Chapter 1: One Eyed Werewolf

Gigi taringnya meneteskan darah berwarna merah sedikit hitam karena tercampur lumpur saat dia menyerang kami di rawa tadi. Taringnya sangat besar, mungkin lebih besar dari pegangan pedang samurai ini. Matanya berwarna hijau terang, tapi kali ini lebih terang dari sebelumnya, mungkin karena terkena cahaya bulan purnama yang sedang terang-terangnya malam ini. Sial, pistolku kehabisan peluru saat di rawa tadi. Sekarang aku hanya punya sebuah pisau dan pedang samurai yang kutemukan tadi saat berlari dari rawa.

Berhadapan dengan werewolf di luar benteng memang beda sekali dibandingkan saat sedang latihan. Mungkin, werewolf yang kami punya telah takut dengan kami karena sering kami sakiti untuk dibuat target latihan para pemula. Berbeda dengan werewolf di luar latihan, mereka lebih gesit, lebih liar dan lebih menyeramkan.

Hawa membunuh makhluk ini terasa sekali. Ya, dari matanya yang menatap tajam mataku, aku tahu dia ingin sekali membunuhku sekarang juga. Tapi werewolf tidak bodoh, mereka pada dasarnya seorang manusia juga kan?

Sekarang kita sedang berhadapan di tempat terbuka, semacam lapangan.. Ya, ternyata ini memang lapangan sepakbola, terlihat dari tiang gawang di kejauhan sana. Gila! Mereka bisa masuk sampai sini?! Boss Alan pasti marah jika mengetahui ini. Oke, kembali ke mahluk sialan di hadapanku ini..

“ZZZzzzzzzzztttt!!!”

Ku rasakan jam tangan ku bergetar pertanda bahwa misi akan segera berakhir. Siaaal!! Aku hanya punya waktu sekitar 10menit, aku harus mencari cara untuk membunuhnya dengan cepat, atau aku ditinggal pergi oleh Teamku!.

Menyerangnya secara langsung adalah tindakan yang bodoh, apalagi hanya dengan pedang samurai dan aku sudah sangat lelah dari tadi, mungkin stamina tubuhku belum pulih secara sempurna setelah 3 bulan istirahat karena cedera lutut. Tapi aku tak punya pilihan lain lagi, serang secara langsung, atau aku ditinggal pergi!

“AAAAAAARGHH!!!”,sambil berlari kearahnya, ku ayunkan samurai ini ke lehernya yang lebih tinggi dari postur tubuhku. Dia dengan mudah mengelak, “DUG!”, aku dipukulnya hingga terpental jauh jatuh ke tanah. Huh, keras sekali pukulannya. Tiba-tiba dia langsung berlari ke arahku hanya dengan kedua kakinya dan langsung menendangku,”DUG!” aku pun terseret sangat jauh, mungkin sekitar 20 meter dari posisiku sebelumnya. Untung samurainya tidak terjatuh, masih aku pegang dengan kuat, aku pun segera berdiri. Makhluk itu berlari lagi ke arahku namun sekarang berlari dengan kedua tangan dan kakinya, posisi berlari paling cepat bagi bangsa werewolf. Ya, datanglah padaku! Aku siap untuk menebasmu!. Dia semakin mendekat, aku perkuat genggamanku pada samurai ini.

Cepat sekali, hanya sekejap mata mahluk itu telah terbang melompat ke arahku sambil cakarnya maju mencoba menyerangku. Dengan reflek aku membungkuk untuk menghindar sambil mengayunkan samuraiku ke ke arah tangannya.. “SLASH!” ah sial! Samuraiku hanya menebas pergelangan tangan kanannya saja, itupun tidak sampai putus, hanya melukainya saja. Diapun berguling terjatuh sambil merintih mengeluarkan suara kesakitan khas bangsa werewolf. Skill berpedangku memang tidak terlalu bagus, aku harus berlatih lagi jika pulang nanti.

Werewolf itu kemudian bangkit lagi, dan menatapku dengan tatapan yang lebih tajam dari sebelumnya. Wajahnya menyeringai, dia menggeram dengan nafas berat yang membuat tubuhnya terlihat naik turun, dia pasti marah sekali padaku. Aku lihat kakinya bersiaga, mengambil ancang-ancang untuk berlari dan menyerangku kembali. “WUSH!” dia datang lagi ke arahku, ku siapkan lagi samuraiku untuk menebasnya, kali ini harus berakhir, aku harus segera menebas lehernya sampai putus, jika tidak, tubuhku pasti akan segera dicabik-cabik olehnya. Aku tak ingin mati di sini, hina sekali jika mati di tangan werewolf sialan ini, terlebih lagi, ibu dan dua adik-ku di rumah pasti akan sangat bersedih jika aku mati.

