Mengenal Kim Ki-duk, Sutradara Keindahan dan Kekejaman dari Kor-Sel

Bukan Sekadar 10 Hal yang Harus Kamu Ketahui Tentang Film-film Kim Ki-duk Sebelum Mati.

Kim Ki-duk dalam film Spring, Summer, Fall, Winter… and Spring (2003)

Hey, Hey Siapa Dia?

Lima belas tahun sebelum bekerja di Seoul Industrial Park, Ki-duk ialah bayi merah yang mesti menemu dunia lewat pemotongan ari-ari dari perut ibunya, tanggal 20 Desember tahun ’60 di Fenghua, Korea Selatan. Masa remaja Ki-duk dihabiskannya dengan bekerja di pabrik di daerah Cheonggyecheon. Ki-duk sempat mengenyam sekolah teknik pertanian. Namun ia keluar(kala masih setingkat SMP). Kemudian di usia 20, Ki-duk masuk korps angkatan laut sebagai relawan. Ia tahun kemudian ia mendaftar di Asosiasi Seminar Teologi. Namun karena lebih tertarik dengan dunia seni lukis, Ki-duk berangkat ke Perancis. Di Perancis Ki-duk menjadi flaneur gelandangan sebagai pelukis jalanan tahun ’90 sampai ’92. Di masa ini ia menjual lukisannya untuk bertahan hidup.

Tahun ’92 Ki-duk memutuskan untuk menjadi sutradara usai menonton film The Silence of Lambs (Jonathan Demme) dan Les Amants du Pont-Neuf a.k.a The Lovers on the Bridge (Leos Carax). Ki-duk-31 tahun balik-kampung ke Korea. Tahun ’96 ia merilis film debutnya Crododile (Ag-o) . Film ini menuai banyak kontroversi di Korea. Mulai dari kalangan kritikus film sampai kelompok feminis Korea. Kritikus film mengungkapkan bahwa film Crocodile memiliki banyak plothole di sana-sini. Sementara kelompok feminis menyatakan film ini misoginis dan cenderung membiarkan kekerasan fisik dan seksual terhadap perempuan. Tahun 2000 dan 2001, film Ki-duk The Isle (Seom) dan Adresse Unknown (Suchwiin bulmyeong) berturut-turut terpilih untuk Venice Film Festival. Film ini menjadi tiket terbang Ki-duk ke langit film internasional.

Tahun 2002, The Coast Guard (Hae anseon) menjadi film pembuka di Pusan International Award. Setahun kemudian, ia merilis film yang teramat kental dengan Zen Buddhism (Banyak mengambil referensi dari Why Has Bodhi-Dharma Left for the East? 1989) dan menjadi filmnya yang paling digemari di Amerika. Spring, Summer, Fall, Winter, and Spring menyentak para penikmat dan pengamat film Ki-duk. Ki-duk masuk ke periode karya yang baru menurut mereka. Film Ki-duk yang tidak lagi brutal dan kejam. Tahun 2004, Samaritan Girl (Samaria) memenangkan Silver Bear Best Director. Di tahun yang sama, ia juga memenangkan Penghargaan Sutradara Terbaik di Venice Film Festival dengan film yang berbeda: 3-Iron (Bin-jip). Ini makin memantapkan namanya di jajaran sutradara terkenal dunia. Tahun 2008 Ki-duk mengasingkan diri di pedesaan Gangwon-do. Diduga karena kecelakaan teknis yang menimpa aktrisnya semasa syuting film Dream. Lee Na-young hampir meninggal saat memerankan adegan gantung diri di film Dream. Tahun 2011, setelah hampir 4 tahun vakum, Ki-duk merilis film otobiografinya, Arirang, dan menang Cannes Film Festival ke-64 kategori Un Certain Regard. Tahun 2012, filmya Pieta memenangkan Golden Lion sebagai film terbaik di Venice Film Festival ke-69. Lengkap sudah penghargaan Ki-duk dari 3 festival film terbesar: Venice, Cannes dan Berlin. Ia menjadi yang pertama di Korea mendapatkan itu.

