Membangun Portfolio

“Kira-kira layout yang bagus untuk portfolio gimana ya?”

“Kira-kira font yang cocok apa ya?”

Tahan dulu, jangan buru buru.

Yang terpenting dari portfolio seorang UI Designer adalah konten nya. Setelah konten nya siap, baru kita pikirkan bagaimana bentuk portfolio nya.

Yuk, kita siapin dulu konten nya….


1. Pilih Project

Ingat kembali project apa yang pernah dikerjakan selama ini. Pilih yang menurutmu paling bagus. Karena tidak semua project harus dimasukkan ke dalam portfolio.

Belum pernah mengerjakan project? bisa disimak artikel berikut: https://medium.com/insightdesign/freelance-designer-bagaimana-mendapat-klien-pertama-bag-1-cfd3fdae9814


2. Project nya tentang apa?

Setelah memilih project, kini buka Google Doc untuk menulis konten portfoliomu. Kamu bisa mulai dari menulis judul projectnya lalu menceritakan mengenai projectmu.

Contoh 1:

“Ini adalah project pembuatan landing page sebuah website. Dimana website tersebut membantu para mobile developer untuk menghasilkan uang dari aplikasi yang telah mereka buat.
Saat klien menghubungi saya, Ia belum memiliki landing page untuk website tersebut.
Ia membutuhkan landing page yang bisa menginformasikan mengenai keunggulan website dan membuat pengunjung tertarik untuk mendaftar di website tersebut.”

Contoh 2:

“Ini adalah project pembuatan aplikasi chatting atau instant messaging. Berawal dari masalah yang sering dialami oleh klien dan teman teman nya, dimana mereka sering sekali kesulitan dalam menggunakan aplikasi chatting atau instant messaging yang ada saat ini, karena beberapa fitur yang tidak tersedia”

3. Apa role mu di project tersebut?

Ceritakan mengenai role atau peran mu di project tersebut.

Contoh:

“Pada project pembuatan landing page ini saya bertanggung jawab untuk mendesain sebuah halaman landing page, dimana terdapat versi desktop dan juga versi responsive nya. Saya juga bertanggung jawab dalam pembuatan ilustrasi dan icons nya.
Selain itu saya juga bertanggung jawab dalam pembuatan konsep animasi nya. Pada landing page ini terdapat beberapa animasi pada elemen elemen tertentu, yang bertujuan untuk menarik perhatian user dan memberikan kesan fun atau menyenangkan.”

4. Apa langkah pertamamu?

Ceritakan apa yang kamu lakukan saat memulai project

Contoh 1:

“Pada project pembuatan landing page ini, saya memulai nya dengan meluangkan waktu 1 jam untuk berdiskusi dengan klien. Saya bertanya mengenai apa goal besar atau tujuan utama dari landing page ini?
Lalu saya bertanya mengenai informasi apa yang ingin ditampilkan di landing page ini. Saya juga bertanya mengenai prioritas informasinya, mana yang lebih penting. Sehingga saat saya membuat layout awal, saya memiliki panduan yang jelas”

Contoh 2:

“Pada project pembuatan aplikasi chatting ini, saya memulainya dengan meluangkan waktu beberapa hari untuk berdiskusi dengan klien.
Pada hari pertama, kami berdiskusi tentang proses sehari hari dalam menggunakan aplikasi chatting.
Lalu tercetus ide, untuk mendengar cerita dari banyak orang. agar kami makin mengerti mengenai masalah dalam menggunakan aplikasi chatting.
Maka dari itu kami membuat sebuah quizioner menggunakan google form dengan beberapa pertanyaan mengenai proses menggunakan aplikasi chatting yang ada saat ini. Lalu menyebar quizioner tersebut melalui sosial media.
Pada hari kedua, setelah kami mendapat beberapa data dari google form, kami lalu menganalisa mana saja yang bisa dikategorikan sebagai masalah.
Setelah itu dilanjutkan dengan diskusi, Masalah mana saja yang akan kami pilih lalu dibuatkan solusinya.”

5. Kenapa mendesain seperti itu?

Tunjukkan design mu dan jelaskan alasanmu mendesain seperti itu

Contoh 1:

“Berikut adalah design awal dari project pembuatan landing page
Pada design awal ini saya membagi website nya menjadi 5 section. Pada section pertama saya menempatkan Judul yang besar, deskripsi yang jelas dan tombol untuk mendaftar.
Sehingga ketika pengunjung membuka website ini, mereka langsung dapat membaca Judul dan deskripsi dari website ini tanpa harus men-scroll terlebih dahulu. Dan jika mereka tertarik, mereka bisa langsung mendaftar dengan menekan tombol daftar dibawah deskripsi.
Setelah itu pada section 2,3 dan 4, saya menempatkan informasi berdasarkan dengan prioritas nya. Prioritas informasi ini berdasarkan hasil diskusi awal dengan klien
Setelah itu pada section 5 saya menempatkan ajakan untuk mendaftar. Agar user tidak perlu men-scroll keatas jika tertarik untuk mendaftar setelah membaca semua informasi nya.
Pada design awal ini saya tidak menggunakan lorem ipsum, agar klien bisa mrasakan bagaimana membaca informasi informasi tersebut dengan layout seperti itu. Apakah rasa nya nyaman atau tidak.”

