Menyikapi perbedaan sudut pandang

Dwinawan
Dwinawan
Oct 4, 2016 · 2 min read

Di tahun 2013, saya mulai mengenal digital product design. saya memandang bahwa design mengutamakan keindahan agar enak dilihat. Jika tampilannya enak dilihat, user akan senang berlama-lama dan mencoba-coba fitur yang ada.

Jadi fokus saya waktu itu adalah membuat design sebagus-bagusnya.


Di tahun 2014, saya mendapat cara pandang baru. Bahwa design harus mengutamakan user. Apa artinya? Design harus membantu user untuk mencapai goals nya dan mudah untuk dimengerti/digunakan.

Jadi fokus saya waktu itu adalah membuat design yang mudah untuk dimengerti.


Lalu saya membayangkan jika diri saya di tahun 2013 dan diri saya di tahun 2014 bertemu. Lalu membicarakan tentang design, apa jadinya? Ada dua kemungkinan.

Kemungkinan pertama: saling memaksakan opini

saya membayangkan diri saya dari tahun 2014 akan mengkritik design dari diri saya dari tahun 2013, “Percuma design indah kalau susah di-implementasi. Percuma design indah kalau malah bikin user bingung”.

Lalu, diri saya dari tahun 2013 ngotot bilang bahwa keindahan adalah yang paling utama, “Dengan design yang indah, pasti user akan betah dan nyaman untuk mengeksplorasi.”.

Ya, kedua diri saya berdebat dan saling memaksakan opininya. Tanpa melihat hal positif dibalik masing-masing opini. Atau lebih buruknya, masing-masing menyampaikan hal positif tapi dengan cara yang kurang nyaman.


Kemungkinan kedua: saling memahami opini

saya membayangkan diri saya dari tahun 2014 memuji design dari diri saya dari tahun 2013 “Wah, design nya bagus. sangat menarik. kalau menurut saya design ini akan lebih bagus lagi jika elemen-elemen di dalamnya mudah dikenali oleh user, sehingga keindahan design nya menyatu dengan fungsionalitasnya. Btw, boleh dong kapan-kapan diajarin bikin design yang menarik seperti ini.

Lalu diri saya dari tahun 2013 membalas “Wah, iya kemaren waktu bikin design ini saya kurang memperhatikan bagaimana nanti user memakainya. Terima kasih atas masukannya :D . Ayo kapan-kapan kita belajar design bareng”



Thanks to Ghani Pradita dan Nugraha Jati Utama atas bantuannya dalam penulisan artikel ini :D

Insight

UI, UX, Bisnis Design

Dwinawan

Written by

Dwinawan

Co-Founder Paperpillar • UI Designer • Love to create design exploration on dribbble.com/dwinawan

Insight

Insight

UI, UX, Bisnis Design

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade