliki sejarah pribadi.

Kita tahu Orde Baru mengukuhkan ketakutan akan komunisme dan terus memperkokoh tuduhan dosa PKI pada Peristiwa 1965 melalui doktrin-doktrinnya dan juga ‘karya seni’.

Dua karya yang monumental adalah Museum Kesaktian Pancasila dan film Pengkhianatan G30 S/PKI besutan Arifin C. Noer. Ariel Heryanto menyebut narasi utama doktrin orang Indonesia di era Orde Baru perihal peristiwa G30S dan juga 1 Oktober 1965 adalah film ini.

Di masa Orde Baru berkuasa, melalui stasiun televisi negara, TVRI, pemerintah menayangkan film ini setiap tahun di malam 30 September. Belakangan televisi swasta juga diwajibkan untuk memutar film tersebut (Heryanto, 2015: 122). Hampir semua orang Indonesia yang tinggal di Indonesia di waktu-waktu itu wajib menontonnya.

Anak-anak sekolah diwajibkan oleh gurunya (lebih sering guru Sejarah atau PPKN dan tidak pernah sama sekali saya kira guru Penjaskes dan Tata Boga) untuk menyaksikan film itu . Demi memastikan anak-anak itu benar menonton, tak jarang pula sang guru mewajibkan murid-muridnya menulis laporan yang akan diperiksa di kelas.

Museum Kesaktian Pancasila dan Lubang Buaya yang berada di Jakarta Timur itu tak pelak menjadi tempat karya wisata untuk murid-murid sekolah di Jakarta dan bahkan mungkin sebagian besar sekolah di Jawa.

Saya masih ingat ketika kecil dahulu, ayah mengikuti ziarah ke Museum Kesaktian Pancasila dalam salah satu kegiatan di Jakarta yang diikutinya. Ketika pulang, di samping beberapa kardus berisi buku baru dan tentu saja mainan, ia menunjukkan foto-foto perjalanan tersebut.

Galibnya pula, foto-foto itu disertai dengan keterangan kegiatan dalam huruf-huruf tegas beserta logo penyelenggara kegiatan atau kegiatan itu sendiri di bawah foto. Salah satunya adalah foto ia berdiri di depan Monumen Pahlawan Revolusi. Sebagai tambahan keterangan, keluarga kami tinggal di kota kecil bernama Larantuka, di Pulau Flores, NTT.

Bukan tidak mungkin, diam-diam imajinasi tentang Jakarta, ibu kota negara, untuk orang-orang di pelosok kampung kala itu, salah satunya saya, adalah Museum Kesaktian Pancasila dan tentu saja Monumen Nasional. Jangan-jangan pula, ini dugaan saya, orang akan merasa lebih patriotis dan sungguh-sungguh menjadi Indonesia ketika sudah menjejakkan kaki di Museum Kesaktian Pancasila ini.

Saya sendiri belum pernah menyaksikan film “Pengkhianatan G30 S/PKI” secara utuh dan baru sekali mendatangi Museum Kesaktian Pancasila. Itu pun ketika sudah terlibat sebagai redaktur IndoProgress. Alhasil, ketika menyaksikan karya video Fluxcup yang menyulihsuarakan salah satu adegan persidangan komite sentral PKI dari film besutan Arifin C. Noer itu, saya sungguh-sungguh tidak paham sebenarnya apa yang dibicarakan oleh Aidit, Njoto, Lukman dan Sudisman di film itu. Sedangkan beberapa kawan saya sungguh paham apa yang sebenarnya dibicarakan di dalam adegan itu.

Saya lahir dan besar di kota kecil tadi, Larantuka. Ketika SD dan SMP (kira-kira 1991–1999), televisi bukan lagi barang mewah di sana, meski pun tidak semua rumah memiliki televisi. Rumah kami memiliki satu televisi yang hanya bertahan beberapa bulan.