Contoh 2:

Berikut adalah konsep awal dari fitur pengiriman pesan suara.
Dari data yang kami dapat, banyak orang sering kesulitan dalam menggunakan fitur pesan suara yang ada pada aplikasi chatting saat ini.
Kesulitan yang sering mereka alami adalah, mereka kebingungan untuk meng-cancel atau membatalkan proses pengiriman pesan suara.
Maka dari itu saya membuat konsep baru dalam proses pengiriman pesan suara. Ketika user memulai proses pengiriman suara dengan menekan icon microphone, user bisa melihat tombol send dan cancel. Sehingga user bisa mengetahui dengan jelas bagaimana cara mengirim pesan suaranya dan bagaimana membatalkan pesan suaranya.

Bisa dikatakan ini adalah bagian paling penting.

Menjelaskan bagaimana prosesmu dan alasanmu sehingga membuat desain seperti itu akan membuat orang orang yang membaca portfoliomu mengetahui bagaimana proses berpikir mu.


6. Bagaimana cerita Kolaborasi mu?

Dalam mengerjakan project, pasti kamu berkolaborasi dengan Developer ataupun Product Manager. Ceritakanlah bagaimana kolaborasimu dengan mereka.

Atau, project yang kamu kerjakan adalah freelance? Tidak masalah, itu artinya kamu berkolaborasi dengan klienmu. Ceritakanlah cerita kolaborasimu dengan klienmu.

Contoh:

“Dalam mengerjakan project aplikasi ini, kami menggunakan slack sebagai media komunikasi.
Saya berkomunikasi dengan Product Manager dan juga Developer.
Karena terdapat 5 fitur utama dari aplikasi ini, maka kami membuat 5 channel untuk 5 fitur tersebut. Sehingga pembahasan tiap fitur nya lebih fokus dan tidak bercampur.
Setiap hari nya, setiap saya memiliki sebuah progress, saya langsung mengupload ke slack
Sehingga Product Manager dan Developer bisa langsung memberi komentar. Jika desain yang saya buat cukup menyulitkan developer, maka pada saat itu juga saya bisa berdiskusi dengan developer untuk menemukan solusinya.”

7. Ada Kendala?

Film tanpa konflik itu kurang menarik.

Jika kamu mengalami kendala saat mengerjakan project, maka tuliskanlah ke dalam portfoliomu. Karena itu akan membuat portfoliomu semakin menarik.

Contoh:

“Pada project ini, terjadi hal yang seru. Di tengah tengah pengerjaan project, klien terus meminta untuk merancang fitur fitur tambahan. Setelah itu saya berpikir, sepertinya fitur fitur tambahan tersebut belum terlalu penting.
Lalu saya beranikan diri untuk bilang ke klien, Bahwa fitur yang diminta belum terlalu penting dan terlalu prematur untuk merancang nya tanpa riset.
Dan lebih baik untuk fokus ke masalah yang sudah diriset sejak awal. Agar waktu launching bisa lebih cepat dan bisa mengetahui bagaimana respon masyarakat terhadap aplikasi tersebut.
Pada awalnya klien menolak, setelah itu saya jelaskan resiko merancang fitur tanpa riset yang mendalam. Diantaranya adalah.. user tidak akan menggunakan fitur tersebut dan jika hal itu terjadi maka sama saja membuang waktu dan uang.
Setelah penjelasan tersebut, akhirnya klien setuju untuk menunda perancangan fitur fitur tambahan tersebut”

8. Bagaimana hasil akhir project tersebut?

Tunjukkan beberapa design terpilih. Jika projectmu tentang aplikasi, maka pilih beberapa layar yang bagus untuk ditampilkan, tidak perlu semua layar.

Setelah itu jika projectmu telah dirilis atau launching maka tuliskanlah hasilnya. Jika projectmu mengenai landing page, maka coba tanyakan ke klien berapa presentase jumlah pengunjung yang mendaftar di website tersebut. Lalu minta ijin ke klien untuk menampilkan data tersebut ke portfoliomu. Tentu jika klien tidak mengijinkan, jangan menampilkan data tersebut.

Jika projectmu mengenai aplikasi, maka coba tengok halaman Play Store atau App Store nya, lalu bacalah komentar komentar nya. Lalu minta ijin ke klien untuk menampilkan komentar komentar tersebut ke portfoliomu. Tentu jika klien tidak mengijinkan, jangan menampilkan komentar komentar tersebut.


9. Apa pelajaran yang kamu dapat?

Sebagai penutup, tulislah pelajaran apa saja yang kamu dapat selama kamu mengerjakan project tersebut

Contoh:

“Dalam mengerjakan project ini, saya mendapatkan beberapa pelajaran. Diantaranya adalah untuk memberikan update atau progress sesering mungkin.
Suatu ketika, saat mengerjakan halaman awal, saya memberikan update atau progress nya setelah 3 hari atau ketika halaman itu telah jadi semua.
Setelah klien me-review ternyata banyak sekali perubahannya, dan terdapat beberapa hal yang tidak sesuai dengan diskusi awal.
Sehingga harus mengulangi dari awal, hal ini cukup membuang banyak waktu.
Dari hal ini saya belajar untuk memberikan update atau progress sesering mungkin, Saya kemudian memberikan update setiap 2 jam sekali, sehingga jika terjadi suatu kesalahan atau sesuatu yang kurang tepat bisa langsung diarahkan”

Kini kamu telah memiliki konten portfolio mu, saatnya kamu menyusun portfoliomu menjadi sebuah journal yang menarik untuk dibaca

Selamat membangun portfolio :)


Jika ada pertanyaan silahkan mengisi kolom komentar dibawah.


Jika temen temen ada waktu luang, boleh dong membantu mengisi survey untuk meningkatkan kualitas konten di medium insight ini

Link Survey → https://goo.gl/forms/k3kubwWedjsrS3Po2

Terima Kasih :)