Someone Help Me — Chapter 9 : Hilangnya Petunjuk Terakhir

“Kamu akhirnya bangun juga, kak Fraidey.” [niel]

“Tunggu.. kak ??” [fiel]

“Yaa.. kak, kenapa ? Aku memang seharusnya memanggil dia begitu.” [niel]

Kenapa bisa ? Umur Niel terlihat sama dengan ku, tapi kenapa dia memanggil Fraidey kakak ?

“Lalu kenapa baru sekarang kau memanggilnya begitu ?” [fiel]

“Emm.. kalian berdua.. siapa ?” [fraidey]

“Seharusnya aku yang bilang begitu..!!” [fiel]

Apa-apaan dia ini, baru bangun langsung lupa ingatan, mereka berdua benar-benar membingungkan, mungkin akan bagus jika aku benturkan kepala mereka di pohon ini.

Tunggu pohon ? Benar juga, kalau di lihat-lihat pohon ini terlihat mirip dengan yang ada di Ethoria, tidak ini bukan mirip lagi, tapi ini memang yang ada di Ethoria.

“Hei Niel, ngomong-ngomong apa kau tau ini pohon apa ?” [fiel]

“Ahh.. pohon ini ya, aku sampai lupa, pohon inilah yang menjadi tempat bertemunya Martha dan Zorda, mereka berdua pasangan yang sangat kuat, dan pohon ini juga yang menjadi saksi bisu kisah percintaan mereka.” [niel]

Jadi pohon ini yang mempertemukan kedua orang tuaku, pantas entah kenapa rasanya aku merasakan kehadiran mereka ketika berada di bawah pohon ini.

“Tapi pohon ini terlihat sama dengan yang ada di Ethoria.. bagaimana bisa ?” [niel]

“Hemm.. berarti pohon ini terhubung dengan pohon yang kau maksud.” [niel]

“Tapi ini berbeda dimensi..” [fiel]

“Tidak ada yang mustahil bagi kedua orang tuamu.” [niel]

Apa benar begitu ? Apa benar orang tuaku juga bagian dari clan Q ? Tapi kenapa mereka tidak pernah memberitahukannya tentang hal itu ? Apa yang sebenarnya terjadi dengan mereka berdua sampai-sampai hal yang sepenting itu tidak pernah mereka ucapkan ? Dan kalau memang itu semua benar kenapa aku dan Niel masih hidup sampai sekarang ? Bukankah clan Q sudah di bantai habis tanpa sisa ?

Tiba-tiba Fraidey memegang tanganku, di tengah-tengah kebingunganku aku hanya memperhatikannya, dia pun sama, dia hanya memegang tanganku tanpa mengucapkan satu katapun.

“Kau tidak apa-apa Fiel ? Apa kau sedang memikirkan sesuatu ?” [niel]

“Ahh tidak.. hanya saja banyak sekali pertanyaan yang muncul di otakku, tidak perlu dikhawatirkan, ngomong-ngomong aku masih heran kenapa kau memanggil Fraidey kakak..” [fiel]

“Ohh itu.. karena memang dia jauh lebih tua dariku, itu saja.” [niel]

“Hahh…??!!” [niel]

Bagaimana mungkin ? Fraidey jelas-jelas terlihat seperti anak umur 6 tahun, bagaimana bisa dia mengatakan hal itu, apa benar dia jauh lebih tua darinya ?

“Hei Fraidey, apa benar kamu lebih tua dari Niel ?” [fiel]

Dia hanya mengganguk, berarti memang benar dia lebih tua tapi kenapa bisa ? ini benar-benar membingungkan.

“Lalu.. sekarang umur mu berapa ?” [fiel]

“306 tahun” [fraidey]

“Haaaaaa??!!!” [fiel]

Dia pasti bercanda, bagaimana mungkin umurnya bisa sampai 306 tahun ? ini pasti mimpi yang ku alami, sudah pasti, haruskah aku memukul wajahku untuk mengeceknya ?

“Hei Niel.. maukah kau memukul wajahku ?” [fiel]

“Baiklah..” [niel]

*Duggg

Sial.. dia benar-benar memukul wajahku, tapi aku merasakan sakitnya, maksudku.. ini memang bukan mimpi.

“Ehhh… maaf, apa kau tidak apa-apa ?” [niel]

“Ahh.. iya, aku tidak apa-apa” [fiel]

“Sshhhh…” [fraidey]

Tiba-tiba Fraidey menyuruh kami berdua diam, aku tidak tau kenapa dia begitu, Niel pun sama, dia memegang pudak ku sambil melihat keatas seperti memperhatikan sesuatu, wajah mereka terlihat sangat serius, sementara aku seperti orang bodoh yang kebingungan melihat mereka.

“Kita harus segera pergi dari sini, mereka akan menemukan tempat ini jika kita terlalu lama disini.” [niel]

“Mereka ?? siapa ??” [fiel]

“Iblis yang sebenarnya.. yang bersembunyi di balik kekuasaan kerajaan Ethoria.” [fraidey]

Tunggu, iblis yang sebenarnya ? siapa ? aku sama sekali tidak mengetahuinya, kenapa tiba-tiba Fraidey bilang begitu ? sebenarnya ada apa dengan mereka berdua ?

Dengan cepat Niel mengeluarkan pola sihir dibawah kaki kami bertiga, sama seperti waktu dia pertama kali memindahkan kami kesini, dan dengan cepat pola sihir itu menjadi satu. Saat aku membuka mata, ternyata diriku sudah berada atas bukit di bawah pohon besar yang sering ku kunjungi.