“GGrrrrrRRrrr!!”, cepat sekali! Tangan kanan dan kirinya bergantian berayun menyerangku, aku menghindar sebisa mungkin dari cakarnya. Beberapa kali aku berhasil menghindar darinya, tak ada celah untuk menyerang, dia sangat cepat!.. “Arrggh!” tanganku terkena cakarnya, sial! Samuraiku jatuh ke tanah, aku tak bisa mengambilnya karena masih menghindar dari serangannya. “DUG!” muka ku terkena pukulanya. Keras sekali! Gigi gerahamku sepertinya ada yang patah. Aku terjatuh, dengan penglihatan yang samar-samar aku melihat sosok setinggi 2 meter itu mendekatiku. Ah sial! Apa yang harus aku lakukan?!

Ah, Pisau! Aku harap pisauku masih ada di sabuk-ku. Aku meraba-raba untuk mengambilnya. Saat aku menoleh lagi ke arah werewolf itu, terasa hawa nafas yang sangat panas menerpa muka ku, sial! Aku langsung saja menghujamkan pisau itu ke mukanya! “JLEB!”..”RGRRRRAAAAAAGGHHH!!!” dia menjerit kesakitan, aku tak tau bagian mukanya yang mana yang ku serang, tapi mukanya sudah tak berada di depan muka ku lagi. Aku segera merangkak sejauh mungkin untuk menjauhinya, kemudian bangun dari tanah. Pandanganku kembali normal, aku lihat pisau itu menancap di bagian mata kanannya. Sambil berdiri, dia menggeleng-gelengkan kepalanya kemudian mencabut pisau itu dari matanya sambil berteriak kesakitan. Huh, kasihan juga melihatnya mengerang kesakitan.

Aku tak tahu berapa menit lagi waktu yang aku punya, aku harus segera membunuhnya! Pandanganku pun mulai mencari-cari samuraiku yang terjatuh tadi, tapi aku tak dapat menemukannya… itu dia! Tapi terlalu jauh dari posisiku sekarang ini, terlebih lagi samurainya berada dekat dengan makhluk itu. Apa aku harus lari sekarang? Ah percuma! Dia pasti mampu mengejarku meskipun penglihatannya terganggu, dia masih bisa mencium bau ku..

“Aaauuuuuuuu..”

Dari kejauhan ku dengar lolongan werewolf sambil tak melepaskan pandanganku pada makhluk yang menyerangku ini. Akhirnya, mereka pasti sudah menyerah, biasanya lolongan ini pertanda bahwa kelompoknya harus segera mundur dan menghindar dari manusia. Kulihat tubuhnya sangat tidak tenang, naik turun bernafas dengan cepat. Ayolah! Segera pergi! Pemimpinmu menyuruhmu untuk pulang..

Hey, kenapa dia diam saja? bukanya segera pergi, dia malah melihat ke arahku dengan mata kanan yang tertutup, dari matanya mengucur darah berwana merah mewarnai bulunya yang berwarna abu-abu terang. Sialan! Ini pasti pertanda buruk, biasanya werewolf sangat patuh pada pemimpinnya. Benar saja! Dia malah datang lagi ke arahku! Sial!

Sambil menggeram, dia lari ke arahku. “DUG!” Hey, tiba-tiba ada yang menyerangnya, sosok besar berwarna hitam. Sosok itu menghantamnya dengan keras. Hingga mereka berdua berguling terjatuh. Makhluk apa itu? Oh ternyata werewolf juga! Ah, yang benar saja? Matilah aku! Aku sendirian, berhadapan dengan dua werewolf sekaligus.

Mereka bangun dari tanah dan saling menatap satu sama lain. Werewolf yang baru datang itu berwarna hitam legam, sangat menyeramkan, aku sampai-sampai tidak dapat di kegelapan malam. Werewolf abu-abu itu mengalihkan pandanganya ke arah ku lagi, namun werewolf hitam segera memukul kepalanya. Werewolf hitam itu menggeram kepadanya, kemudian werewolf abu-abu itu terlihat ketakutan kepadanya dan segera berlari ke arah hutan diikuti oleh werewolf hitam. Merekapun hilang ke dalam hutan.

