Inobu
Published in

Inobu

Kontradiksi Sektor Pariwisata dan Pertanian Lada Terhadap Penambangan Timah di Bangka Belitung

Sebuah Opini Ringan

Gambar 1. Pantai Tanjung Tinggi. Foto: Nuralmaliah

Pada penghujung Desember 2019, saya menyempatkan diri untuk pulang ke tanah kelahiran, Pulau Belitung. Tidak seperti 9 atau 10 tahun sebelumnya, penerbangan ke Pulau Belitung sekarang, selain jauh lebih ramai, juga lebih sering dan murah[1]. Bila dahulu, penerbangan ke Belitung biasanya hanya didominasi oleh kaum Aparatur Sipil Negara dan pebisnis, saat ini penerbangan ke Belitung juga ramai oleh wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Setelah tetralogi buku Laskar Pelangi karya Andrea Hirata meledak hingga pasar internasional dan difilmkan, nama Belitung melambung, mengundang siapa saja untuk berkunjung[2]. Namun, ketika melihat kondisi alam dan lingkungan Belitung saat ini dari jendela pesawat, membuat kedukaan tersendiri bagi saya yang tumbuh dan besar di tanah Belitung.

Gambar 2. Open Pit Nam Salu, salah satu lahan bekas tambang di Kelapa Kampit, Belitung Timur. Foto: Nuralmaliah

Tampak dari jendela pesawat, kolong-kolong (kolam penambangan) dan lubang-lubang besar yang diakibatkan adanya aktivitas tambang timah[3]. Kolong-kolong besar ini terletak berseberangan dengan area yang dulunya hutan dan telah tergantikan dengan pohon-pohon sawit. Kesedihan itu bertambah ketika saya mendapati kabar bahwa Belitung di beberapa tahun terakhir sering dilanda banjir[4],[5], bencana yang sebelumnya jarang terjadi semasa saya kecil.

Pada tahun 2013, BPS mencatat total luas lahan kritis di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) sekitar 1.630.474,84 ha, dengan 60 ribu ha diantaranya digolongkan sebagai lahan sangat kritis[6] (lihat Tabel 1). Sementara itu, pada tahun 2017, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI mengumumkan bahwa aktivitas penambangan bijih timah bertanggung jawab terhadap 275.500 ha lahan kritis di Babel[7].

Tabel 1. Data Lahan Kritis Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Tahun 2013, (Sumber: Badan Pusat Statistik Provinsi Kep. Bangka Belitung)

Lahan sangat kritis yang ada di Provinsi Kepulauan Babel, sepertinya disebabkan oleh tidak sesuainya penggunaan lahan dengan kemampuan lahan sehingga mengakibatkan kerusakan, bukan hanya fisik, namun juga kimia maupun biologis dari lahan tersebut[8].

Gambar 3. Peta Lahan Kritis Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Sumber: KLHK, 2016)[9]

Sementara di sisi lain, melihat potensinya, Pulau Belitung dicanangkan menjadi tujuan wisata unggulan setelah dimasukkan ke dalam daftar program 10 Bali Baru dan juga ditetapkan termasuk dalam Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di bidang pariwisata[10], sesuai dengan Peraturan Pemerintah No 6/2016. Diharapkan melalui program 10 Bali Baru dan KEK tersebut, pemerintah dapat membantu mendongkrak destinasi wisata lain di Indonesia selain Bali, dengan berbagai perbaikan infrastruktur, layanan, hingga promosi. Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko, menyampaikan terkait pariwisata di Belitung, harus dapat didukung dengan pengembangan sumber daya manusia (SDM) di Belitung[11]. Selain itu, pada kesempatan lain, Moeldoko juga menyampaikan pentingnya untuk menjaga kebersihan di lokasi-lokasi wisata di Belitung[12]. Pengembangan SDM dan kebersihan memang memiliki perananan penting dalam sektor pariwisata. Namun, kelestarian alam jauh lebih penting mengingat Belitung menawarkan keindahan pantai dan alam yang pengelolaannya harus berkelanjutan. Kegiatan yang bersifat ekstraktif seperti penambangan timah bertentangan dengan semangat berkelanjutan dan upaya pembangunan pariwisata di Belitung.

Selain pariwisata, Provinsi Kepulauan Babel juga merupakan salah satu daerah sentra penghasil lada nasional. Pada tahun 2016, Provinsi Kepulauan Babel menyumbang sekitar 40% produksi pala nasional. Sebagian besar perkebunan lada tersebut diusahakan oleh keluarga petani kecil, yang jumlahnya mencapai 57.000 keluarga[13].

Gambar 4. Jumlah petani dan luas lahan kebun lada di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung tahun 2016, (Sumber: Kompas, melalui Jalur Rempah Nusantara)

Namun, mirip dengan tren yang terjadi pada tingkat nasional, penurunan produksi lada juga terjadi di Provinsi Kepulauan Babel[14]. Beberapa laporan menyebutkan bahwa penyebab dari turunnya produksi lada di Provinsi Kepulauan Babel, antara lain akibat serangan hama penyakit, biaya produksi yang semakin tinggi, bibit yang mahal, perubahan iklim, dan aktivitas penambangan timah[15]. Kondisi-kondisi tersebut pun masih dipengaruhi oleh anjloknya harga lada di tingkat petani, sehingga semakin mempersulit petani dalam pembudidayaan lada[16].