Ki-duk sewaktu sesi foto di Venice Film Festival ke-70 tahun 2013

Sinema Sensasi : Keindahan, Kekerasan Menyatu Dalam Imaji-Gerak

“Film lain pemenang festival menang-cerita. Filmmu menang-citra”, ungkap Panitia Venice Film Festival. Pernyataan yang mengisyaratkan humor dalam pujian. Penulis sependapat dengan ujaran itu apabila cerita yang dimaksud adalah dialog-dialog yang bernas, plot yang memukau. Tentu saja demikain, karena kabarnya, setelah selesai menulis skenarionya, semua dialog akan ‘dihapus’ Ki-duk. Ia hanya menyisakan bagian yang terpenting saja. Di The Isle, The Bow, Samaria, 3-Iron, tokoh utamanya tidak memiliki satu ucapan pun, baik monolog apalagi dialog. Dalam Pieta dan Moebius, nyaris semua tokoh ‘diam seribu bahasa’. Sepertinya akan mudah memerankan film Ki-duk dibanding dengan film Woody Allen dengan kalimat bertubi-tubi itu. Tetapi tunggu dulu, ekspresi, gestur, dan sikap tubuh lain menjadi tantangan tersendiri yang menyulitkan apalagi mesti dipadu dengan keindahan shot Ki-duk.

(“what is preserved-the thing or the work of arts- is a bloc of sensations, that is to say, a compuond of percepts and affects. Percepts are no longer perceptions; they are independent of state of those who experience them. Affects, are no longer feelings or affections; they go beyond the strenght of those who undergo them. Sensatio, percepts, and affects are beings whose validity lies in themselves and exceeds any lived. The work of art is a being of sensation and nothing else: it exists in itself.” (Delleuze 1994: 164)

Apa yang dilestarikan oleh benda atau karya seni merupakan kumpulan sensasi, artinya, senyawa yang tersusun dari percepts and affects. Percept bukanlah persepsi; ia merupakan keadaan independen yang lepas dari siapa yang mengalami mereka. Affect, bukanlah perasaan atau kasih sayang; mereka melampaui kekuatan sesiapa yang mengalami mereka. Sensatio, perscept, dan affect ialah wujud yang validitasnya terletak pada diri mereka sendiri dan melebihi wujud lainnya. Karya seni ialah suatu wujud sensasi, tidak ada lagi yang lain: ia ada dalam dirinya sendiri. (Deleuze 1994:164)

Dengan demikian, seperti ditulis oleh Arief Rp (2017) dalam “MEMBEDAKAN SENSASI DARI YANG SENSASIONAL” bisa diungkapkan bahwa sensasi dalam film bukan soal perasaan atau ekspresi batin. Sensasi menangkap kesan yang sebelumnya telanjur ditafsirkan dalam kerangka atomistik individuasi. Representasi kesan yang atomistik ini menyebabkan kegagalan dalam sinema yang figuratif karena ia sudah terbebani tafsir moral dan psikologis.

Film figuratif tidak akan mencapai sensasi karena ia selalu mempunyai jalan langsung (memintas) menuju otak tanpa melewati sistem saraf.

“In this regard, the same critism can be made against both figurative painting and abstract painting: they pass through the brain, they do not act directly upon the nervous system, they do not attain the sensation, they do not liberate the figure-all because they rimain at one and the same level.” (Deleuze 2003:36)

Fungsi sinematografi dalam terminologi sensasi adalah menghadirkan kembali dunia yang belum terpsikologiskan oleh manusia, dunia sebelum dirasakan secara individual, dunia yang mengalami dirinya secara langsung tanpa perantara manusia, dalam ranah filsafat estetika disebut “realisme kodrati”.( Arief Rp: 2017)

Jelas film-film Ki-duk membawa keberingasan manusia ke layar, realitas prostitusi di Korea Selatan, atau dampak sosial perkembangan pesat industri di Korea serta menyoal perang dan impaknya bagi manusia, tanpa dibebani moral atau suatu tanggung jawab tertentu. Sinema Kim, yang konsisten menghadirkan kehidupan itu, menjadi sebuah karya seni yang indah lagi agung.

