Mengenal Park Chan-wook: Cita Rasa Personal berpadu Sukses Komersial
“I Wanted to Question Whether Violence could Forgive a Person’s Sin”-Park Chan-wook-

Sewaktu sesi jumpa fans. Orang-orang datang membawa palu kepada Chan-wook. Alih-alih membawa DVD atau kaos untuk ditandatangani. Mereka malah meminta Chan-wook membubuhkan tanda tangan di palu-palu mereka. Ya, palu. Begitulah animo para fans terhadap Chan-wook.
Oldboy (2003) rupanya begitu menancap dalam hati penggemar Chan-wook. Choi Min-sik yang memakan gurita hidup (asli), memotong lidah (hehe, gak dong), dan tidak lupa palu yang dibawa Choi Min-sik.

Chan-wook adalah sutradara Korea Selatan yang termasuk paling banyak menonton film diantara sutradara lainya. Ia seorang cinephil sejati. Beliau juga menulis sebuah bukut kritik film, “Videodrome: The Discreet Charm of Watching Films”. Buku ini kabarnya menjadi bibelnya sinema di Korea.
Review dalam buku tersebut mencakup spektrum citarasa sinematik yang amat luas. Dari blokbaster Hollywood macam Alien 3 sampai film cult Pedro Almodovar atau David Lau. Dari John De Bello sampai Jean Luc Godard. Atau dari film noir klasik Rudolph Mate sampai film horornya George Romero. Standar evaluasi Park bagi review di bukunya cukup jelas. Ia menyusur harta karun tersembunyi di tengah-tengah film yang luput dari pindaian kritikus lain. Park mengelaborasi keindahan film-film tersebut, meyakinkan pembaca untuk mencicipi pesona pada blind spot tiap film.
Dalam buku tersebut Park berani menyebut film Sam Peckinpah, Bring Me the Head of Alfredo Garcia, film yang dicerca oleh banyak kritikus sebagai masterpiece sejati. Park menunjukkan simpatinya terhadap film berbujet rendah yang membawa estetika kelas bawah.
Kisah Perjalanan Park Chan-wook dari “Cupu” hingga jadi “Dewa”
Rentetan ‘kegagalan’ Park agaknya menyelamatkan klise usang “kegagalan adalah kesuksesan yang tertabrak (baca:tertunda)”. Park hanya membuat film dua judul selama 1992 ke 2000. Termasuk debutnya sebagai sutradara.
Park memutuskan jadi sutradara setelah tahun keduanya di universitas, masa-masa ia gandrung dengan Hitchcock. Setelah lulus, ia terjun ke industri film sebagai astrada. Ia diberi kesempatan untuk membuat film parodi komedi yang hampir jiplakan dari Ruthless People, tetapi Park menolak.
Namun karena tidak bisa untuk melewatkan begitu saja kesempatan untuk membuat film debutnya. Ia akhirnya menulis skrip sendiri (bukan skripsi ya, tetapi screenplay). Dengan waktu yang diberi terbatas, Park menulis cerita konvensional, berharap untuk menambahkan eksperimental shot. Namun malang, usahanya tidak diapresiasi oleh penonton dan kritikus. Film yang dimaksudkan sebagai film genre dengan konvensi dan struktur umum itu ternyata gagal.
Setelah kegagalan itu, Park lebih terkenal sebagai kritikus film dan pembawa acara di TV (acara tentang film). Namun ia tidak begitu saja mengubur mimpinya jadi sutradara. Park pantang menyerah, yuhu. Dia dari pintu ke pintu rumah produksi menawarkan 10 skenario berbeda yang telah ditulisnya. Park ditolak oleh semuanya. Skenario Park dinilai terlalu berisiko di ranah komersial oleh produser lokal. Hal itu tidak luput dari reputasi Park yang dikenal sebagai orang yang tahu banyak sekali tentang film tetapi hanya ingin membuat cult film yang menarget penonton sangat terbatas.
Tahun 1997, dia menyutradarai Threesome, film yang dibuatnya sebagai pereda penyesalan masa lalunya sebagai sutradara sinefil dan move on ke tahap berikutnya. Film yang bercerita tentang tiga pencuri dua lelaki dan satu wanita- juga tidak menuai sukses. Dewi keberuntungan akhirnya tersenyum kepada Park pada tahun 1999, Myung Film membuka pintu bagi Park.
Malahan Park ditawari kesempatan untuk menyutradarai JSA (Joint Security Area), sebuah film yang diadaptasi dari novel Park Sang-yeon. Inilah mula-mula Park mendapat tempat di hati insan perfilman Korea Selatan. JSA laku keras. Tema tentang perbedaan ideologi Korut dan Korsel.
Ini jugalah awal mula Park Chan-wook kemudian membuat film balas dendamnya, Sympathy for Mr. Vengeance, Oldboy, Lady Vengeance, hingga The Handmaiden.
Perihal Park Chan-wook dan Hal-hal yang Tidak Perlu Diketahui Tentangnya Sebelum Mati !
Tahun 2004, Quentin Tarantino menjadi kepala juri di Cannes. Kabarnya dia cukup “ngotot” supaya Oldboy menang Palm d’or. Meskipun akhirnya film Fahrenheit 9/11 yang menang. Tetapi Oldboy menang di kategori Certain Un Regard.
Chan-wook sebenarnya bukan lulusan sekolah film. Dia mengambil studi filsafat. Ia mendalami filsafat estetika. Menurut pengakuannya dia berniat jadi sutradara setelah menonton Vertigo, yang menurutnya adalah film karya terbaik Hitchcock. Hitchcock bagi Chan-wook adalah sutradara inhuman yang membuat montase dengan plot skenario sempurna tanpa cela.
Selain mendalami filsafat ia juga gemar dengan psikoanalisis Lacanian.
Film-film Park Chan-wook terkenal dengan kebrutalan dan kekejamannya. Akan tetapi menurutnya ia tidaklah ingin memperlihatkan kekejaman yang stylish lagi artistik. Ia lebih tertarik mengeksplorasi irrasionalitas manusia, suasana psikologis manusia.
Park Chan-wook dibesarkan dalam keluarga katolik. Ia berpikir tentang violens sebagai pemaaf dosa dan kesalahan.
Park berhasil memadukan cita rasa personalnya dengan selera pasar. Ia membuat film yang menggunakan dirinya dan sukses di pasaran.
Chan-wook adalah sutradara yang berkutat dengan manusia, persoalan seks, pembunuhan, balas dendam.
Park Chan-wook kerap mengeksploitasi dilema moral serta penyajian gambar violens yang intens.
Beberapa Film Park Chan-wook:
Joint Security Area (2000)

