Apa itu konteks dan mengapa hal itu penting dalam pembuatan produk digital?

1. Apa itu konteks?

Menurut wikipedia, Konteks adalah kondisi di mana suatu keadaan terjadi. Hmmm…. oke agak membingungkan :)) , mari gunakan contoh.

Contoh 1:

Anda berada di mini market, Anda mengambil beberapa barang, Anda membawanya ke kasir, lalu anda membayar dan pulang. Maka konteks dari kegiatan Anda tadi adalah proses membeli barang dengan tujuan mendapatkan barang.

Contoh 2:

Anda berada di rumah makan, Anda melihat menu, Anda bilang apa makanan yang Anda inginkan, dan kemudian makanan Anda datang. Maka konteks dari kegiatan Anda tadi adalah proses memesan makanan dengan tujuan mendapatkan makanan.


2. Pentingnya sebuah konteks

Bayangkan jika saat Anda di mini market, membawa banyak barang dan saat tiba di kasir, sang kasir malah menaruh kembali barang barang Anda di rak seperti semula, tanpa memberitahu alasannya. (yah… walaupun ini gak mungkin terjadi sih)

Jika hal itu terjadi pasti Anda akan kebingungan, karena konteks Anda adalah sedang dalam proses membeli barang. Tapi hal yang baru saja terjadi sama sekali tidak berhubungan dengan proses membeli barang.


3. Konteks dalam pembuatan produk digital

Sebagai designer, dalam membuat sebuah produk digital, banyak sekali konteks yang harus kita pikirkan.

Kita ambil contoh fitur login di online shop. Fitur login adalah fitur yang digunakan user untuk masuk ke dalam akun nya. Dalam mengakses fitur login ada beberapa kondisi:

Kondisi 1:

Budi membuka suatu website online shop, lalu melakukan login, dengan tujuan ingin melihat status pengiriman barang yang kemaren dibelinya dan juga ingin mengedit data profile nya. Jadi konteks pada kondisi 1 adalah… Budi melakukan login dengan tujuan melihat status pengiriman barang.

Kondisi 2:

Budi membuka suatu website online shop, lalu memilih barang, lalu melakukan checkout, Karena Budi belum login maka untuk melanjutkan proses pemesanan barang, sistem dari website tersebut meminta Budi untuk login, agar datanya bisa tersimpan di akun Budi.

Pada kondisi 2, konteksnya adalah… Budi melakukan login, karena saat melakukan proses pemesanan barang, sistem mendeteksi bahwa budi belum login, sehingga sistem meminta budi untuk melakukan login agar bisa melanjutkan proses pemesanan.


Saat melakukan perancangan desain, kita harus membuat masing masing alur untuk dua kondisi tersebut. Kenapa harus membuat dua alur untuk sebuah fitur yang sama? Karena walaupun fiturnya sama tapi konteksnya berbeda.

Untuk kondisi 1, kita bisa membuat alur sebagai berikut:

  • Budi membuka website online shop
  • Budi mengklik menu login
  • Setelah login, Budi diarahkan ke halaman user profile

Untuk kondisi 2, kita bisa membuat alur sebagai berikut:

  • Budi membuka website online shop
  • Budi memilih barang lalu memasukkan ke keranjang belanja
  • Budi menekan tombol checkout
  • Karena Budi belum login maka sistem meminta Budi untuk login dengan menampilkan form login
  • Setelah login, Budi diarahkan ke halaman pembayaran.

Bayangkan jika kita tidak membedakan alurnya, Pada kondisi 2, setelah Budi melakukan login, Budi diarahkan ke halaman user profile. Tentu Budi akan kebingungan. Karena konteksnya Budi sedang dalam proses membeli barang, tapi kenapa tiba2 malah berada di halaman user profile.


4. Konteks kurang lebih adalah guideline

Dengan mengerti sebuah konteks kita bisa membayangkan apa tujuan dari user tersebut dan kita bisa membuat alur yang informatif sehingga membuat user nyaman untuk mencapai tujuannya.


Semoga bermanfaat :)

Special thanks to Solechan yang telah membantu dalam proses penulisan artikel ini
Like what you read? Give Dwinawan a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.