Daniel Smith menulis bahwa tujuan paling umum dari seni, menurut Deleuze, adalah untuk memproduksi suatu sensasi, untuk mencipta satu “being of sensation” atau “wujud sensasi” yang murni berupa sebuah tanda. Tanda yang dimaksud oleh Deleuze bukan sebagai metafora atau tanda semiotik, namun sebagai kekuatan pertemuan, atau objek pertemuan yang fundamental.

Tanda bagi Deleuze itu merupaka intensitas yang memproduksi oleh relasi-relasi diferensial. Apa yang kita lihat di layar barangkali tidak hanya beroperasi sebagai ‘representasi’ tetapi sebagai tanda pertemuan material, sebagai sensasi. Pengalaman sinematik menjadi ‘event’ sejajar dengan representasi. (lihat buku Deleuze berjudul Francis Bacon: Logique de la Sensation.)

Sensasi mengacu kepada seluruh rentang perbedaan persepsi kesadaran, pada tingkatan yang melampaui subjektifitas. Dalam film Ki-duk sensasi yang dimaksudkan Deleuze ini sepenuhnya hadir sebagai kesatuan utuh.

Imaji-Gerak Deleuze

Deleuze banyak menggali ide dari Bergson. Pandangan Bergson tentang semesta material ini ialah imaji, (aggregate of images), Deleuze pun memahami segala hal dalam kenyataan ini ialah imaji — citra, bentuk — sereantak adalah gerak, ‘imaji-gerak’, dan sekaligus berkesadaran. Setiap materi dalam semesta ini adalah imaji, kesadaran dan gerak. Dalam kerangka pikir seperti ini, sinema bukanlah ‘representasi’ ataupun ‘imitasi’ realitas, melainkan realitas itu sendiri. Gerakan-gerakan dalam sinema itu real; imaji di dalamnya adalkah imaji yang bergerak sendiri (self-moving image). Semuanya tidak bergantung kepada pesan personal sutradara maupun aktornya, tidak juga pada kesan subjektif dari penonton sinema itu sendiri. Yang membuatnya real dalah mobilitas imaji-imaji tersebut.(Bambang Sugiharto:2014)

Imaji-gerak dalam sinema adalah contoh bagaimana hubungan timbal-balik subjek-objek antar imaji, dalam kehidupan nyata: bagiamana yang bersifat kuantitatif menimbulkan efek-efek kualitatif, baik pada sososk imaji keseluruhan di dalam layar maupun di luar layar. Tiap gerak dari aktor dan aktris dalam layar membentuk sekaligus mengubah imaji keseluruhan cerita. Layar sinema merupakan contoh dari otak manusia itu sendiri: bagaikan layar, otak manusia pun memproduksi unsur-unsur kualitatif dari konstelasi imaji kuantitatif. Dalam realitasnya, hubungan imaji-gerak mewujud dalam berbagai konfigurasi seperti di bawah ini:

1. Imaji-persepsi (perception-image)

Imaji-persepsi ialah kesan sejauh dipersepsi oleh orang. Imaji-persepsi berfokus pada apa yang tampak. Faktor penentunya banyak, bukan cuma tergantung pada subjek yang memersepsinya. Dalam film, bagaiaman imaji dipersepsi ditentukan juga oleh kamera (camera-consciousness, kata Deleuze) misalnya montase.

2. Imaji-aksi (action-image)

Imaji aksi adalah gerak motor-sensorik yang dirancang dan dilakukan oleh tokoh pemeran dalam konteks dunia-cerita yang diperankannya. Imaji-aksi berfokus pada jangka waktu (durasi) aksi.