Film drama thriller berlatar perbatasan Korut dan Korsel. Joint Security Area sendiri merupakan perbatasan yang dijaga oleh militer kedua negara. Siang malam 24 jam. Melewati batas ini bisa berakibat fatal. Misteri film dimulai dengan insiden penembakan di daerah ini. Menimbulkan dua korban dari tentara Korea Utara dan satu orang dari Korea Selatan. Agar tidak menimbulkan konflik, kedua negara bersepakat untuk meminta bantuan negara netral lewat Swiss Neutral Nations Supervisory Commission (NNSC). Mayor Sophie E. Jang (diperankan oleh Lee young-ae), yang menyelidiki kasus ini menemukan bukti janggal di TKP. Lalu aksi tutup mulut saksi sekaligus korban yang selamat tambaah menyulitkan penyelidikan. Selain itu, Mayor Sophie juga menemui konflik batin menyoal identitasnya sebagai warga korea serta masa lalu keluarganya, sebelum menjadi warga negara Swiss.
Sympathy for Mr. Vengeance (2002)

Pada Sympathy for Mr. Vengeance, balas dendam itu bermula dari kidnapped going wrong. Film Fargo (1996) dari Coen bersaudara agaknya memiliki penggerak cerita yang mirip dengan film ini.
Seorang kakak yang tuli dan buta dan baru dipecat dari pabrik baja tempat ia bekerja mesti membiayai donor ginjal bagi adik perempuan kesayangannya. Dalam film ini mereka tinggal berdua dan orang tua mereka tidak dimunculkan. Mungkin mereka yatim piatu. Sang kakak rela menjual ginjalnya kepada pembeli illegal demi menebus biaya kepada pendonor ginjal bagi adiknya. Namun ia ditipu. Ginjal hilang, uang juga melayang. (Jika kamu bertanya mengapa tidak mendonorkan ginjal sendiri kepada sang adik, jawabannya adalah golongan darah mereka berbeda).
Sang Kakak bingung, padahal pendonor itu memberikan waktu seminggu untuk mengumpulkan uang. Pacarnya: yang diperankan oleh Bae Doo-na (seorang anarkis) mengusulkan penculikan bertebus uang. Dengan alasan penculikan merupakan cara juga untuk mengakrabkan si anak dengan keluarganya kembali. Bayangkan saja setelah lama berpisah, mereka dipertemukan kembali. Penculikan juga memicu pergerakan kapital yang menumpuk pada satu orang. Dengan demikian itulah perihal baik dari penculikan.
Dalam film ini dilema moral mengaburkan siapa korban, siapa yang dikorbankan. Semua orang mendapat porsinya masing-masing. Kemudian, kematian itu merupakan faktisitas, ia absolut dan tak terelakkan. Orang-orang kehilangan rasionalitas ketika orang-orang yang mereka cintai mati.
Ironi ekstrim menciptakan humor paling gelap. Ada adegan dimana sekelompok lelaki masturbasi massal di kamar. Sambil menguping, mereka mengira suara teriakan dari seorang yang merintih kesakitan minta tolong timbul karena sedang berhubungan seks.
Lantas adegan manakala seorang karyawan pabrik yang dipecat menabrakkan dirinya ke mobil sang bos yang sedang melaju. Kemudian menyayat perutnya dengan pisau lipat, menunjukkan kesetiaannya kepada perusahaan, agar bisa dipekerjakan kembali, demi anak istrinya yang butuh makan.
Salah satu perihal yang membuat saya ingat adalah detail surat penculikan yang dibuat dengan teknik kolase.
Oldboy (2003)

