Memahami Keinginan Klien

Setiap freelance designer pasti punya suka duka menangani sebuah proyeknya. Biasanya dibilang suka, kalau proyek asik, klien menyenangkan dan dibayar tepat waktu.

Dan, biasanya dibilang duka, kalau proyeknya kusut, karakter klien yang aneh, arogan dan sulit diajak bekerja sama, sampai pembayaran telat berbulan-bulan. 😭

Dua tahun terakhir ini saya senang karena proyek sebagian besar berjalan dengan baik.

Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Cuma ada 2 emoticon yang menggambarkan perasaan saya 😡 😫

Saya mencoba terus mengevaluasi setiap proyek setelah selesai. Saya mendapati sebagian besar permasalahannya ada pada komunikasi yang kurang. Kurangnya komunikasi ini menyebabkan pemahaman yang rendah.

Sehingga saya menyimpulkan, di dalam sebuah proyek, (salah satu) hal yang penting adalah membangun komunikasi untuk memahami apa yang dinginkan klien. (Sekalipun klien itu sulit diajak bekerja sama lho ya…)

Perlu digaris bawahi : “Memahami”.

Bukan “Mengikuti apa yang diinginkan klien” lho...

Pasti teman-teman mengerti apa yang saya maksud.

Terkadang klien tidak mengerti apa yang sebenernya dibutuhkan oleh proyeknya. Terkadang permintaan mereka hanyalah sesuatu yang mereka inginkan.

Kalau kita cuma ikutin kemauan klien. Kelar sudah hidup kita.

Nah… disini tantangannya seorang designer. Tugas kita adalah mengurai benang-benang kusut ini dan akhirnya dapat menyajikan solusi-solusi yang relevan.

Tahap ini biasa kita kenal sebagai: Tahap Pencarian/Pemahaman, atau disebut fase “Discovery”.

Dalam fase pencarian/pemahaman, saya sering menggunakan beberapa teknik dibawah sebagai jembatan berkomunikasi dengan klien.

1. Membuat board di Pinterest

Hal pertama yang saya lakukan adalah mengumpulkan ide-ide secara umum. Bisa berupa gambar, foto, patterns, ilustrasi, apapun yang berhubungan proyeknya. Tujuannya untuk mendapatkan gambaran secara besar seperti apa tone, mood atau feel-nya.

Lalu saya memperlihatkan board ini kepada klien dan berdiskusi dengannya. Saya berusaha menggali sebanyak mungkin melalui pin-pin yang ada di board dengan pertanyaan-pertanyaan.

Oh ya! Jangan lupa membuat catatan dari hasil diskusinya!

Berikut adalah board yang saya pakai untuk mendesain sebuah website untuk yayasan Non-Profit di Bali.

https://id.pinterest.com/projecthomas/flux-life-ground/

2. Membuat daftar referensi

Menurut saya, ada 2 tipe klien

Tipe 1: Mereka yang memberikan daftar referensi website (karena kita juga memintanya saat memberikan questionaire sebelum mengerjakan proyek).

Tipe 2: Mereka yang tidak memberikan daftar referensi. Dengan alasan supaya dalam proses mendesain tidak terpengaruh pada referensi. Klien seperti ini berharap kita membuat sesuatu yang orisinil, tanpa melihat referensi apapun.

Saya pernah bertemu dengan kedua tipe tersebut.

Menurut saya, daftar referensi itu perlu. Bukan cuma daftarnya saja. Tapi juga dengan konteks mengapa website atau aplikasi tersebut dijadikan referensi. Contohnya seperti ini:

Charity Water — Homepage

Charity Water
http://charitywater.com/
Ini adalah Website yang bagus. Karena dalam 3–5 detik pertama pun user dengan mudah menangkap website ini tentang apa melalui video pada background dan kata-kata pembukanya.

Dari konteks yang diberikan mulailah kita bisa mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Seperti:

  1. Apakah proyek ini juga memiliki materi yang akan digunakan untuk video background? atau punya foto tapi kekuatannya serupa dengan video sehingga bisa dijadikan Hero Image?
  2. Ada hal lain mengapa website ini bagus? Apa hanya karena secara konten yang jelas dan mudah dimengerti?

Terkadang saya juga membuat daftar referensi. Tujuannya untuk melengkapi referensi yang dimiliki klien. Jika ada arahan-arahan tertentu yang ingin saya berikan, saya bisa jelaskan melalui daftar yang saya buat.

3. Membuat bucket di Dribbble

Saya menggunakan bucket di Dribbble untuk mengumpulkan referensi-referensi yang berhubungan dengan UI, illustration, icons, layout dan art direction.

Biasanya dengan tujuan yang lebih detail. Misalnya, bucket dengan konteks icon-icon yang menjadi referensi.

Seperti biasa, saya akan membagikannya dengan klien dan berdiskusi. Hapus shot dari bucket jika tidak sesuai dengan arahannya.

Berikut contoh bucket yang digunakan untuk menentukan arah icon design. (masih pada proyek yang sama):

https://dribbble.com/thebuddyman/buckets/406240-FLX

Teknik-teknik diatas sudah umum dan pasti teman-teman sudah tahu.

Menurut saya, poin utamanya ada pada komunikasi. Buatlah sesi-sesi untuk membahas dan brainstorming bersama dengan klien. Tidak efektif jika kita hanya membuat lalu mengirimkannya ke klien melalui email.

Saran lainnya, jangan lupa mendokumentasikan dan mengirimkan kepada klien hasil dari setiap sesi diskusi/brainstorming. Gunanya sebagai catatan bersama yang kedepannya bisa membantu kita kalau-kalau klien memberikan arahan lain dan tidak sesuai dengan apa yang sudah didiskusikan bersama. Waspadalah… Waspadalah…

Punya saran, ide atau tips lainnya yang bisa kita lakukan dalam proses pencarian/pemahaman (Discovery)? Yuk share dan berdiskusi di kolom komentar.

Like what you read? Give Thomas Budiman a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.