3. Imaji-afeksi (affection-image)

Imaji-afeksi merupakan cara menyatakan situasi mental-dalam dibuat tampak ke luar (inside made outside). Ini terutama dimungkinkan dengan teknik close-up. Close up menyorot wajah, kaki, tangan, atau objek lain seperti pistol, pisau, atau hape. Close up memang semacam fasialisasi (pewajahan) objek, sekaligus semacam rute perubahan (transisi) dari suatu kualitas ke kualitas lain (peralihan ekspresi, mimik, atau suasana), misal dari heran, ke marah, ke takut. Imaji-afeksi ini berfokus pada ungkapan perasaan. (Bambang Sugiharto:2014)

Kalaulah boleh disebut benang merah, tentu beberapa hal berikut ini menjadi ciri khas Ki-duk. Tokoh-tokoh film Ki-duk memiliki beberapa kesamaan seperti: sama-sama tokoh yang tinggal di daerah yang terpinggirkan. Jauh dari hiruk-pikuk. Misalnya dalam The Bow tokoh tinggal di perahu di lautan luas. Dalam Spring, Summer, Fall, Winter… and Spring, tokohnya tinggal di tengah danau di tengah hutan, dan masih banyak lagi macam Pieta di daerah pinggiran industri.

Set film Spring, Summer, Fall, Winter… and Spring (2003)

Kemudian tidak segan-segan Ki-duk menampilkan adegan kekerasan. Beberapa yang paling memorable diantaranya adalah adegan mata pancing di The Isle, adegan potong penis di Moebius, adegan hukuman pemukulan sambil digantung tali di Spring, Summer, Fall, Winter… and Spring sampai adegan diseret di aspal dengan mobil pick-up di film Pieta.

Kemudian tokoh yang terpinggirkan tersebut adalah tokoh yang mengusik moral para penonton. Terutama jikalau penonton sering berpikir tentang apa yang mesti mereka perbuat. Pandangan moral tokoh sepertinya tidak peduli dengna moral masyarakat sekitarnya. Ia tidak punya pilihan. Ki-duk tidak meminta “apa yang harus dilakukan tokoh” dari penontonnya, tetapi mengganggu penonton, mengusiknya dengan usil bertanya “apa yang dapat tokoh-tokoh ini sanggup perbuat”.

Lantas Ki-duk juga tidak terlalu memperkenalkan latar-latar belakang tokohnya. Barangkali itulah yang menjadi sasaran kritikus tentang plot hole dalam film-film Ki-duk. Ki-duk memang tidak sedang berlihai-lihai dan berkokoh-kokoh soal cerita. Ia hanya ingin bilang: life is violence, life is beautiful lewat imaji-persepsi, imaji-aksi dan imaji-afeksinya.

Kim Ki-duk Ditolak Di Negeri Sendiri

Mungkin tidak terlalu berlebihan pepatah “Nabi tidak diterima Negeri Sendiri”. Ki-duk bukan nabi, tapi soal keberterimaan di negerinya, sepertinya ia bernasib sama dengan para nabi.

Ki-duk merupakan pemberani sebagai outlier dalam sutradara Korea. Selain Crocodile (1996)-nya yang menjadi moda itu. Juga karena tidak pernah sekolah film formal dan terlibat dalam film. Tiba-tiba datang dengan film panjang yang menampilkan kekerasan, kekejaman, pemerkosaan. Ki-duk adalah pencilan baik dari segi politik, estetika, maupun produksi film Korea. Seringkali film Ki-duk dianggap terlalu mentah secara artistik dan terlalu kejam untuk komersial. Namun Ki-duk tetap tidak peduli, semenjak ’96 dia sudah membuktikan dirinya sebagai prolific director (sutradara subur dan produktif) dengan membuat 23 film, dengan tidak mengurangi kadar kekejamannya. Jika dalam The Isle tokoh utama perempuan menautkan kail ke vaginanya, di Moebius sang istri memotong penis suaminya dengan pisau. Di Pieta orang-orang disuruh meloncat dari lantai bertingkat

Cuplikan The Bow (Hwal) 2005

Dalam buku sejarah sinema korea, yang disusun oleh Min, Jo, dan Kwok tahun 2003, berjudul Korean Film: History, Resistance, and Democratic Imagination tidak ada nama Ki-duk dan juga film-filmnya.