Oldboy bercerita tentang Oh Dae-su yang diperankan sempurna oleh Choi Min-sik dipenjara dalam sel kurungan di sebuah kamar hotel semalam 15 tahun tanpa tahu identitas penahan juga motifnya. Ketika akhirnya ia bebas, ia masih terjebak dalam rangkaian konspirasi dan violens. Penelusurannya untuk membalas dendam menjadi terpaut dengan romansa ketika ia jatuh cinta dengan seorang chef. Oldboy adalah masterpiece !
Lady Vengeance (2005)

Setelah 13 tahun dipenjara Lee Geum-ja (diperankan oleh Lee young ae) membalas dendam kepada pembunuh anak kecil yang mestinya betanggung jawab. Ia merencanakan dengan matang. Lee Geum-ja diperankan Lee young ae dengan apik sebagai wanita yang baik seperti malaikat tetapi punya sisi kekejaman iblis juga. Geum-ja lalu di tengah pernajalan balas dendam itu bertemu dengan anak perempuannya. Mengalirlah rencana balas dendam sang Lady Vengeance.
I’m a Cyborg, But That’s OK (2006)
(genre: romantic,comedy,drama, sci-fi)

Seorang gadis mengira dirinya adalah cyborg atau robot. Sedangkan neneknya yang anti-sosial mengira cucunya ini seekor tikus. Si gadis kemudian dirawat di rumah sakit mental dan bertemu dengan orang psikosis lainnya. Seperti misalnya orang yang merasa sanggup mencuri roh orang lain. Film ini memadukan kegilaan, kisah cinta, dan laga (karena si gadis ketika menjadi robot bisa berlaku seperti robot tempur dimana penembak otomatis keluar dari tubuhnya). Film berlatar sama (rumah sakit jiwa) model One Flew Over the Cuckoo’s Nest oleh Milos Forman (1963), atau Twelve Monkeys (1995) diolah ulang oleh Chan-wook menjadi tontonan segar yang berkulitas. Jika di One Flew, kita disuguhi ‘penindasan’ lewat alur rumah sakit jiwa, atau Twelve Monkeys kegilaan sebagai akibat modernitas, di I’m Cyborg orang sakit jiwa ternyata bisa bahagia dengan cara-cara lucu, aneh sekaligus sederhana.
Thirst (2009)
(genre: drama, horror, romance)

Seorang pendeta yang terkena malpraktik saat perawatan medis. Lantas pak pendeta itu terkena gejala vampirisme: ia menjadi vampir yang haus darah. Pak Pendeta mesti mengalami dilema dengan ritual asketisme yang sedang dijalaninya. Thirst sedikit banyak disadur dari novel Emile Zola yang berjudul Therese Raquin. Thirst memenangkan Prix du Jury di Cannes Festival 2009.
Stoker (2013)
(genre: psychological-drama thriller)

Stoker adalah film debutan berbahasa Inggris Park. Film ini bercerita tentang India Stoker yang amat kesepian setelah kehilangan ayah dan karib dekatnya dalam sebuah kecelakaan. Kesunyian India Stoker lantas terusik kala kedatangan Paman Charlie. Paman yang selama ini tidak pernah ia ketahui. Sang Paman menemani India dan Ibunya (Nicole Kidman). Peristiwa-peristiwa aneh dan misterius mulai terjadi. Beriring India mulai tertarik kepada sang Paman yang menjalin affair dengan ibunya. Film yang diproduseri oleh Hollywood ini sedikit banyak terpengaruh dari Shadow of a Doubt-nya, Hitchcock, sampai-sampai mengadopsi nama tokoh Uncle Charlie yang diperankan dengan dingin oleh Matthew Goode. Stoker adalah film yang intens, misterius, psikopat juga psikologikal.
The Handmaiden (2016)
(genre: erotic psychological-thriller)

The Handmaiden, yang diadapatasi dari novel Fingersmith digubah oleh Park dari berlatar era Victorian ke zaman Korea kala di bawah kolonial Jepang. Isu LBGT, bagian lesbian cukup pekat di dalam sajian The Handmaiden. Berlatar di perumahan elit Korea 1930-an, seorang penipu ulung: Count Fujiwara (diperankan oleh Ha Jung-woo) merencanakan konspirasi kepada Paman Kouzuki. Fujiwara akan menikahi Lady Hideko, sebagai ahli waris dari Kouzuki, lalu meraup hartanya. Fujiwara lantas menyusupkan seorang pencopet, Sook-hee, untuk menjadi pembantu Lady Hideko, demi memperlancar rencananya. Cerita menjadi runyam ketika sang pembantu malah jatuh cinta kepada Lady Hideko. Teknik narasi cerita yang memiliki lapis-lapis dengan twist yang menawan membuat Chan-wook makin disukai oleh para penikmat film. Super !
Filmografi Park disnapshoot dari situs Wikipedia :

