Arie Aulia Nugraha — UI Lead, Traveloka

Arie adalah seorang UI Lead di salah satu startup di Indonesia, Traveloka dan juga seorang designer yang hobi bikin plugin sketch. Yuk… simak perbincangan dengan Arie bagaimana ia berproses hingga menjadi seperti sekarang ini.

1. Halo Arie, lagi sibuk apa neh?

Lagi sibuk ngedit icon satu-satu manual, supaya size .svg nya mengecil dari 1kb ke 400 bytes 😆 (no kidding tho)


2. Kenapa tertarik dengan dunia desain?

Sejak kecil saya suka menggambar. Lalu setelah berkenalan dengan PC, saya langsung jatuh cinta dengan kemampuannya dalam berkreasi, seperti menggambar menggunakan paint, edit gambar dengan photoshop, membuat lagu dengan fruityloop dan banyak hal lainnya.

Dan juga, Saya suka sekali main games, Sampai saat ini tampaknya games masih jadi paket multimedia yang paling lengkap. Mulai dari storytelling, musik, animasi, grafis, video, dan interaksi digital. Elemen terakhir itulah yang membuat saya akhirnya tertarik ke desain UI.


3. Pernah ada ketertarikan untuk terjun ke dunia games?

Jelas pernah. Saya sampai niat sekali membuat project game menggunakan RPGMaker. Dan saking terobsesinya untuk bisa membuat game yang lengkap, saya belajar berbagai hal seperti Desain karakter , Pixel Art, Programming, Storytelling, Musik 8 bit, Video, Membuat alur game yang logis, Desain interface dan banyak hal lainnya.

Long story short, the project (of course) is not finished, but it’s fun!

Tapi saya sangat bersyukur pernah berada di masa masa terobsesi membuat game. Karena dari obsesi tersebut saya “terpaksa” belajar macam-macam hal yang terkait dengan game development.

Jadi tidak terasa seperti belajar. Taunya hanya skill ini perlu dipelajari untuk mencapai tujuan (membuat game).

Jadi jika kamu punya mimpi, jangan takut untuk mengejar. Karena dalam perjalanannya kamu bakal mendapatkan banyak hal berharga.

4. Bisa diceritakan bagaimana kamu masuk ke dunia UI/UX ini?

Saat kuliah dan lepas kuliah saya sering terlibat dalam project atau kompetisi dan berperan sebagai “web designer” dalam tim tersebut.

Berbekal skill olah grafis digital dan semangat untuk bikin produk yang berguna, sejak saat itu saya mulai berkenalan dengan “UX” (early 2009).

Melalui twitter saya menemukan circle desainer dengan fokus yang lebih user-centric. Saya juga mencari tahu perkembangan Desain dan UX di indonesia dan di situ saya menemukan akun twitternya Qonita (uxqonita).

Pekerjaan pertama saya setelah lulus kuliah adalah freelance, saya mengerjakan UI desain untuk web atau apps dari startup-startup di inkubator.

Pekerjaan freelance pertama tentang desain tersebut juga membawa ke perkerjaan-pekerjaan freelance berikutnya. Tawaran untuk bekerja fulltime remote pun datang dan masih seputar web design, mengerjakan data dashboard, mulai dari desain mockup hingga implementasi frontend (yang saat itu masih html css php sederhana).

Limakilo dan WeCare adalah dua dari beberapa startup yang pernah ditangani oleh Arie

5. Bisa diceritakan bagaimana proses belajarmu hingga sampai seperti sekarang ini?

Hmm, sebenernya kalau dirangkum proses belajar saya biasanya dengan baca, browsing, ngobrol-ngobrol sama para master (istilah kerennya brainpicking) tentang banyak hal (terkait maupun ngga terkait sama desain) lalu mencari benang merah antar topik-topik tersebut. Makin banyak yang dibaca, makin kerasa kalau banyak hal itu sebenernya berkaitan.


6. Kenapa kamu memutuskan untuk tetap berada di bidang ini?

Saat berkenalan dengan web desain, Saya langsung bisa menarik paralel dengan project game saya waktu masih muda, Terkait dengan bagaimana interaksi dilakukan, Dan bagaimana cerita dibuat.

Bedanya, produk digital website ini bisa dibuat dengan tujuan untuk membantu orang-orang menyelesaikan problem-problem yang lebih bermacam-macam di dunia nyata.

Kesempatan baru ini membuat cara pandang saya tentang teknologi berubah. Ada tujuan/goal yang lebih besar dari berkreasi. Karya kita di medium digital dan space virtual bisa secara intensional dibuat untuk membantu orang menyelesaikan masalah-masalahnya di dunia nyata.

Impact nya menembus batas dua dunia (digital ke real), dan kita sebagai orang yang memahami kedua dunia tersebut bisa jadi semacam “jembatan”.


7. Btw, kamu gemar sekali membuat plugin Sketch. kenapa suka sekali membuatnya Rie?

Hahaha kenapa ya. Saya observe tren product design (digital dan non-digital) ke depannya ini akan lebih automated, parametric, dan streamline.

Gimana maksudnya? Maksudnya peran teknologi ini bakal semakin embed ke dalam workflow seorang designer. Artinya designers dalam bidang apapun akan semakin dekat dengan produk finalnya. Prosesnya akan lebih streamline.

Nah, Sketch ini merupakan salah satu tools yang membuka jalan untuk itu. Kita sebagai usernya bisa meng-extend fungsionalitas Sketch untuk mengotomasi bagian proses design UI yang repetitif, and I’m all about efficiency.

Biasanya plugin sketch yang saya bikin itu spesifik untuk tackle masalah-masalah tertentu. Misalnya Pseudol10n (beta)

Salah satu plugin Sketch yang dibuat oleh Arie

Dulu bikin plugin ini karena observe banyak designer di mana-mana struggling ketika text/tulisan yang dimasukkan ke dalam container UI nya ternyata kepanjangan ketika di-translate dalam bahasa Jerman misalnya.

Hopefully plugin ini bisa jadi semacam early detection untuk permasalahan yang bagi sebagian designers mungkin “membosankan”.

Plugin-plugin selanjutnya dibuat lebih untuk internal use, misalnya: layout maker, squint tester, dan yang terakhir in development: Component-make & Icon kit.

Jadi saya ini designer atau bukan? Hahaha selama masih solving problem kayaknya saya masih berani menyebut diri sebagai designer meskipun medium pemecahan masalahnya ngga melulu grafis.


8. Kamu saat ini adalah UI Lead di Traveloka. Bisa diceritakan apa tantangannya menjadi seorang lead?

Bisa dibilang tantangannya lebih tentang gimana mempersiapkan “panggung” supaya member tim yang masing-masingnya sudah jago-jago ini bisa makin bersinar. Bisa dengan mengeset kolaborasi, mengefisienkan workflow, dan banyak-banyak mengkomunikasikan dari-dan-kepada tim. 😁


9. Apa pesanmu untuk temen temen yang mau berkecimpung di dunia UI/UX ini?

Saya sempat bekerja dengan banyak desainer yang hebat-hebat, dan kebanyakan punya traits berikut ini: https://medium.com/@arieare/good-designers-to-better-designers-from-here-to-there-541e29d863b9

Cherish your past, build upon yourself.

Jangan melupakan akar-mu. Ini maksudnya seluruh pengalaman masa lalu adalah yang membentukmu sekarang, sayang sekali kalau kita tidak improve dari versi diri kita sebelumnya. Seperti desain, secara personal kita juga harus terus di-iterasi :D

Carilah benang merah dari fragmen-fragmen pengalaman dan pengetahuanmu.

Seseorang bisa saja punya pengalaman sebanyak 10 tahun. Tapi jika tidak direfleksikan dan ditarik benang merahnya (connect the dots backwards kalau kata steve jobs) pengalaman sebanyak itu jarang sekali akan menjadi wisdom bagi dirinya sendiri, ataupun bermanfaat untuk dibagikan ke orang-orang di komunitasnya.

Seseorang bisa saja punya pengalaman dan pengetahuan hanya sebanyak 5 tahun, namun jika ia merefleksikan pengalaman-pengalaman tersebut, menarik benang merah diantaranya, maka dia bisa memiliki wisdom dan manfaat yang bisa dibagikan bagi orang-orang di komunitasnya :D

Perbanyaklah interest dan perspektif

Meskipun kita berkutat di bidang desain, jangan cuma mempelajari desain. Pada intinya desain adalah problem solving. Dengan memperbanyak perspektif kita bisa mempertimbangan faktor-faktor yang mungkin akan mempengaruhi proses dan hasil dari problem solving kita.

Tahu satu hal itu seru, tapi tahu satu hal dari berbagai perspektif itu menarik.

Terima Kasih Arie telah berbagi! :D

Instagram instagram.com/arieare/
Medium https://medium.com/@arieare
Dribbble https://dribbble.com/arieare