Dalam buku Cinema tahun 2004 oleh Kyung Hyu Kim Contemporary Cinema, nama Ki-duk luput dan tak tersentuh.

Dalam koran New York Post, kritikus film V.A. Musetto menulis review untuk film Time-nya Ki-duk (2006), ia menulis pernyataan,” Saya tidak tahu bahwa Kim lebih terkenal di New York ketimbang di Seoul.

Penonton Korea umumnya tidak menaruh simpati kepada film Ki-duk. Tidak satu pun filmnya yang sukses secara komersial di Korea kecuali Bad Guy (2001). Meskipun demikian sebagian besar kesuksesan Bad Guy disematkan kepada karakter utama aktor Cho Jae-hyun, yang terkenal karena perannya di drama televisi Korea sebelum Bad Guy dirilis.

Sewaktu Ki-duk kesulitan mendanai filmnya, ia mesti berterima kasih atas reputasinya di luar negeri dan juga produksi filmnya yang low-budget, sebab minimnya dukungan dari penonton domestik hanya tambah menyulitkannya. Filmnya Time (2006) menjadi skandal di Korea karena Kim memutuskan untuk tidak merilis film itu di tanah airnya. Ia berkata terus terang dalam beberapa wawancara “Jika kamu ingin menonton film ini, maka imporlah !”.

Kim Ki-duk dan Buddhisme

Film Ki-duk bagi saya sarat nilai-nilai Buddhisme. Dalam Spring, Summer, Fall, Winter,… and Spring, dari judulnya saja bila kita perhatikan ada muatan siklus, yang mengulang(terkait siklus musim dan reinkarnasi kehidupan). Film yang menceritakan perjalanan hidup seorang biksu tua dan muridnya, bocah tengil, di tengah danau di hutan. Kuil kecil yang terapung. Bersama pohon tua, ikan, ayam dan kucing peliharaan. Danau Jusan, yang menjadi set film ini merupakan danau buatan yang dibuat 200 tahun lalu. Kemudian kuil terapung dibangun di tengahnya sebagai set tempat tinggal biksu dan sang murid. Keindahan danau Jusan ini bersama pohon-pohonya di dalam air yang juga sudah mencapai usia ratusan tahun menimbulkan aura tertentu. Kabarnya pihak produksi film membutuhkan waktu 6 bulan untuk melobi dan mengurus perizinan syuting di danan Jusan ini. “I intended to portray the joy, anger, sorrow and pleasure of our lives through the life of a monk who lives in a temple on Jusan Pond surrounded by nature”, akui Ki-duk soal film ini.

Di film lain ada juga beberapa hal yang serupa samsara dan dharmachakra. Di Samaritan Girl, dua orang sahabat yang ingin melancong ke Eropa lantas menjadi pelacur demi mendapatkan biaya, dibumbui dengan alusi tokoh utama tentang pelacur silam di India dan tiap yang disetubuhinya menjadi Buddhis yang teguh.

Di film Samaritan Girl saya amat terkesan dengan dialog ini:

Jae Young : There was a prostitute in India named Vasumitra.

Yeo Jin : Vasumitra? What a pretty name.

Jae Young : Words say that any man who slept with her, turned into a devoted Buddhist.

Yeo Jin : What the hell did she do to them?

Jae Young : She gave a ecstatic sex as a prostitute, I guess.

Yeo Jin : What does sex have to do with Buddhists?

Jae Young : Maybe it aroused some deep maternal love. You see, men are like babies

when they have sex. Yeo-jin, call me Vasumitra from now on.

Di film Time, alur siklik jelas berkaitan dengan konsep samsara. Meskipun bertemakan fenomena menjamurnya operasi plastik di Korea, Budhhisme masih bisa dilacak jejaknya dalam film ini. Di film Dream yang mengangkat perihal mimpi dan kenyataan , terdapata beberapa adegan di kuil. Dream juga akrab dengan filosofi Chuang Tzu lewat kalimatnya nan terkenal: Kini aku tidak tahu, apakah aku seorang manusia yang mimpi menjadi kupu-kupu atau kupu-kupu yang bermimpi jadi manusia. Selanjutnya dalam film Pieta, perihal penderitaan dan karma dalam keluarga juga. Pada Moebius, pisau yang diletakkan di bawah patung Buddha untuk memotong kelamin sang suami. Kemudian patung Buddha yang menjadi epilog film ini cukup menjadi simbolisasi kejadian lingkaran penderitaan dalam Moebius.

Berikut ini Filmografi Ki-duk dikutip dari situs wikipedia:

1996.Crocodile.악어. Ageo

1996. Wild Animals.야생동물 보호구역.Yasaeng dongmul bohoguyeog

1998. Birdcage Inn. 파란 대문. Paran daemun

2000 The Isle.. Seom

2000. Real Fiction. 실제 상황 Shilje sanghwang

2001 Address Unknown수취인불명.Suchwiin bulmyeong

2001. Bad Guy. 나쁜 남자. Nabbeun namja

2002. The Coast Guard. 해안선. Haeanseon

2003. Spring, Summer, Fall, Winter… and Spring. 봄 여름 가을 겨울 그리고 봄. Bom yeoreum gaeul gyeoul geurigo bom

2004. Samaritan Girl. 사마리아. Samaria

2004. 3-Iron. 빈 집 .Bin-jip

2005. The Bow.. Hwal

2006. Time. 시간. Shigan

2007. Breath. . Soom

2008. Dream. 비몽. Bimong

2011. Arirang. 아리랑. Arirang

2011. Amen. 아멘. Ahmen

2012. Pietà 피에타. Pieta

2013. Moebius . 뫼비우스. Moebius

2014. One on One. 일대일. Il-dae-il

2015. Stop. 스톱. Seutop

Epilog

Epilog film-film Ki-duk yang khas dan terkesan ambigu. Sekian dulu perihal Kim Ki-duk. Terima kasih ! Oh ya, saya menemukan nama Ki-duk di buku Asian Cinema: A Field Guide The First Complete Guide to Asian Film karangan Tom Vick tahun 2007. Selamat Ki-duk kamu ada di Asian Cinema.

I don’t think that the spoken words solve everything. Sometimes silence delivers truer feelings while the words can distort the meaning in some situations.-Kim Ki-duk-

I always ask myself one question: what is human? What does it mean to be human? Maybe people will consider my new films brutal again. But this violence is just a reflection of what they really are, of what is in each one of us to certain degree.-Kim Ki-duk-

Daftar Pustaka:

Sumber Buku

Deleuze, Gilles. 1986. Cinema 1: The Movement Image. Trans. Hugh Tomlinson and Barbara Habberjam. Minneapolis. University of Minnesota Press.

Hyun Jun Min. 2008 . “Kim Ki-duk and The Cinema of Sensations”. Disertasi. Faculty of the Graduate School . University of Maryland, College Park.

Kennedy, Barbara. 2002. Deleuze and Cinema: The Aesthetics of Sensation. Edinburgh. Edinburgh University Press

Sugiharto, Bambang, dkk. 2014. Untuk Apa Seni.Bandung. Matahari

Sumber Internet

https://id.wikipedia.org/wiki/Kim_Ki-duk. diakses pada 5 s.d. 14 Juli 2017

Rp, Ariel. 2017. MEMBEDAKAN SENSASI DARI YANG SENSASIONAL. (Diambil dari https://cinemaillusion.wordpress.com/ pada 13 Juli 2017.)