Tentang A/B Testing


Intro

Andi adalah seorang UI Designer di sebuah perusahaan teknologi di bidang jual beli online. Ia adalah orang yang mendesain tampilan dari mobile website perusahaan tersebut.

Suatu hari, saat melihat lihat tampilan mobile website tersebut, Andi memiliki sebuah ide…

“Sepertinya label diskon saat ini tidak terlalu terlihat, karena ukurannya sangat kecil. Bagaimana kalau diperbesar ya?, Apakah bisa mempengaruhi tingkat penjualan nya?”


Berdiskusi

Lalu Andi mendatangi Doni, seorang developer yang meng-coding mobile website tersebut.

Andi: “Don, aku ada ide. Kalau label diskon nya kita besarin gimana? Jadi seperti ini…..”

“biar pengunjung lihat diskon nya lebih jelas. Mungkin kalau mereka melihat diskon lebih jelas, mereka jadi tertarik untuk membeli sesuatu”

Doni: “Weits, jangan asal mengubah desain. Kalau asumsi mu salah, bisa bikin penjualan merosot. Coba kita obrolkan dengan Rudi”


Andi dan Doni lalu mendatangi Rudi, seorang Product Manager. Andi lalu menyampaikan ide nya.

Rudi tertarik dengan ide dari Andi.

Rudi lalu berpikir bagaimana agar bisa mengeksekusi ide tersebut dan mendapatkan data seberapa efektif design baru dari Andi dalam mengingkatkan penjualan.

Tetapi disisi lain, Ia tidak mau mengubah design yang saat ini digunakan, karena jika design nya langsung diganti, tanpa melakukan riset pada design yang baru, bisa bisa malah menurunkan seluruh penjualan.


A/B Testing

Doni lalu menyampaikan idenya….

Doni : “Bagaimana kalau kita lakukan A/B Testing?”

Andi : “Bisa diceritakan apa itu Don?”

Doni : “Simple nya gini, jika ada 10.000 orang yang mengakses website kita dari handphone. Maka 5.000 orang akan melihat tampilan yang lama dan 5.000 orang akan melihat tampilan yang baru.”

Rudi : “Menarik…”

Doni : “Lalu nanti kita bisa membandingkan datanya. Dari 2 design ini, mana yang lebih tinggi tingkat penjualannya.”

Rudi: “Oke Don, bisa segera di-eksekusi proses A/B Testing nya.”

Untuk teknis cara melakukan A/B testing, akan dibahas di artikel yang lain

Hanya Satu Variabel

Tiba tiba Andi memiliki sebuah ide….

Andi : “Don, bagaimana kalau pada design yang baru ini aku juga mengubah warna pada nama barang nya. Mungkin bisa menambah ketertarikan user untuk membeli”

Doni : “Sebaiknya jangan, untuk A/B testing sebaiknya hanya satu elemen saja yang berbeda, label diskon contohnya. Jika banyak elemen yang berbeda seperti label diskon yang berbeda, warna pada nama barang berbeda, dan elemen lain nya berbeda, kita jadi kesulitan menentukan apakah tingkat penjualannya ini meningkat atau menurun karena label diskon nya, atau karena warna pada nama barangnya atau karena elemen yang mana. Jadi lebih baik fokus di satu elemen saja”

Andi: “Siap Don”


Melakukan A/B Testing secara berkelanjutan

Setelah 3 minggu dilakukan A/B Testing, Tim Data pun merilis data pengujian A/B Testing.


Doni: Andi, coba sini lihat. Ternyata design baru mu memang efektif meningkatkan penjualan. Hari ini kita diskusi dengan Rudi dulu untuk menonaktifkan A/B Testing ini dan merilis design baru mu.

Andi: Oke, terima kasih Don. Btw, selanjutnya kita bisa melakukan A/B Testing lagi kah?. Aku penasaran dengan mengganti warna pada nama barangnya. Apakah bisa meningkatkan penjualan atau tidak.

Doni: Oke bisa, yang penting yang diujikan atau yang ditest hanya satu elemen saja.

Andi: Oke Don.


Semoga bermanfaat :)