Pesta Rilis & Bincang Buku Biografi Nick Drake

Bersama Penerbit Jungkir Balik, Kineruku “Menghadirkan” Nick Drake

Suasana Bincang Buku (Foto:Alvin Syujana)

Mengenang Nick Drake Lewat Buku. Turut dimeriahkan oleh Dimas Ario dan Oscar Lolang.

Jika tidak mati di usia 26 dan masih hidup sampai kemarin, Nick Drake tentu sudah berusia 69 tahun. Dengan misainya yang menjuntai, rambutnya putih memanjang, gitar tua dan kulit muka mengeriput. Siapa sangka, pasca 43 tahun orang-orang menangisi kematian beliau, kini di sebuah klub buku nan sendu di Bandung, orang-orang tertawa mengisi acara rilis buku biografinya.

Penerbit Jungkir Balik yang di-ayoh oleh Kelana, mahasiswa Sastra Indonesia Unpad itu, merilis buku pertama. Sebuah terjemahan atas buku biografi susunan Patrick Humphries. Penulis yang juga menulis biografi pertama Nick Drake, Fairport Convention, dan Richard Thompson. Patrick juga menggarap biografi Tom Waits, Bob Dylan, dan Springsteen. Penerbit Jungkir Balik menggaet talenta muda: M.A Mukhlis, untuk menerjemahkan cerita semasa hidup musisi folk subkultur pinggiran itu. Bagi Mukhlis, buku ini serupa syut panorama kehidupan Nick Drake.

Buku Nick Drake Sebuah Biografi Terbitan Penerbit Jungkir Balik (2017, Foto dari Instagram Kineruku)

Di depan panggung kecil itu turut hadir kang skena: Rahar sebagai moderator, M.Al Mukhlishiddin sebagai penerjemah buku, Dimas Aryo selaku kurator musik yang juga adalah penggemar Nick Drake dan tak lupa musisi folk rising star dari Indonesia siapa lagi kalau bukan Oscar Lolang. Tadaaa!. Oscar banyak mengambil pelajaran dari sosok Nick Drake.

(Foto: Alvin Syujana)

Para penonton duduk nyaman berkat kursi, minuman ringan, dan snek gratis dari Kineruku. Makasih Mas Budi, Mba Rani dan kru.

Nampaknya orang-orang cukup antusias mendengarkan pembicaraan sosok Nick Drake. Ketimbang bedah buku, acara ini lebih kepada diskusi Nick Drake yang dibawakan ‘terserah moderator’ lewat dua narasumber. Beberapa kali memang Rahar menyebut-nyebut kata ‘absurd’. Penulis terkesan dengan kelihaian Rahar membawa flow acara. Gurauan dan komentarnya cerdas sekaligus lucu.

Beberapa mitos Nick Drake dibicarakan, mulai dari sifat pemalu Nick sampai dengan pertemuannya dengan John Lennon. Mulai dari kemungkinan Nick sebagai kelas menengah ngehe sampai dengan kelam-depresifnya yang menular dari Jackson C Frank. Ya, Mukhlis berberat hati mengungkap beberapa bocoran alias spoiler soal mitos lama Nick Drake dalam buku ini.

Acara kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab bersama peserta. Namun dalam sesi ini, peserta (penonton) tak terlalu aktif bertanya. Mungkin karena narasumber dan moderator telah cukup memberikan informasi yang lengkap-sempurna. Satu yang menarik adalah pertanyaan tentang apakah mereka yang di depan, Dimas, Mukhlis dan Oscar tetap mengidolakan Nick Drake apabila semua mitos dan trivia soal Nick Drake adalah kebalikannya. Mereka bertiga menjawab sama: Tetap. Sebab mereka suka karyanya Nick, dan mitos juga info lain sebagai penunjang saja.

Di penghujung acara, Oscar Lolang bergonta-ganti gitar membawakan kover lagu Nick Drake. Dari Pink Moon, Day is Done, River Man, Place To Be , sampai Road.

Penampilan dari Oscar Lolang (Foto: Alvin Syujana)

Ternyata dua gitar ini bukan karena gaya-gayaan. Tetapi lebih kepada karena tuning gitar Nick Drake yang unik. Dengan dua gitar saja, akui Oscar, masih belum cukup, terlihat beberapa kali ia masih mengganti tuning-annya. “Jika pengen kover Nick Drake seorang musisi mesti punya 4 sampai 5 gitar”, ujar Oscar sembari mempersiapkan lagu selanjutnya. Apa hubungannya? Mungkin demi menghemat waktu dan umur senar gitar kali ya?J. Oscar juga mempromosikan lagu terbarunya Cloud of Jakarta yang ada di sini: https://www.youtube.com/watch?v=9Vwuv7tEylw . Acara yang memadukan buku musik sepanggung macam begini harus disemarakkan. Sewaktu-waktu mungkin sekalian dengan filmnya.

Salam bergiat !