Tips Mendesain User Onboarding Pada Mobile App

Mari membayangkan sejenak sebuah skenario dimana kamu sedang berada di App Store atau Play Store. Kamu hendak men-download sebuah aplikasi, kamu mungkin melihat sekilas screenshots-nya, membaca deskripsinya dan melihat berapa besar ukuran filenya. Kurang lebih kamu sudah memahami seperti apa aplikasi yang akan kamu download.

Dan ya… Kamu menekan “Get” (download button pada app store).

Download selesai.

Kamu mulai membuka app nya dan muncul halaman loading, lalu diikuti dengan 3 halaman walkthrough → Login/Signup → mengisi data → penjelasan singkat. Tahapan yang mungkin sudah puluhan bahkan ratusan kali kamu lewati saat pertama kali menggunakan suatu app.

Percayalah, kita cukup handal untuk melewati tahapan ini secepat mungkin.

Ya… karena kita sudah sering melaluinya. Kita cenderung untuk men-skip tahapan-tahapan tersebut dan ingin secepat mungkin mencoba app nya.


Sebagai seorang Product Owner atau Designer, ini sebuah tantangan bagaimana membuat proses user onboarding secepat mungkin prosesnya, less-friction, tapi… tidak mengurangi esensi yang mau dicapai.

Esensinya apa? User mengerti, senang, tidak ada kebingungan dan mau pakai lagi.

User onboarding ibarat kencan pertama, kita berusaha untuk tampil sebaik mungkin sehingga ada kencan-kencan berikutnya. Kalau definisi menurut Samuel Hulick dari UserOnboard.com,

http://www.useronboard.com/
User Onboarding is the process of increasing the likelihood that new users become successful when adopting your product.

Berikut saya mempunyai tips-tips yang bisa membantu kencan pertama kamu dengan user (baca: proses user onboarding).

1. Singkat, jelas dan akurat.

Proses user onboarding yang kamu desain harus memiliki 3 kata di atas. Tidak boleh terlalu banyak langkah di dalamnya. Hal yang ingin disampaikan pun jelas. Di atas itu semua, proses user onboarding bisa tepat mengenai apa tujuan kamu.

https://www.pexels.com/photo/whiteboard-sketching-design-planning-7366/

Untuk membuat proses yang singkat, jelas dan akurat ini, pastinya kamu harus betul-betul memahami konteks dan kebutuhan. Dalam proses memahaminya, dapat dilakukan dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan.

Pertanyaan terakhir yang harus kamu tanyakan adalah, apakah sudah cukup singkat, jelas dan akurat?

2. Berkreasilah

Selain singkat, jelas dan akurat ada satu hal yang tidak boleh ketinggalan yaitu, kreatifitas. Kita perlu membuat proses menjadi semenarik mungkin. 
Setidaknya, tidak membosankan dan membuat user tetap excited saat melalui langkah demi langkah. Terlebih jika langkah-langkah itu berkaitan dengan mengisi data diri atau personalisasi tentang user.

Contoh aplikasi yang saya suka saat mengisi personalisasi adalah Apple Music. Proses mengisi genre musik yang kita suka dan artis favorit kita menjadi menyenangkan.

Apple Music — Menanyakan genre musik dan penyanyi favorit

3. Ada yang ambigu? Jelaskan.

Salah satu proses dalam user onboarding adalah meminta ijin akses. Bisa akses untuk mengirimkan notifikasi, menggunakan kamera atau pun lokasi.

Teman-teman pasti sudah tahu saat meminta ijin akses, native popup dialog akan muncul dengan pertanyaan, penjelasan secara umum dan pilihan untuk ya atau tidak.

Slack — Meminta ijin untuk mengirimkan notifikasi

Untuk beberapa app mungkin cukup jelas mengapa kita perlu mengaktifkan notifikasi. Contohnya aplikasi Slack, mengaktifkan notifikasi supaya kita tahu jika ada pesan baru yang masuk.

Tetapi ada beberapa aplikasi yang bisa membuat kita bertanya-tanya saat native popup dialog tersebut muncul.

“Hmm.. kenapa harus mengaktifkan notifikasi yah?”

“Nanti dulu deh. Coba-coba dulu saja.”

Saat kita merasa ada yang ambigu pada proses meminta ijin akses, kita bisa menambahkan satu screen untuk menjelaskan, mengapa suatu akses perlu diaktifkan.

Seperti contoh dibawah ini.

“Mengapa sebuah aplikasi prototyping meminta user untuk mengaktifkan kamera?”

Marvel App — Meminta ijin akses kamera

Oh… ternyata kamera digunakan untuk mengambil video pada saat user melakukan test. Kalau hanya menampilkan native popup dialog saja, bisa jadi user akan bingung.

Dengan menambahkan satu screen sebelum meminta ijin akses dapat membantu user memahami tujuannya. Selain itu, kita juga bisa menambahkan sebuah ilustrasi atau gambar yang bisa memberikan kesan ramah saat meminta ijin kepada user.

Tapi perlu diingat, menggunakan tambahan screen akan menambah satu langkah dalam meminta ijin akses. Karena setelahnya, user tetap akan ditanya lagi dengan native popup dialog. Jadi gunakan poin ini dengan bijak.

4. Manfaatkan setiap detik dengan baik

Salah satu proses yang paling cepat dilalui atau mungkin di-skip oleh user adalah walkthrough screens. Maka, jika ada yang mengikuti langkah-langkah pada walkthrough screens, manfaatkan kesempatan selama 1–3 detik ini sebaik mungkin!

Tentukan tujuannya terlebih dahulu. Apa yang ingin kamu sampaikan dan jelaskan.

Saya sangat menyukai walkthrough screen pada Airbnb.

Bagi kita, pergi ke luar kota/luar negeri lalu menginap di rumah orang adalah ide yang tidak biasa. Biasanya kita menginap di hotel. Lalu, mengapa perlu menginap di rumah orang? Apa enaknya? Bagaimana rasanya?

Melalui 4 screen ini, Airbnb berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan itu.

Airbnb — Walkthrough Screens

Gunakan walkthrough screen se-efektif mungkin untuk membangun pemahaman user terhadap aplikasi atau servis yang kamu tawarkan. Walaupun singkat!


Sudah siap untuk kencan pertama kamu dengan user?
Tenang, jangan gugup. Coba review kembali proses yang sudah kamu siapkan. Apakah langkah-langkahnya sudah cukup singkat, jelas dan akurat? Bagaimana dengan elemen-elemen UI didalamnya? Apakah sudah cukup menarik?

Lakukan usability testing dan gunakan data untuk menyempurnakan proses user onboarding aplikasi kamu.

Selamat berkencan! ❤

Like what you read? Give Thomas Budiman a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.