Rekap Insight Meetup–Maret 2019

Meetup Insight — Maret 2019

Akhirnya acara meetup (temu dan diskusi) Insight yang pertama di tahun 2019 dapat terlaksana juga. Ini semua berkat bantuan dan semangat beberapa teman yang sudah tergabung sejak meetup yang pertama di tahun 2017.

Acara ini sebenarnya bukanlah acara resmi yang diadakan dengan secara berkala melainkan sifatnya lebih sporadis dan terbatas dalam jumlah pesertanya.

Bukan karena ekslusif. Semata tujuannya ingin bentuknya lebih akrab dan santai.

Keadaannya adalah yang mau ikut banyak tetapi saya sendiri belum menemukan pola yang tepat bagaimana mungkin bisa mengakomodasi lebih banyak orang tetapi masih dalam bentuk kelompok kecil.

Saat ini semangatnya ingin tetap sebagai kelompok kecil saja dengan tujuan memberikan warna berbeda dari meetup-meetup besar yang sudah ada.

Lalu, bagaimana jika ada yang ingin ikutan pada kesempatan berikutnya? Silahkan bisa DM saya melalui Instagram atau email ke thomas@insight.design. Saya akan memasukkan teman-teman ke dalam daftar yang akan saya hubungi jika ada meetup selanjutnya.


Ada banyak hal dari meetup ini yang sayang untuk diketahui dan disimpan bagi mereka yang ikut saja. Maka dari itu saya membuat rekap ini untuk membagikan apa saja yang telah didiskusikan.

1. Hal apa yg membuat seorang designer memutuskan untuk pindah kerja?

Pertanyaan ini secara alami langsung ditujukan kepada teman-teman yang hadir disana yang baru saja pindah kerja. Alasan utama mereka adalah untuk mencari tantangan baru dan melihat sebuah perspektif lain (misalnya dari sebuah perusahaan rintisan ke unicorn–yang notabene memiliki tim desain dengan ukuran yang lebih besar). Salah satu hal yang penting juga yang disebutkan adalah mencari adanya sosok senior (aspek leadership) atau mentor yang bisa menginspirasi dan mendorong mereka untuk naik.

Aryo, salah satu designer untuk sebuah agensi di Jakarta bukan hanya pindah kerja melainkan juga pindah kota. Sewaktu dia di Surabaya, dia merasakan tempo kerja yang lambat dan pekerjaan yang monoton. Aryo pindah ke Jakarta membawa harapan bahwa dia akan belajar. Alhasil, tidak ada sedikit penyesalan ujarnya, sekalipun banyak tantangannya.

2. Perubahan apa yang sudah dilakukan di tempat kerja dan bagaimana dampaknya?

Salah satu peserta meetup, Deni Kurniawan baru-baru ini memperkenalkan tool untuk membuat userflow, Overflow ke dalam alur kerja di agensi dimana dia bekerja saat ini. Hasilnya membawa angin positif bagi project manager dalam mempresentasikan alur kepada klien dan mempermudah developer untuk mengerti alur produk digital yang akan dibangun.

Muhammad Alif Chaeran pun membagikan kisah serupa. Alif memperkenalkan sebuah tool bernama Supernova yang ternyata menjadi jawaban bagi keterbatasan yang ada di tempat dimana dia bekerja. Hasilnya mempercepat proses kerja yang ada dan menutup gap ketiadaan front-end yang secara khusus mengeksekusi tampilan.

Sedangkan Dadi Pribadi pernah mengajak rekan kerjanya, non-designer untuk ikut ke acara-acara design. Hasilnya, rekan kerjanya mulai bisa melihat dan berempati dari sisi design.