Selanjutnya, antena penangkap gelombang TV kami rusak diterjang angin dan akhirnya si televisi diberikan ke kerabat. Keadaan nir-televisi ini bertahan hingga saya menyelesaikan SMP. Alhasil, ketika guru PPKN mewajibkan saya menyaksikan Pengkhianatan G30 S/PKI, saya tidak bisa menyaksikannya di rumah. Saya harus menyaksikannya di rumah tetangga.

Masalahnya lagi, film itu diputar di malam hari waktu Jakarta. Nah, tentu saja saya tidak mau juga keluar malam-malam di tengah kampung yang sepi demi film itu.

Orang tua saya, ayah saya guru, merasa saya tidak perlu sepatriotik itu menembus udara malam demi menonton film itu. “Sudah, nanti Bapak yang minta izin untuk tak usah menonton ke gurumu,” kira-kira begitu ayah memberi solusi atas permasalahan itu.

Pertemuan pertama dengan PKI, komunisme, dan kiri baru terjadi di bangku SMA kelas dua. Kala itu saya bersekolah di Seminari, sekolah persiapan untuk calon imam setingkat SMA. Ketika itu, dalam rangka Pesta Santo Pelindung sekolah, diadakan lomba pembacaan cerpen bersama lomba-lomba lainnya. Pastor yang merangkap guru Bahasa Indonesia menyerahkan koran Kompas minggu kepada panitia dan mengusulkan cerpen yang ada di sana dijadikan sebagai salah satu cerpen pilihan untuk peserta lomba.

Cerpen ini, demikian informasi dari Sang Pastor, ditulis oleh penulis yang selama masa Orde Baru tidak bisa menulis dan hidup dengan nama samaran. Saya lupa siapa pengarang itu. Tapi setidaknya maklumat Pastor kala itu cukup menggelitik. Dilarang menulis dan hidup dengan nama samaran terasa sangat seksi untuk saya saat itu.

Saya lantas kuliah di Program Studi Jerman, Fakultas Ilmu Bahasa Universitas Indonesia. Di sana, kami punya tempat nongkrong oke bernama Kansas (Kantin Sastra). Berbaurlah saya di situ dengan kawan-kawan dari jurusan lain, termasuk kawan-kawan jurusan sejarah.

Setiap bulan September pasti ada seminar atau diskusi tentang 1965 di kampus itu. Bahkan, salah satu kawan dari jurusan sejarah pernah berseloroh, 1965 itu tema seminar sepanjang masa selama Indonesia ini ada.

Sesudah saya pindah ke STF Driyarkara, saya, dengan dua kawan lain, membentuk kelompok studi Marxisme, Komunitas Marx, yang meningkatkan cara membaca sejarah saya yakni dengan asumsi materialisme historis.

Sedikit banyak sumbangsih dari itu adalah kesadaran akan betapa pentingnya memahami semangat zaman yang historis dari peristiwa sejarah; dalam hal ini Peristiwa 1965.

Pencerahan-pencerahan yang demikian ini, kesadaran bahwa film Arifin C. Noer itu film propaganda, bahwa Orde Baru berusaha melegitimasi kekuasaannya dengan mengkambinghitamkan komunisme, bahwa materialisme-dialektik-historis itu benar secara ilmiah, kerap berlangsung di jalan yang sepi.

Kebetulan saya beruntung bisa berada di ruang-ruang sunyi sepi itu. Maka, seloroh kawan saya tadi bahwa Peristiwa 1965 akan menjadi tema seminar sepanjang masa barangkali perlu disetujui dalam arti yang lebih positif.

Kita perlu membicarakan hal itu terus menerus, berulang-ulang pun tak apa, sampai sebanyak mungkin orang menjadi paham. Barangkali memang meluruskan pemahaman seputar Peristiwa 1965 bukan seperti kerja buldoser meratakan jalan, tetapi lebih mirip kerja tetes demi tetes air yang melubangi batu.

Tulisan ini pertama kali terbit di blog pribadi Berto Tukan dan esai ini merupakan hasil suntingan tim editor Ingat 65. Baca tulisan aslinya di sini.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.