Fiuh.. malam ini aku benar-benar beruntung sekali. Aku pun berlari mendekat untuk mengambil pisau dan samurai yang jatuh tadi. Aku melihat ke jam tangan, aku masih punya waktu sekitar dua menit lagi sebelum team meninggalkanku. Aku pun berlari ke tempat di mana team kita berjanji untuk bertemu. Meskipun sudah sangat lelah sekali, aku paksakan tubuhku untuk berlari. Aku tak mau ditinggal di hutan ini. Aku berlari dengan cepat, dan mataku tetap siaga siapa tahu masih ada werewolf yang masih berkeliaran dan belum kembali ke pemimpinnya. Di kejauhan kulihat seekor werewolf berwarna putih terang berlari dengan cepat ke arah utara untuk kembali ke pemimpinnya. Akupun harus mempercepat lariku, waktunya hampir habis! Aku lari sambil terus melihat fitur GPS yang ada di jam tanganku.

Terdengar suara mobil tidak jauh di depanku. Ah, akhirnya aku bisa keluar dari hutan ini. Kulihat jalan aspal dan 4 mobil jeep berwarna hitam dengan beberapa orang di atasnya. Fiuh.. aku kira aku akan ketinggalan. Aku pun naik ke atas salah satu mobil jeep itu tanpa menghiraukan 4 temanku yang sudah berada di mobil. Aku mengambil minum di kotak persediaan. Ah.. terasa segar sekali minuman ini setelah lari gila-gilaan tadi.

“Jim, mana Dani?” tanya Kapten Rida.

“Saya tidak tahu.. pak! Kami.. berpisah saat kami.. diserang di rawa dekat lapangan sepak bola!” jawabku dengan terengah-engah.

“Jon, cek posisi Dani!” perintah Kapten Rida pada Jona.

“Dia masih di wilayah rawa pak! Tapi dia tidak bergerak! Dia hanya diam!” jawab Jona.

“Sialan, dasar pemula! Dia pasti sudah mati!” kata Kapten Rida.

Kita pun terdiam. Kasihan Dani, ini misi pertamanya.

“Perintah adalah perintah, peraturan adalah peraturan, kita kembali ke barak! Semoga Dani mati dengan pantas dan tidak menderita..” kata Kapten Rida.

“Tapi bisa saja dia hanya cedera dan tidak bisa kesini pak!” kataku.

“…….” Kapten Rida hanya diam, aku tahu, kapten lah yang paling ingin menolong Dani saat ini. Aku pun ingin sekali kembali ke rawa itu untuk menolongnya, mengeceknya siapa tahu dia belum mati, tapi tubuhku sangat lelah, berdiripun sepertinya aku tak sanggup lagi.

Mobil kami pun mulai berjalan. Di kejauhan aku melihat sosok tubuh berlari ke arah kami.

“Kapten, tunggu! ITU DANI!!” teriak ku.

“AAAAAAARGH!!” teriak dani, sambil berlari dan.. sial! Dia terjatuh tersungkur di aspal.

“KEMBALI! PUTAR BALIK MOBIL INI!” perintah Kapten Rida pada Jona yang mengendarai mobil. Mobilpun dengan cepat kembali ke arah Dani. Kami turun untuk menolongnya. Ngeri sekali, darah di mana-mana. Aspal berubah warna menjadi merah darah.

“Tangannya!” teriakku. Sialan, tangannya tidak ada! Tulangnya terlihat remuk, berantakan sekali tangan kanannya!

“MEDIS!!” teriak Kapten Rida.

Kami menaikan Dani ke mobil. Kemudian Luki datang membawa peralatan medis, dan dengan sigap merawat tangan Dani yang putus. Perban, air, suntikan penghilang rasa sakit, semua dikeluarkan. Luki, mantan mahasiswa jurusan kedokteran di salah satu Universitas di Jakarta ini memang sangat membantu sekali dalam setiap misi kami. Dialah yang bertugas mengurus persediaan dan pengobatan kami saat menjalankan misi. Meskipun kuliah tapi tidak sampai lulus, dengan kemampuan kedokteran yang pas-pas an dia merawat luka-luka kami. Seharusnya dia diam saja di barak di bagian medis, tapi entah kenapa dia malah ikut terjun ke setiap misi kami. Setiap dia ditanya kenapa lebih memilih terjun ke lapangan daripada di medis, dia selalu menjawab: “Ngga tau, asik aja sih!”.

“Kita harus segera ke barak pak! Kita harus mengoprasi tangannya! Dia sudah kehilangan banyak darah!” teriak Luki pada Kapten Rida.

“Jon! Bawa kami kembali ke barak! Dengan cepat!” teriak Kapten pada Jona.

“Siap kapten!” teriak Jona.

Diapun menancap gas dengan sangat cepat, meninggalkan 3 mobil jeep yang lain dibelakang. Mobil kami pun dengan cepat melaju di jalanan di daerah bernama Situraja ini.

Like this:

Like Loading…


Originally published at fiksim.wordpress.com on August 16, 2016.

A single golf clap? Or a long standing ovation?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.