Gula Tetes Pak Sarkom

Pengolahan gula tetes sumber: http://gadunganpuncu.desa.id/foto_berita/53tts2.jpg

“Kurang berapa jam lagi kita akan sampai ke pabrik itu?” tanya pengemudi motor jadul win 100. Motor warisan dari bapaknya yang bekas perangkat desa dulu.

“Barangkali sekitar satu jam lagi.”

Jauh berkendara ke timur, di pinggiran Kabupaten K, terdapat satu kampung yang bercokol pabrik tua yang tampak sudah enggan berproduksi. Tidak ada nama perusahaan dagang terpampang dari pabrik tersebut layaknya pabrik-pabrik yang sering kau lihat di sekitaran kawasan industri. Layaknya pabrik lain di kampung itu, pabrik itupun tidak berisi banyak pekerja. Hanya 2–3 orang sahaja, jikalau sudah mendekati waktu ashar para pekerja biasanya akan pulang untuk menunaikan ibadah dan dilanjutkan dengan menyari rumput untuk pakan ternak mereka di rumah. Pemilik pabrikpun yang sudah generasi ke-3 tidak keberatan dengan rutinitas tersebut, pun demikian dengan dirinya mempunyai kegiatan mencari rumput bagi ternaknya. Tidak ada kegiatan yang bisa dikatakan sebagai pekerjaan tetap, semua dianggap mereka hanya sampingan. Karena begitulah warga di kampung itu. Mungkin jika kau lebih berkendara ke arah utara, tepatnya dua kampung setelah kampung itu kau bisa menemukan warga dengan pekerjaan yang agak mendekati tetap, yaitu nelayan. itupun terjadi jikalau kondisi alam masih bersahabat dan mesin kapal sedang tidak rewel.

Pagar pabrik itu terbuat dari bambu-bambu yang dijejalkan begitu saja dengan ditopang kayu waru (Hibiscus sp.) yang didapatkan dari tanaman sela samping rumah para warga atau di tegalan. Sementara bagian blandar-nya dari kayu glugu (Cocos nucifera) dan usuk-nya dari bambu yang diambil dari tegalan pula. Dilihat dari satu bentuk keutuhan pabrik, kesemuanya tadi sudah lama lapuk dimakan Kumbang Bubuk Kayu (Lyctus brunneus). Kumbang yang berwarna cokelat kemerahan ini memang suka akan kayu-kayu kering yang sudah tak terawat. Sementara itu besi-besi yang menjadi wadah pemanas bahan-bahan yang sudah selesai di keprak juga sudah karatan. Di pojok pabrik itu terdapat sebuah meja yang biasa dipakai pemiliknya menghitung serba-serbi keuangan baik yang keluar maupun yang masuk.

“Kita mampir dulu di warung itu.” Ajak si pengemudi. “Barangkali kita mendapatkan beberapa informasi mengenai pabrik itu.”

Tanpa banyak keberatan, sang pembonceng manggut-manggut saja dengan tanda setuju sudah diperlihatkan. Di warung itu mereka memesan dua kopi hitam dan mengambil beberapa tape ketan sebagai pengisi perutnya yang sedari pagi bekum terisi dari rumah. Mereka berdua bergabung dengan warga yang lain sembari mengikuti perbcangan ngalor-ngidul.

”Adik berdua saking pundi?”

“Kami berdua berasal dari Kabupaten D, kami kemari hendak meninjau pabrik tua pembuat gula tetes, pak.”

Salah satu orang paling tua diantara pemasan kopi di warung itu bertanya atas sebab kedatangan mereka. Memakai peci miring, dengan sabuk lebar diikatkan di sarung hijau Samarinda. Dandanannya necis, terlihat bahwa orang ini habis datang dari pasar. Rokoknya lintingan sendiri dengan geretan yang masih memakai minyak tanah. Bau menyan yang keluar dari kepulan asapnya pun tak bisa terhindarkan.

“Loh kok jauh-jauh sampai kesini, memangnya di daerah adik-adik ini tidak ada?”

“Sudah tidak ada pak, sekarang sudah tidak zamannya membuat gula tetes. Di daerah kami sekarang kebanyakan pada tanam tembakau, bukan tebu lagi.” Ucap sang pembonceng.

“Bukannya malah menanam kopi seperti anjuran anak-anak muda lain yang datang kemari. Katanya supaya lebih terkesan agroforesti dan lebih terlihat hijau.”

“Daerah kami kurang cocok ditanami kopi pak, jangankan kopi, jati saja yang mudah ditanam sepanjang daerah panas ini tidak bagus hasilnya.”

Kemudian orang tua itu bercerita tentang pabrik yang sedang di gali informasinya oleh kedua anak muda. Cerita aslinya memakai bahasa jawa, agar kau memahaminya disini dituliskan dengan memakai bahasa yang agak lebih tercerna.

****

Pabrik tua itu memproduksi Gula tetes. Gula tetes, kenapa dinamakan seperti itu karena kelakuannya yang menetes ketika dikonsumsi, berbeda dengan gula pasir ataupun gula batu (orang di daerah itu menyebutnya gula gethok/gula jawa) yang biasanya dikonsumsi oleh penduduk setempat. Setidaknya itu menurut versi orang asli daerah tersebut. Di tempat lain mungkin kau mengenal gula tetes ini dengan sebutan molase. Dulu ketika sedang tenarnya berternak sapi, gula tetes adalah primadona teruntuk bahan makanan sapi, penyeling/pengganti rerumputan yang telah lama hilang di daerah itu. Sapi-sapi yang menelan gula tetespun terlihat lebih gemuk, berbeda dengan sapi-sapi yang hanya menelan rumput serta campuran dedaunan seperti daun jaranan, daun lamtoro dan daun-daun lainnya. Nah, dengan kenyataan seperti itu Pak Sarkom yang kebetulan memiliki sapi empat ekor kepincut untuk memberikan pakan gula tetes. Akan tetapi kendalanya adalah biaya pembelian gula tetes dari kabupaten sebelah sangat merogoh koceknya. Akhirnya diputuskan mendirikan pabrik penghasil gula tetesnya sendiri dengan dia sendiri sebagai pekerjanya. Tentunya skala produksinya hanya untuk mencukupi hewan ternaknya saja. Tidak lebih.

Lambat laun para tetangganya melirik pekerjaan tersebut. Berucaplah beberapa orang untuk membantu pekerjaan Pak Sarkom dengan imbalan memperoleh gula tetes untuk pakan ternak mereka masing-masing. Tidak ambil pusing Pak Sarkom mengiyakannya dengan catatan dirinya tidak dapat memberikan apapun kecuali gula tetes buatan mereka sendiri. Begitulah pabrik gula tetes Pak Sarkom. Ketika dirinya sudah menua, anaknyalah yang mengelola. Tidak jauh berbeda dengan orang tuanya, anaknyapun menerapkan sistem yang sama.

“Sopo mau jum?” tanya si anak kepada jumali, salah satu pekerja di pabrik itu.

“Itu nang[1] orang kabupaten sebelah hendak pesan gula tetes. Barang beberapa blung[2] untuk pakan ternak mereka.”

Sejak saat itu, pabrik gula tetes yang hanya menyediakan pakan ternak bagi pekerjanya mulai beroperasi untuk memenuhi kebutuhan pakan ternak para warga kabupaten sebelah. Pabrik gula tetes Pak Sarkom sudah dapat memperkerjakan enam orang. Setelah di limpahkan segala urusan pabrik ke anaknya yang tak lain adalah cucunya Pak Sarkom, sistem pabrik sudah mempunyai masalah penggajian terhadap para pekerja. Untuk waktu pekerjaan disesuaikan dengan kondisi warga setempat. Kondisi pekerjaannya sudah diceritakan diawal tadi. Kau harus memperhatikan masalah ini dengan sudut pandang masyarakat setempat sehingga tidak terjebak dengan dialektika pembebasan yang sering kau elukan itu.

***

Setelah mereka berdua usai berbincang dengan orang-orang di warung tersebut, tibalah saatnya menuju ke tempat pabrik gula tetes berdiri. Dengan keseluruhan ataupun sebagian informasi yang sudah didapatkan mereka meninjau lokasi. Ketika sudah sampai sang pembonceng langsung mengamati sekitar pabrik, sementara sang pengemudi diam membatu. Di ingatnya lagi puing-puing masa lalu yang berubah jadi hantu. Inikah desa masa kecilku? Inikah pabrik tua itu?

Maksudnya begini jika kau masih bingung apa yang diceritakan disini, di desa itu sudah tidak banyak orang desa yang menanam. Menanam apapun, tidak hanya padi, akan tetapi palawija lainnya pun mulai ditinggalkan. Mereka patuh ketika diberikan resep empat sehat lima sempurna dari malaikat mikail, dengan daging sapi sebagai makanan yang menyehatkan. Dengan sarden daging sapi pula ataupun makanan cepat saji lainnya. Sudah tersedia di tempat yang lebih bersih daripada pasar.

“Serius kau mau balik saja?” tanya si pembonceng

“Ya, kurasa sudah cukup bagiku melihat pabrik tua itu.”

Jika kau membaca hikayat tumbuh-tumbuhan karangan ilmuwan berhidung mancung, kau akan menggaris bawahi keadaan di desa ini dan di pabrik itu, bahwa lama-lama padi dan tanaman-tanaman lainnya pun terdesak dengan rerumputan, rerumputan ini tak lain untuk kebutuhan ternak dan sejurus kemudian rerumputuan terdesak dengan lahan ternak sapi yang menghampar luasnya. Setelah itu involusi peternakan mulai membumi, dengan berkedok kesejahteraan manusia, penggantian jenis tanaman tertentu akan dihalalkan atau paling tidak setengah di halalalkan. Dalam kasus gula tetes adalah tebu. Gula tetes sangat menarik. Pada zamannya tentunya.

“Dulu waktu kecil aku sering bermain di kolam bakal gula tetes yang baru satu dua kolam didirkan di desa ini. Sekiranya begitu, beberangen dengan pembangunan pabrik tahu. Ampas tahu akan dipakai untuk makan sapi juga. Tapi hal itu tidak bertahan lama, karena manusia disini mulai mengolah lagi sebagai bahan pembuat tempe bongkrek. Yaitu salah satu varian tempe yang digemari di desa ini, selain tempe yang di bungkus dengan daun jati atau plastik.” Ucap sang pengemudi.

Sekarang kau akan melihat para penduduk di kampung itu bertelanjang dada di depan rumah atau di tempat penjual kopi. Tidak tahu menahu kalau dunia sedang perlu istirahat barang sejenak.

[1] Nang adalah sebutan bagi anak lelaki. Terbentuk dari kata lanang, danang, kenang.

[2] Blung merupakan satuan yang digunakan untuk kegiatan jual-beli yang berkaitan dengan benda-benda cair, jumlahnya harus banyak yang akan muat dimasukkan dalam drum minyak tanah. Blung sendiri adalah wadah air yang biasa digunakan untuk memandikan mayat di kampung-kampung.

Like what you read? Give MasChoi a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.