Pentingnya “bridging” saat presentasi materi ataupun saat menulis artikel

Beberapa waktu yang lalu, saya mendapat kesempatan untuk mengisi workshop tentang “Penerapan Design Thinking pada pembuatan desain User Interface atau UI”……


Sekilas tentang Design Thinking (bisa di skip kalau mau 😁)

Design thinking adalah proses menemukan solusi untuk memecahkan suatu masalah ataupun untuk mencapai suatu tujuan.
Di dalam proses tersebut terdapat beberapa fase seperti:
- Mencari tahu masalah yang sebenarnya dihadapi oleh user (salah satu caranya ngobrol langsung dengan user)
- Mencari tahu kebutuhan user
- Membuat solusi berdasarkan kebutuhan user
- Membuat Prototype berdasarkan solusi
- Menguji Prototype
- Mengimplementasi Prototype
Lebih lengkap tentang design thinking:
https://medium.com/insightdesign/memahami-design-thinking-case-study-poster-pentas-seni-530caf499cc1

Kembali ke Topik Utama

……Saat itu saya mengisi di salah satu kampus di Yogyakarta, background peserta nya adalah mahasiswa, dan mereka semua adalah programmer.

Dalam perjalanan ke kampus, saya membayangkan hal seperti ini…

“Jika saya adalah seorang mahasiswa…”
“Hadir di acara workshop design thinking…”
“Begitu acara dimulai….”
“Pembicaranya langsung ngomong.. Design thinking adalah bla bla bla… “
“Fungsi nya adalah bla bla bla….”
“Lengkap dengan berbagai istilah yang jarang saya dengar…”

Jika itu terjadi…

Pasti saya sebagai peserta akan bingung, kurang antusias, ngantuk, materi tidak masuk ke otak, dan saya berharap acara cepat selesai.

Atau jika ada sesi istirahat pasti akan saya gunakan untuk kabur.

Source: Giphy.com

Jika menit menit pertama membuat para peserta bingung dan berpikir keras, maka kemungkinan besar presentasi saya akan membosankan.

Saya teringat dengan buku 100 Things Every Designer Needs to Know About People , ada satu halaman yang menceritakan bagaimana seorang pengisi seminar yang diacuhkan oleh para pesertanya, sampai ia berkata… “Saya punya cerita…” begitu ia mulai bercerita, para peserta langsung memperhatikannya.


Saya terpikir untuk mencoba hal itu, bercerita. Tapi kira kira cerita apa yang membuat mereka tertarik, tapi sekaligus berhubungan dengan design thinking?.

Source: Giphy.com

Saya teringat bahwa background mereka adalah programmer. Mereka pasti sering atau pernah membuat program. Akhirnya saya memilih cerita berikut untuk mengawali presentasi saya…

“Sebelum menjadi UI Designer, Saya pernah bekerja sebagai Programmer…”

**Saya berhenti sejenak dan memperhatikan bagaimana reaksi peserta workshop, dan mereka tampak tertarik. Paling enggak, tidak ada yang bermain hape**

“Suatu ketika, saya mendapat permintaan untuk membuat sebuah fitur.”
“Fitur tersebut memungkinkan user untuk melakukan hal ini, ini dan ini…”

**Saya berhenti sejenak dan memperhatikan lagi ekspresi mereka, dan mereka tambah antusias.**

“Setelah itu saya langsung merancang alur fitur tersebut, mendiskusikan dengan teman kerja, dan langsung mengimplementasikan-nya.”
“Minggu pertama untuk merancang database dan merancang tampilan nya”
“Minggu kedua dan ketiga untuk meng-coding atau menulis program dari fitur tersebut”
“Total, butuh waktu sekitar 3 minggu untuk menyelesaikan fitur tersebut”
“Beberapa minggu setelah fitur itu dirilis…”

**Saya berhenti agak lama, dan menikmati ekspresi penasaran mereka**

“Tidak ada user yang memakai fitur tersebut”

**Ekspresi mereka semakin penasaran**


Setelah itu saya menceritakan kenapa fitur itu tidak ada yang menggunakan walaupun sudah diletakkan di tempat yang terlihat dan juga telah diberi informasi berupa pop-up mengenai fitur tersebut.

“Alasan utamanya adalah user tidak membutuhkan fitur tersebut.”
“Saat kami merancang fitur tersebut, kami membayangkan bahwa user menghadapi masalah ini, ini dan ini. Tapi ternyata, user tidak menghadapi masalah tersebut.”
“Itulah yang terjadi saat kami membuat fitur untuk masalah yang masih asumsi.”

Saya juga menjelaskan, bagaimana perusahaan telah meluangkan waktu dan uang untuk membuat fitur yang pada akhirnya tidak dipakai oleh user.

Setelah cerita tersebut, saya merasa para peserta workshop telah siap menerima materi tentang design thinking.

Dan saya pun menampilkan slide pertama saya…


Bridging

Kata dasar nya adalah Bridge (Jembatan).

Jika diartikan, Bridging adalah Menjembatani.

Pada cerita diatas, Bridging yang saya gunakan adalah pengalaman saya di masa lalu.

Saya memilih cerita tersebut karena bidang tentang “membuat program ataupun menulis kode program” sangat relevan dengan peserta workshop yang background nya programmer. Dan juga berhubungan dengan materi design thinking, dimana sangat penting untuk memvalidasi masalah ataupun kebutuhan user sebelum merancang atau mendesain sesuatu.

Tentu jika pesertanya berasal dari latar belakang yang berbeda, saya akan menggunakan cerita atau bridging yang berbeda juga.


Apakah setiap presentasi atau penulisan artikel harus menggunakan bridging?

Tidak harus, tetapi jika bisa menambahkan bridging yang sangat relevan dengan pembaca dan berhubungan dengan materi yang akan disampaikan, akan sangat bagus.

Source: Giphy.com

Contoh contoh bridging yang saya gunakan dalam penulisan artikel

Pada artikel dibawah ini, saya membahas tentang Change Blindness. Change Blindness adalah kondisi dimana user tidak sadar bahwa telah terjadi suatu perubahan setelah ia melakukan sesuatu, entah itu setelah mengklik suatu tombol atau setelah meng-hover suatu elemen.

Bridging yang saya gunakan adalah dengan menampilkan form pendaftaran di sebuah website, dan ketika diklik oleh user seolah olah tidak terjadi sesuatu, padahal terjadi perubahan di bagian atas.

Kenapa saya memilih form pendaftaran? Asumsi saya, para pembaca pernah mencoba untuk melakukan pendaftaran di website.


Pada artikel dibawah ini saya membahas tentang Cognitive Load. Cognitive load adalah seberapa besar kita menggunakan daya pemahaman kita dalam memahami sesuatu

Bridging yang saya gunakan adalah bertanya kepada pembaca, bagaimana saat mereka menggunakan aplikasi streaming musik.


Takeaways

Penting untuk memahami latar belakang peserta workshop, peserta seminar, pembaca ataupun lawan bicara saat kita hendak menyampaikan suatu hal ataupun materi.

Jika hal tersebut dirasa masih asing oleh lawan bicara kita, maka menggunakan bridging adalah salah satu cara untuk mengajak mereka untuk bisa perlahan memahami materi atau hal yang kita sampaikan


Semoga bermanfaat