3. Saat wawancara, apa saja yang harus dipersiapkan, bagaimana prosesnya dan apa yang dilihat dari seorang kandidat?

Arnold banyak membagikan pandangan-pandangannya berdasarkan pengalamannya terlibat dalam proses hiring designer. Baginya hal utama adalah melihat bagaimana kerangka berpikir dari seorang kandidat melalui pekerjaan-pekerjaan nyata. Pasalnya pekerjaan yang nyata memiliki batasan-batasan dan tantangan-tantangan yang nyata juga. Bagi Arnold, ini akan menjadi sebuah nilai tambah bagi seorang kandidat. Untuk mereka yang baru saja lulus dan belum pernah bekerja, membuat case study secara menyeluruh bisa menampilkan kemampuan baik secara visual dan berpikir bisa menjadi jawaban.

Hal lainnya yang disebutkan oleh Panggih Giri Samudra adalah culture-fit menjadi salah satu hal yang dipertimbangkan di Bukalapak Product Design Team. Jika seorang kandidat tidak mendapatkan posisi di dalam tim desain kami, bukan berarti dia tidak memenuhi syarat secara keahlian. Bisa saja alasannya adalah mungkin karena kandidat ini tidak pas dengan culture Bukalapak–pastinya ada perusahaan lain yang bisa lebih pas.

4. Tools apa saja dan alur kerja seperti apa di tempat kamu bekerja?

Sejujurnya pertanyaan no 4 ini tidak terlalu mendapatkan sorotan penting karena terlalu serunya membahas tiga pertanyaan di atas, tanpa sadar kita sudah menghabiskan waktu hampir 2 jam.

Pertanyaan ini pun tertuju kepada saya yang memiliki keadaan kerja yang unik, yaitu remote (jarak jauh). Saya membagikan hal yang tidak jauh berbeda dengan apa yang telah saya bagikan pada wawancara podcast saya oleh Dimas Wibowo. Saya hanya menambahkan pentingnya untuk mengatur energi kreatif yang kita miliki setiap harinya. Ada pekerjaan yang membutuhkan daya kreatif kita dan ada juga pekerjaan yang biasa disebut dengan “Monkey Tasks” (pekerjaan mudah, kecil, bisa jadi berulang, tidak menggunakan otak untuk berpikir kritis dan kreatif–contohnya membereskan layer dan folder pada file design). Strategi dalam menyusun jadwal kerja sangat penting untuk memaksimalkan hasil kerja dan produktifitas. Gunakan waktu terbaik (prime time) kamu untuk hal-hal yang sifatnya kreatif atau memunculkan ide dan ini tidak akan berlangsung lama, katakanlah 3–4 jam saja.

5. Standar apa yang digunakan oleh seorang designer untuk yakin jika saya sudah selesai mendesain atau saya harus tetap lanjut dan bereksperimen?

Bagi Arnold, seorang designer tidak akan pernah puas dalam memoles hasil karyanya, tetapi perlu diingat dalam setiap kerjaan yang kita lakukan pasti ada batasan waktu dan biaya. Untuk yakin selesai dalam mendesain bisa mempertanyakan kembali apakah dari hasil yang saya desain sudah menjawab kebutuhan dan permasalahan yang ada? Apakah masih ada hal yang butuh ditingkatkan lagi? Apakah masih ada cukup waktu dan biaya?


Terakhir, saya menutup dengan speech ringan dan santai tentang mengapa Insight ada. Insight bukan website, bukan juga perusahaan, melainkan sebuah semangat untuk membagikan ilmu design dalam mendukung perkembangan ekosistem produk (digital) dan design di Indonesia. Harapannya semangat ini bisa menular kepada setiap teman-teman (bukan hanya yang hadir di meetup saja lho.) untuk terus menajamkan kemampuan dan saling berbagi ilmu tentunya.

Berikut ada juga beberapa komunitas/website/podcast serupa yang teman-teman bisa ikuti lho: (jika belum tahu)

Terima kasih untuk yang telah hadir di Insight Meetup — Maret2019:
Aryo, Arnold, Deni Kurniawan, Dadi Pribadi, Alif, Hendri Lubis, Karlina, Lukman, Hadi, Panggih dan Indra.