Pertambangan timah ini juga bertanggung jawab terhadap perubahan tutupan lahan di berbagai daerah di Bangka Belitung. Pembukaan lahan untuk kegiatan pertambangan, dilakukan dengan pembersihan dan penebangan pohon-pohon di wilayah hutan[17] dimana mengakibatkan lahan kritis. Hal ini berdampak pada kegiatan pertanian. Lahan kritis menurunkan kemampuan tanah untuk menyerap air yang menyebabkan banjir yang pada akhirnya mengganggu produksi lada. Salah satu penyebab utama kematian tanaman lada di Bangka Belitung adalah penyakit busuk pangkal batang, yang disebabkan oleh kelebihan kadar air[18].

Gambr 5. Kegiatan menambang timah konvensional. Foto: Nuralmaliah

Oleh karena itu, perhatian dan usaha untuk mencari solusi permasalahan pada sektor pariwisata dan pertanian lada yang diakibatkan pertambangan timah harus menjadi prioritas. Inisiatif bersama dan komprehensif perlu dibangun dalam mengentaskan permasalahan tersebut, tentunya dengan kolaborasi bersama berbagai pihak, mulai dari masyarakat, LSM, swasta, dan pemerintah, baik daerah maupun nasional. Sektor pariwisata yang merupakan potensi sumber pendapatan bagi masyarakat harus dikelola dengan sebaik mungkin agar berkelanjutan. Dan, pertanian lada di Bangka Belitung, yang berkontribusi besar terhadap produktivitas lada nasional, layak menjadi perhatian. Dengan mengutip Boochin, kita harus sepenuhnya paham dan sadar betul, bahwa krisis ekologis, tidak hanya membayangi tetapi menimbulkan tantangan terhadap kapitalisme, dan keseluruhan tatanan sosial yang ada[19].

Jakarta, 2020

Referensi:

[1] https://blog.tiket.com/berbagai-cara-untuk-ke-belitung-mulai-dari-naik-pesawat-sampai-ferry/

[2] https://travel.detik.com/travel-news/d-2989289/pariwisata-belitung-naik-1800-karena-film-laskar-pelangi

[3] https://www.mongabay.co.id/2019/11/03/mendulang-karbon-di-negeri-sejuta-kolong/

[4] https://klikbabel.com/2019/12/06/sebanyak-457-rumah-warga-belitung-terendam-banjir

[5] https://www.sayangi.com/2017/07/17/91154/news/bnpb-banjir-belitung-akibat-hujan-ekstrem-dan-degradasi-lingkungan

[6] https://babel.bps.go.id/dynamictable/2016/10/17/236/lahan-kritis-provinsi-kepulauan-bangka-belitung.html

[7]https://www.republika.co.id/berita/nasional/daerah/17/08/16/ous2dp284-275500-hektare-lahan-di-babel-kritis

[8] https://bangka.tribunnews.com/2019/05/03/20-ribu-hektar-lahan-sangat-kritis-di-babel-paling-dominan-akibat-pertambangan

[9] http://sipdas.menlhk.go.id/documents/926

[10] http://ksp.go.id/bahas-pariwisata-belitung-moeldoko-telepon-langsung-menhub-dan-dirut-garuda/

[11] http://ksp.go.id/bahas-pariwisata-belitung-moeldoko-telepon-langsung-menhub-dan-dirut-garuda/

[12] https://www.jalajahnusae.com/sportourism/31/08/2019/kepala-staf-kepresidenan-moeldoko-puji-infrastruktur-pariwisata-belitung/

[13] https://jelajah.kompas.id/jalur-rempah/baca/pasang-surut-lada-bangka-belitung/

[14] https://www.merdeka.com/uang/ini-penyebab-turunnya-produksi-lada-bangka-belitung.html

[15] https://www.merdeka.com/uang/ini-penyebab-turunnya-produksi-lada-bangka-belitung.html

[16] https://bangka.tribunnews.com/2019/11/04/harga-lada-bangka-belitung-anjlok-rp-40-ribu-per-kg-begini-penjelasan-bp3l-aeli-dan-tp4l

[17] https://www.mongabay.co.id/2019/09/23/jerit-petani-lada-dalam-pusaran-tambang-timah-bagian-1/

[18] https://www.mongabay.co.id/2019/09/23/jerit-petani-lada-dalam-pusaran-tambang-timah-bagian-1/

[19] Ekologi dan Anarkisme. Bookchin, Murray. Pustaka Catut. 2018. https://pustaka.anarkis.org/portfolio/ekologi-dan-anarkisme/

--

--

--

Stories from the Indonesian archipelago related to the sustainable management of landscapes and seascapes.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store
Surya Meihdhy Basri

Surya Meihdhy Basri

A good reason to live is also a good reason to die- A. Camus. I spent 30 days of non stop travel, Yet I can spend a week not going out from home and alone.

More from Medium

What if..?

kruskal’s algorithm

Man-made reasoning and Machine Learning simplified

February Presentation