Thomas Budiman
Sep 2, 2016 · 4 min read
Alone by Evan Clark

*Baper adalah singkatan dari bawa perasaan, Istilah gaul yang menjelaskan suatu kondisi dimana kita membawa perasaan atau sensitif ketika kita berhadapan dengan seseorang atau melakukan suatu hal.


Terinspirasi dari tulisan Riska Fadilla, “Pelajaran yang Saya Peroleh dari Mendesain Homepage Aplikasi Traveloka”. Pada tulisannya, Riska bilang “Jangan baper terhadap feedback”.

Saya tertarik untuk menulis topik serupa dengan sketsa-sketsa ringan.

Jangan baper dengan feedback.

Di awal karir saya sebagai designer, saya cukup payah dalam menjalin hubungan dengan klien. Beberapa project pun akhirnya tidak memenuhi ekspetasi klien.

Saya akui, saya masih sangat labil saat itu. Lebih banyak “baper”-nya ketimbang berpikir sehat dan objektif, terutama saat merespon feedback dari klien.

Klien : “Saya tidak suka dengan navigasi merah ini.”
Designer : “Lho, ini kan sudah sesuai dengan branding-nya.”
Klien : “Iya, tapi ini terang banget. Terlalu mencolok.”
Designer : “Bukankah di awal anda meminta navigasi merah?”

Designer : *dalam hati “Ini klien bagaimana sih? Gak jelas!”
*Designer baper mode: on

http://giphy.com/gifs/table-flip-X83Y7r03T6uty

Kita tidak bisa mengendalikan apa yang akan dikatakan klien. Kita hanya bisa mengendalikan bagaimana kita akan merespon. Kita punya kendali untuk membuat keadaan menjadi lebih baik melalui respon kita

Selain itu, klien juga bermacam-macam tipenya, kita tidak bisa memilih klien yang selalu enak, bukan? Klien yang enak di awal saja, bisa berakhir dengan tidak enak juga.

Karena esensinya ada di proses. Bagaimana sikap dan respon kita di dalam proses tersebut. Seperti apakah hubungan dan komunikasi yang tercipta antara kita dan klien.

Pada ilustrasi di atas, jika klien meminta navigasi berwarna merah, sebaiknya di awal, bertanyalah lebih dalam untuk mengetahui alasan dibalik penggunaan warna merah pada navigasi.

Kemukakan pendapat kamu, meskipun kita tidak setuju.

Tetaplah berdiri secara objektif dan berikan solusi jika menggunakan warna merah, bagusnya seperti apa. Sertakan juga alternatif yang menurut kita bagus.

Selanjutnya, tetap serahkan kepada klien untuk memilih.

Jangan baper, lihat data.

achmad zaky, CEO of Bukalapak.com

Bayangkan jika kita sudah mendesain suatu screen dengan sangat bagus, tapi ternyata desain yang kita buat, katakan, tidak disukai oleh user. Data A/B testing menunjukkan ide desain yang kita unggulkan, ternyata kalah.

“Jangan baper ya brooo….”

Ingat, data adalah user. Bukan sekedar angka.

“Behind every single point of data is a human — a real person.” - Rochelle King Global VP of data insights and design at Spotify

Sekalipun ide yang menang bukan ide yang bagus, tetaplah berusaha mencari cara supaya tampilan yang kita buat tetap bagus dan menarik.

Tidak baik jika kita jatuh cinta hanya pada satu jenis solusi/design saja. Semakin kita mencintainya, kita cenderung akan menjadi sangat subjektif dan bisa jadi baper broooo….

Buat beberapa alternatif dan bersikaplah secara objektif, tetap terbuka dengan berbagai ide-ide lainnya.

Jangan baper, jika front-end dev tidak setuju dengan apa yang kamu buat.

coding by Ilya Pavlov

Sebelum front-end developer tidak setuju dan kita menjadi baper, ajaklah front-end developer dari awal sebuah project. Semua stakeholder harus berangkat bersama-sama dari tempat yang sama.

Jangan sampai keadaannya, kita sudah sampai Yogyakarta, tapi front-end developer-nya masih di Gambir.

Designer : “Broo.. gue uda sampe Yogya neh!”
Developer : ”Koq ke Yogya seh brooo?”
Designer : “Lha iya… emang kenapa? enak koq di Yogya!” #mulaisewot
Developer : “Jiah… kagak pake bilang-bilang ente. Ogah gue!”
….
*Designer baper mode: on

Walaupun di awal masih belom begitu jelas bagaimana proses dan detilnya. Tapi, kita bisa membuat kesepakatan bersama, kemanakah kita akan pergi, apakah mungkin kita pergi kesana.

Designer : “Eh broo… ke Yogya aja yuk! Mau ga?”
Developer : “Oh kenapa? Ada alasannya kah?”
*Designer menjelaskan alasannya.
Developer : “Oh gitu… yakin nih? Kira-kira bagaimana kita kesana ya?”
Designer : “Belom tau sih, mau cek-cek tiket murah dulu. Nanti gue kabarin lagi ya.”

Jangan baper, jika dikritik.

Sudah menjadi hal yang alami, jika kita menerima kritik, kita akan sedikit banyak merasa tidak nyaman. Apalagi jika kita ada di posisi jatuh cinta pada satu-satunya solusi/design yang kita buat. Kita akan mudah menjadi baper dengan kritik-kritik yang masuk.

Startupstockphotos

Designer 1 : “Bro, koq ini aneh ya?”
Designer 2 : “Hmm… aneh ya bro?”
Designer 1 : “Iya deh, coba loe lihat….” *menjelaskan
*Designer cuma terdiam, baper mode: on

Buatlah sebuah kritik menjadi dua arah, sebuah diskusi, sehingga sebuah kritik tidak berakhir menjadi baper.

Designer 1 : “Bro, koq ini aneh ya?”
Designer 2 : “Aneh kenapa ya bro?
Designer 1 : “Iya deh, coba loe lihat….” *menjelaskan
Designer 2 : “Apa mungkin karena elemen ini ya? Gue ada buat beberapa alternatif, coba deh loe lihat…”


Teman-teman, pastikan komunikasi menjadi pusat dari sebuah project. Jalinlah hubungan dengan klien dan stakeholder lebih dari sekedar sebuah project.

Terakhir, saat mendesain, menjadi idealis dan membuat desain sebagus mungkin bukanlah sebuah tindakan kriminal. Tapi, pastikan user tetap ada diatas ego kita.

Mari katakan tidak pada baper! :D

Insight

UI, UX, Bisnis Design

Thomas Budiman

Written by

Designer · thebuddyman.com

Insight

Insight

UI, UX, Bisnis Design

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade