Grrrl Gang: (Bukan) Summertime Sadness

Catatan Setelah Mendengar album “Stop This Madness”

Stereoscope, gawai analog untuk melihat foto-foto dalam slide bundar.

Di akhir agustus lalu, Aku mulai dihantui semacam kecemasan terutama setelah teringat satu lagu Destroyer - “Farrar Strauss and Giroux”. Datang semacam kekosongan saat Bandung yang biasanya kering ini tiba-tiba diguyur air hujan, “The eaves dripping yesterday’s/ Ill-timed August rain.” Lirik penutup lagu tersebut memang mencoba memberikan sanggahan pada pernyataannya sendiri namun tetap tidak bisa mengusir gatal yang tidak bisa digaruk ini, pula ditambah melodi piano yang memperkuat kemurungan. Soalnya begini, ingatan kejadian dan kesan yang sudah lama terlewat bisa datang lagi pas ngudud di trotoar atau waktu mandi subuh-subuh dan celakalah Aku kalau yang menetap adalah yang buruk-buruk.

Hari minggu lalu, plex6 menyebut Grrrl Gang, yang manggung di Internet Fwendz malam sabtunya, sehabis konser kecil-kecilan Sunkencourt Echo Chamber yang mengundang Backyard Lullaby, yang dibuka oleh Senartogok dan ditutup Oscar Lolang (yang ikut bertandang dan dipaksa penonton buat manggung. hehe). Dua teman di waktu berbeda pun menambah rasa penasaran ke mereka, “Grrrl Gang tadi ke Tiben, Ris?” Aku balas dengan sotoy, “Iye.” Sebagai netizen, kucoba cek n ricek di jagad maya dan di laman instagram-nya, mereka menyatakan sebuah acclaim,we’re not sad, but we’re just not fulfilled.

Lewat Kolibri Records, mereka meluncurkan dua lagu, “Bathroom” dan “Thrills” dalam album “Stop This Madness”. Keduanya dimainkan dengan lembut dan ringan tanpa akrobat-tak-perlu yang bisa membuat kerumunan di konser tiba-tiba berhenti ikut menari. Keduanya terdengar teredam seperti diputar di ruangan yang sangat besar (mungkin gudang?) dan itu memperkuat cerita masa lalu yang berlatar summertime ini. Tetapi jangan salah menyangka keduanya sebagai lagu summertime sadness sebab Grrrl Gang membawakannya dengan indifference yang kental dalam keseimbangan antara gitar berdistorsi mild, dan vokal yang lepas namun terasa tertahan.

Bathroom mungkin dibuka dengan usil, “My baby is taking a shit/ In the bathroom” yang bisa membuat kita mengernyitkan dahi. Atau malah jadi senyum-senyum sendiri? Lagu ini mengajak kita, di akhir musim panas, untuk menyelami ingatan tentang seseorang yang jauh dan samar-samar; tersisa hanya sebuah angan-angan kecil “But I’d still like to see that smile”. Setelah itu terdapat full stop pada vokal dan cerita dilanjutkan secara singkat seakan membiarkan ingatan meluruh “You once had.” Di sana Aku tidak dibiarkan berlarut-larut dalam kesedihan yang depresif nan mengayun melainkan dihanyutkan dalam suasana sebuah kamar berantakan dengan asbak dan kaleng bir (kalau Aku mungkin intisari/kudamas) dan poster-poster band indie britpop dan gitar akustik yang senar empatnya putus di sudut sana.

Di kutub lain, di luar kenang-mengenang dari jauh, kita diundang hadir ke dalam kejadian runut di sebuah malam musim panas yang mengingatkanku pada film “Before Sunrise (1995)”. Lagu ini dimainkan dengan fase cepat namun kita masih bisa mengejar dan menikmati kilas-kilas detil yang diceritakan. “Thrills” menemaniku memandang dari sebuah stereoskop View-Master dengan gambar-gambar berwarna pastel khas sutradara Wes Anderson. Lagu ini adalah confession yang jujur dan berani, dengan lepas memberikan penekanan pada “fuck” dan “head” dalam

“You made me feel safe when you held me oh, so tight
and fucked me in your room that night
You were attracted to my innocence
Also was it because I was good at giving head?”

namun musik yang asik dibawa moshing ini dan vokal yang di beberapa waktu drop ke bass cleff menjauhkan kita dari kesan vulgar. Bait itu mungkin bisa mengungkapkan (membebaskan?) gelisah seorang young adult di sabtu malam. Baris terakhirnya mengesankan keraguan “apakah iya? mungkin …” yang minus penilaian moral atau emosional. Refleksi serupa muncul juga di awal lagu namun terasa positif dan hendak meyakinkan kembali: “There was nothing else that I could really do/ But one thing for sure is that I wouldn’t be alone”. Kecepatan penceritaan ditutup dengan pengulangan “You made me feel good” dan hentakan teredam “All night long” yang membekukan momen dan menyudahinya sama sekali.

Mendengarkan kedua lagu ini mendorongku melanjutkan lagi “In Search of Lost Time” (Novel 4215 hlm-nya Marcel Proust) yang kutinggalkan dua minggu lalu. Seperti the lost time, lagu-lagu Grrrl Gang adalah sepotong madelaine yang larut di sendok teh narator, memicu kita mengorek-ngorek ingatan nun di lampau. Setelah kesan itu hilang, kita coba lagi beberapa sendok untuk memicunya datang lagi namun tidak terjadi apa-apa, hanya manis tersisa di mulut (sweet aftertaste). Apakah selalu, setelah kita terpelatuk di sebuah minggu sore, kita ‘menginginkan-lebih’ dari ingatan yang sayup-sayup?

Pada akhirnya, “Stop This Madness” adalah kombinasi dua kutub yang saling menguatkan. Kita mengakses ingatan dari ‘kini’ yang dimainkan kalem pada “Bathroom” dan menyelam dalam kecepatan yang intim pada “Thrills”, tanpa sesak napas namun mungkin sebuah sigh. Baris-barisnya yang mengejutkan tidak perlu metafor-metafor berlebihan untuk menjadi puitik. Kedua lagu memberikan penyegaran kepada anggapanku terhadap indie pop yang kurasa cenderung menyeretku ke kolam kesenduan ‘melulu’. Bahwa ingatan ditaruh pada ruang-waktunya saja dan boleh lah menetap sebentar sebab it’s okay… it was sweet. Aku tidak perlu pura-pura sedih atau riang karena “that smile” dan “you made me feel good/ All night long” sudah cukup.