Ingat65: Generasi muda tak ingin lupa

Saat itu, saya tak memercayai apa yang saya baca. “’Act of Killing’ Film fails to stir Indonesia” bunyi judul artikel di The New York Times, di awal bulan Maret, dua tahun yang lalu.

Artikel tersebut mengatakan film Jagal, yang dibuat oleh Joshua Oppenheimer dan kru anonim Indonesia mengenai sekelompok preman tua yang bangga bercerita bagaimana mereka membunuh di 1965, gagal memulai sebuah perdebatan yang bisa mendorong pemerintah Indonesia membuka investigasi mengenai kekejaman tersebut.

Memang yang digambarkan artikel tersebut ada benarnya: hampir tak ada televisi nasional memberitakan nominasi film Oscar untuk film Jagal, dan Kejaksaan Agung tidak memproses investigasi Komnas HAM mengenai pelanggaran HAM berat di tahun 1965.

Tapi bagi saya pribadi, film tersebut tidak gagal dalam mengaduk perasaan saya. Sesudah Jagal, saya tidak lagi melihat sejarah Indonesia dengan cara yang sama. Saya menjadi tahu mengenai pembunuhan, penyiksaan, penahanan, pengasingan lebih dari satu juta orang dan sadar bahwa itu adalah kejahatan.

Sebelumnya, saya tidak tahu mengenai kekerasan sistematis terhadap kelompok yang beraliran politik kiri di Indonesia. Saya dibesarkan dengan propaganda anti-PKI Orde Baru. Pun bila saya mendengar cerita bahwa ada anggota Partai Komunis Indonesia yang dibunuh sesudah G-30-S, saya tidak mempertanyakannya. PKI jahat, maka pantas dibunuh, begitu dulu pemikiran saya.

Saya merasa, tentu banyak yang gusar seperti saya mengenai sejarah 1965. Mungkin mereka tidak menonton Jagal, tapi mendapatkan informasi dari tempat lain. Tetapi pada akhirnya mereka akan sampai pada kesimpulan yang sama: pembantaian dan kekerasan yang terjadi di tahun 1965 salah.

Saya kemudian mencoba mencari tahu bagaimana pendapat kawan-kawan yang satu generasi dengan saya. Beberapa memang tidak tertarik, tapi banyak juga yang penasaran. Bahkan keingintahuan mereka membawa mereka pada kisah-kisah terpendam keluarga.

Saya merangkum pencarian saya dalam sebuah tulisan mengenai bagaimana generasi pasca-1965 mulai terpapar informasi mengenai pembantaian, penyiksaan dan penahanan ratusan ribu orang tanpa pengadilan. Mereka, berbeda dengan sebagian besar generasi pendahulunya, tidak ingin membiarkan “yang sudah, sudah”. Mereka ingin mengingat.

Ada yang tanya pada saya: “Apa peran yang bisa diambil anak muda dalam meningkatkan kesadaran mengenai kekejaman, dan lebih luas meminta transparansi dan akuntabilitas?”.

Saat itu saya menjawab penting bagi generasi muda berbicara dengan orangtua, kakek nenek , saudara dan tetangga mereka untuk mengetahui bagaimana 1965 memengaruhi kita secara personal. Saya juga menjawab bahwa kita harus bersama-sama menciptakan gerakan untuk mendorong transparansi dan akuntabilitas.

Ingat65 adalah gerakan itu.

Logo Ingat65, yang didesain oleh Muhammad Fatchurofi melambangkan apresiasi untuk keterbukaan dan partisipasi dalam upaya mengingat sejarah 1965

Ingat65 adalah proyek penceritaan kisah secara digital untuk mengingat periode 1965 di Indonesia secara kolektif melalui pengalaman pribadi keluarga dan masyarakat. Ini merupakan proyek mengingat yang dilakukan oleh generasi pasca-65 untuk membagi cerita mereka mengenai bagaimana mereka mengetahui periode kelam ini dan bagaimana ini memengaruhi keluarga dan komunitas di sekitar mereka. Ingat65 merupakan wadah bagi generasi muda untuk menyuarakan harapan mereka untuk masa depan dan sebuah gerakan independen yang tidak condong pada pandangan politik tertentu.

Ingat65 terinspirasi oleh banyaknya anak muda yang peduli dan meluangkan waktu untuk mengungkapkan pendapat mereka mengenai sejarah 1965, seperti Ayu Diah Cempaka yang menulis pandangannya di geotimes.com, para penulis satire di mojok.co, para anggota redaksi pers mahasiswa Lentera di Salatiga yang terus menerbitkan edisi “Salatiga Kota Merah” online meskipun diintimidasi oleh polisi, para designer muda yang mengekpresikan kepedulian mereka lewat ilustrasi yang menyentuh, kawan-kawan Taman 65 di Bali dan musisi-musisi independen seperti Banda Neira, Jerinx Superman is Dead dan Navicula yang menggubah ulang lagu-lagu yang diciptakan dalam penjara Pekambingan di Bali oleh tahanan politik korban kekerasan 1965, dan masih banyak lagi.

#50tahun65 karya Ellena Ekarahendy

Ini menunjukkan kerja keras penyintas dan keluarganya, sejarahwan, peneliti, aktivis, seniman, musisi dan pembuat film dokumenter yang mencoba mengungkapkan mengenai kekerasan yang terjadi saat itu perlahan menunjukkan hasilnya. Lima puluh tahun sejak terjadinya pelanggaran HAM berat di tahun 1965, sebagian generasi pasca-65 semakin sadar bahwa mereka telah dibohongi dan diambil hak mereka untuk mengetahui sejarah bangsa mereka.

Ingat65 memberi tempat bagi lebih banyak anak muda bersaksi tentang bagaimana propaganda soal 1965 memengaruhi hidup mereka. Kami mendorong anak muda bertanya pada orangtua, saudara dan lingkungan sekitar mereka tentang apa yang mereka ingat terjadi di tahun 1965. Ingat65 akan menjadi wadah cerita-cerita kalian.

Di hari internasional untuk hak atas kebenaran mengenai pelanggaran HAM berat dan martabat korban 2016 kami meluncurkan edisi pertama Ingat65. Di medium.com/Ingat-65, setiap Kamis kami akan terbit dengan kisah personal generasi muda Indonesia tentang 65.

Kami dedikasikan peluncuran Ingat65 untuk korban dan penyintas 1965. Ini untuk mereka yang terbunuh, dipenjara, disiksa, dihilangkan dan untuk keluarga dari para korban. Tapi, ini juga untuk semua orang Indonesia, termasuk generasi muda. Karena sampai bangsa ini bisa dengan bersahaja mengakui, mengingat kesalahan masa lalu, dan menceritakannya pada generasi selanjutnya, kita semua masih menjadi korban dari pengingkaran terhadap kebenaran.