Tragedi 1965 di Mata Saya : Terima Kasih kepada Novel ‘Pulang’

Awal perkenalan saya dengan Peristiwa 30 September 1965 tentu dari buku sejarah di sekolah. Meski, berbeda dengan murid sekolah generasi dahulu. Saya tidak diwajibkan menonton film Pengkhianatan G30S/PKI atau mengunjungi lubang buaya.

Jadi di usia saya yang sudah menginjak usia 20 tahun ini saya belum pernah menonton film yang judulnya Pengkhianatan G30S/PKI, atau berkunjung ke lubang buaya. Di sekolah, Peristiwa G30S tersebut tertulis tidak berbeda dengan peristiwa lainnya dalam buku sejarah.

Belajar sejarah di sekolah, tidak memberi pelajaran yang banyak. Tak ada sejarah yang dikenang karena semua dihapal hanya untuk nilai, tak ada diskusi, tak ada sejarah yang dihayati, direnungkan, dipikirkan.

Dan itu terus tak berubah bagi saya mulai saat duduk di sekolah dasar, ataupun di sekolah menengah pertama, maupun di sekolah menengah atas.

Saya pikir, sia-sia saja uang orang tua yang terpakai membeli buku-buku sejarah itu. Dengan mata pelajaran yang jumlahnya belasan, tugas menumpuk dari masing-masing pelajaran (kalikan saja), pikiran anak sekolah dipaksa untuk hanya fokus pada pencapaian akademik belaka. Tujuan belajar yang hakiki terlupakan.

Namun, saya kemudian sadar bahwa sejarah hanya akan jadi aksesoris kepala jika tidak diikuti dengan penghayatan dan daya pikir yang kritis.

Sejarah mengenai 1965 mulai menjadi amat menarik bagi saya justru setelah saya membaca sebuah novel pada bulan Agustus 2017 lalu. Novel ini sangat apik dikarang oleh salah seorang penulis kenamaan Indonesia bernama Leila S. Chudori. Saya menemukan novel tersebut di perpustakaan kampus dan langsung tertarik membacanya karena sudah sering mendengar judul novel itu sebelumnya.

Novel ‘Pulang’ mengisahkan sebuah kehidupan yang muncul dari rahim sejarah 1965, singkatnya, kisah dalam novel tersebut tidak akan ada apabila tragedi tersebut tidak terjadi.

Dari novel tersebut saya mampu mendapat gambaran soal kehidupan pasca tragedi 1965 dari berbagai sudut pandang, dari sudut pandang seorang tahanan politik sampai sudut pandang keluarga dari tahanan politik.

Melalui kisah-kisah mereka saya menjadi tahu mengenai terjadinya pelanggaran Hak Asasi Manusia yang sangat berat dengan jutaan orang menjadi korban pada saat itu. Seolah untuk melengkapi semua penderitaan itu, pemerintah pada saat itu bertindak hanya sepanjang kepentingan yang menguntungkannya saja.

Jika saya adalah korban, saya tidak akan terima. Tetapi saya tidak duduk di kursi penguasa dalam gedung-gedung tinggi. Saya tidak memiliki kekuasaan, dan oleh sebab itu saya akan tetap merasa kalah.

Alam, salah seorang tokoh dalam novel diceritakan mengenalkan sebuah terminologi baru, yakni malpraktek sejarah. Alasan dibalik munculnya istilah tersebut sangat ironis. Rupanya, sejarah ada yang memiliki. Dan mengalami belum tentu dapat memiliki sejarah. Seseorang harus memiliki kekuasaan dan kepentingan untuk dapat memiliki sejarah.

Itulah sebabnya sejarah berdarah 1965 pun dapat dimanipulasi di tangan penguasa Orde Baru. Mereka membungkusnya dengan apik dalam buku sejarah. Melalui sistem pendidikan sejarah versi Orde Baru tersebut didistribusikan kepada generasi Indonesia yang baru. Begitu seterusnya hingga detik ini. Adik saya (yang sekarang duduk bangku SMP), ketika saya tanya mengenai PKI pun, jawaban pertama yang keluar dari mulutnya adalah kata penyerangan. Ini membuktikan bahwa tidak ada bedanya pandangan generasi muda dan tua terhadap PKI.

Sudah setengah abad lebih semenjak peristiwa tersebut terjadi, kisah yang lebih intim mengenai 1965 macet pada mereka yang memiliki hubungan langsung dengan peristiwa tersebut dan atau pada mereka yang beruntung menyadari bahwa sejarah 1965 masih memiliki perjalanan panjang serta turut terjun dalam perjuangan penyelesaiannya.

Dengan pengetahuan masyarakat Indonesia yang minim tentang 1965, perjuangan untuk mengakhiri masalah 1965 terlalu berat jika hanya aktivis atau penyintas yang memikulnya, dan akan sangat berlika-liku penyelesaiannya.

Andaipun seluruh masyarakat tahu, mafhum, akan keganjalan sejarah 1965, tragedi tersebut membawa trauma yang terlampau besar untuk mental yang terlalu cilik. Tidak semua yang tahu akan memilih bertindak, sebagian akan memilih menjadi netral, atau memilih sikap yang akan menjaga mereka tetap aman.

Saya yakin bahwa dibutuhkan lebih dari sekadar mengetahui, akan tetapi kesadaran dan keberanian dari seluruh masyarakat Indonesia, sebab hanya dengan kekuatan sebesar itu penuntasan masalah pasca tragedi 1965 jadi bukan hal yang mustahil lagi.