Ternyata benar apa yang diucapkan Niel, pohon yang ada di Crystalesia terhubung dengan pohon yang berada di Ethoria, tapi kenapa bisa ? apa ayah dan ibu yang menyatukannya ?

“Fiel.. aku ingin bertanya padamu, dimana kau meletakan buku itu ?” [niel]

“Buku ? Ohh.. aku menaruhnya di kamarku, di asrama kerajaan.” [fiel]

“Kita kesana sekarang..” [niel]

Tiba-tiba Niel menarikku berlari menuju asrama kerajaan, posisi asrama kerajaan bersebelahan dengan istana, dan entah kenapa dia terlihat sangat terburu-buru, saat aku menoleh kebelakang ternyata Fraidey tidak mengikuti kami berdua.

“Niel tunggu.. Fraidey tidak mengikuti kita, dan kau kenapa tidak memakai tubuh Ililago ??” [fiel]

“Tak apa.. dia bisa langsung datang ke tempat kita nanti.. mungkin dia merasakan sesuatu, dan sepertinya untuk sekarang sudah tidak perlu lagi aku memakai tubuh itu..” [niel]

“Benarkah ?? Lalu bagaimana cara Fraidey bisa datang ke tempat kita nanti ?” [fiel]

“Nanti kau juga akan tahu.” [niel]

Saat kami tiba di dekat pintu masuk istana, Niel menggunakan sihir teleportasinya seperti tadi, dan secara tiba-tiba aku sudah berada di dalam asrama, tapi kenapa tidak ada orang disini ? tanpa pikir panjang aku langsung lari menuju kamar ku, sementara Niel mengikutiku dari belakang.

Saat tiba aku langsung bergegas mencarinya, dan entah kenapa aku lupa menyimpannya dimana, seingatku aku meletakkannya di dalam lemari bajuku, tapi entah kenapa aku tidak menemukannya, apa terjatuh di suatu tempat ? Tidak mungkin, karena aku ingat sekali sudah meletakkannya dengan benar.

Ini tidak mungkin, bagaimana bisa aku menghilangkan sesuatu yang sangat berharga, padahal hanya tinggal selangkah lagi aku bisa mengetahui semuanya.

“Ahhkk sial.. bagaimana bisa buku itu tidak ada disini..?” [fiel]

*Braakk

Dengan perasaan kesal aku membanting pintu lemariku dengan keras.

“Apa yang terjadi ? Apa kau tidak menemukannya ?” [niel]

“Tidak.. padahal aku sangat ingat sudah meletakkannya dengan benar disini, bagaimana bisa buku itu bisa hilang..?” [fiel]

“Mungkin kau lupa, coba kita cari di tempat lain.” [niel]

“Semoga saja..” [fiel]

Dengan perasaan gelisah yang terus menghantuiku, aku mencoba memeriksa laci mejaku, tapi disana juga aku tidak menemukannya, sebenarnya kemana buku itu menghilang ?

“Hei Fiel.. kemarilah, apa kau selama ini memakai kalung seperti ini ?” [niel]

Sambil mengambil sebuah kalung yang tergeletak di lantai Niel mencoba memberitahukannya padaku, karena penasaran aku pun menghampirinya.

“Kalung ini.. Wichel..??” [fiel]

Aku ingat kalung ini, waktu aku pingsan di kota karena melihat bayangan yang waktu itu dan Wichel membawaku ke tempatnya, saat itu dia tidak memakai seragam kerajaan, dia hanya memakai baju biasa jadi aku bisa melihat kalung ini dikenakan olehnya.

“Ahh aku baru sadar.. aku juga tau kalung ini, ingatan Ililago masih ada di kepalaku, jadi benar buku itu dicuri olehnya.” [niel]

“Lalu bagaimana kita mendapatkannya kembali ? Sebenarnya apa yang terjadi ?” [fiel]

“Akan ku jelaskan nanti, yang penting kita harus mendapatkan buku itu dulu.” [niel]

Bagaimana Wichel bisa tahu tentang buku itu ? Aku harap dia tidak memberitahukannya pada para kesatria lain, apalagi kepada raja Tristan, aku bisa-bisa terkena masalah jika dia memberitahukannya. Dan sekarang bagaimana aku bisa bertemu dengannya ?

“Lalu bagaimana kita menemukan Wichel dan meminta buku itu kembali ?” [fiel]

“Tidak usah repot-repot mencarinya, dia sudah tau keberadaan kita disini, dan mungkin sekarang diluar sana sudah banyak orang yang akan membunuh kita berdua disini.” [niel]

Aku harap ini tidak benar-benar terjadi, kegelisahan ini terus menghantuiku, aku mencoba memejamkan mata menenangkan pikiranku sejenak, saat aku kembali membuka mata aku dikejutkan dengan sosok bayangan yang waktu itu, bayangan itu berdiri tepat di depan pintu kamarku, sial kenapa dia muncul disaat-saat seperti ini.

“Ka.. kau… Benarkah..??!” [niel]

Mendadak Niel terkejut dengan kehadirannya, aku pikir hanya aku yang bisa melihatnya, tapi ternyata Niel juga bisa, tapi ekspresi wajah Niel benar-benar berbeda, aku tidak tau apa yang sedang dia pikirkan.

Lalu bayangan itu mengangkat tangan kanannya lalu mengayunkannya, terlihat seperti sedang menyuruh kami pergi dari sini.

“Ba.. baiklah.. terima kasih.” [niel]

Lalu Niel dengan cepat memegang tanganku dan membuat pola sihir teleportasi seperti biasanya.. tunggu, Niel barusan mengerti apa yang dimaksud bayangan itu ?

. . . .

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.