Membawa Pengalaman Lain Perang ke Layar Sinema
“Kami ingin menempatkan penonton kami di pantai Dunkirk, di dek Moonstone, dan di kokpit Spitfire.”- Christopher Nolan-

“When 400,000 men couldn’t get home, home came for them”. Premis ini bikin penulis merinding. Arti ‘Home’ di sela kisah perang memang demikian penting.
Su’udzon penulis, film ini seolah ingin menunjukkan ‘superioritas’ tentara sekutu meskipun sedang terkepung. Meskipun kalah dalam perang, tetapi memiliki kemenangan di sisi yang lain.
Empat ratus ribu tentara pasrah di lepas pantai kota Dunkirk, Perancis. Rencana menarik mundur pasukan sejumlah ini bukan soal minta maaf, kemudian balikan. No ! No ! Ini terkait dengan nyawa manusia alangkah banyaknya turut-serta hitung-hitungan perang.

Christopher Nolan, layaknya seniman lainnya, tentu ingin diri mereka menjadi unik. Keunikan lewat karya yang ‘beda’, namun tidak asal beda. Kita jelas terkesan dengan film perang macam Apocalypse Now. Kita juga tertegun dibuat Kubrick dan Spielberg lewat Full Metal Jacket dan Saving Private Ryan nan adiluhung itu, sampai Lelaki yang Enggan Mengangkat Senjata di Hacksaw Ridge.
Tiap kali menonton film, secara sengaja atau tidak, penulis selalu menyusuri film-film yang sebelumnya sudah ada. Entah itu untuk membandingkan ataupun meremehkan. (Mungkin bagian juga dari agenda untuk membatalkan para penjiplak yang berlindung di bawah kutipan ini: tidak ada yang baru di bawah matahari).
Film ini ada diambang perang dan survival. Bila kita melihat kilas-balik, Dunkirk bukan perang macam Apocalypse Now atau Saving Private Ryan, bukan juga film survival macam Cast Away. Susah memilih istilah yang tepat untuk Dunkirk. Melarikan diri ala Prison Break atau Escape Plan? Tidak juga.
Nolan sedang membuat film perang yang lain. Dunkrik, kiranya perang dan survival dari tangkapan mata dan tutur cerita ala seorang Nolan. Dunkirk dimulai di tengah kota, manakala para tentara sedang desperate mencari air minum. Tetiba pamflet penebar ketakutan bertaburan dari langit. Kalian sudah terkepung. Maut segera menjemput. Lantas terjadi baku tembak, seorang tentara muda nan nubi, Tommy (Fion Whitehead), membawa kita ke lanskap ratusan ribu tentara pasrah di pantai Dunkirk.
Perang disajikan Nolan sebagai selimut ketakutan yang mencekam, gaya narasi non linear, dikemas dengan jump-cut ke mana-mana menjadikan film ini jelas Nolanesque. (Gaya yang dimodif dari salah satu sutradara favorit Nolan: Nicholas Roeg)
Berpegang pada tiga pilar latar: darat, laut, udara, sang sutradara menyelami kondisi batin para tokoh-tokohnya. Tambah dengan dimensi waktu yang menjadi persepsi dan sudut pandang lain terhadap suatu kejadian dan peristiwa. Seminggu di darat, sehari di laut dan satu jam di udara. Tommy bertemu dengan Gibson (Aneurin Barnard), Alex (Harry Styles) di darat. Ada juga Commander Bolton (Kenneth Branagh) yang berperan sebagai PJ logistik kapal yang tiba di dermaga. Di laut, pengalaman warga sipil kita diwakili oleh Moonstone, perahu kayu jenis yacht yang dikemudikan oleh Mr. Dawson (mark Rylance), bersama anaknya Peter (Tom Glynn-Carney) dan seorang teman George (Barry Keoghan).
Di udara, pengalaman evakuasi Dunkirk kita alami lewat Farrier sebagai pilot spitfire (Tom Hardy) dan Collins (Jack Lowden). Kedua pilot spitfire ini sedang menghalau pesawat tempur Luftwaffe Jerman yang menyerang laut dan pantai.
Film ini tidak terlalu banyak bicara lewat dialog tokohnya. Dialog cenderung minim. Justru gambar dan ekspresi lebih ditonjolkan. Penulis terkesan dengan depresifnya shivering soldier (Cillian Murphy). Dunkirk sungguh menyuguhkan pengalaman atas sesuatu yang langka. Tidak berlebihan bila penulis anggap juga diceritakan dengan citarasa langka.
Menarik juga untuk diperhatikan bahwa tidak satupun Musuh, tentara Jerman, ditampilkan Nolan. Adegan di dalam kapal manakala tokoh utama mendapatkan serangan peluru. Ketakutan yang ditampilkan Nolan bukan takut kepada sesuatu yang pasti. Tetapi ketakutan yang samar-samar.
Kondisi Psikologis manusia ketika perang, dimana manusia menjadi individu yang egois sejati, insting bertahan hidup, adalah kewajaran yang tampak dalam Dunkirk. Tidak ada adegan membopong sahabat yang terluka. Tidak ada backstory tentang kenangan bersama pasangan di kampung halaman. Tidak ada foto kekasih bertaburan di tangan tentara dan lain sebagainya. Yang ada kini dan di sini: perang mencekam dan satunya-satunya cara selamat adalah bertahan hidup. Tanpa menjadi hero.
60 kapal dari 9 negara untuk adegan laut, terdiri dari beberapa kapal kecil, tiga kapal minesweeper, kapal rumah sakit, serta kapal destroyer yang dipinjam dari musem Nantes, Perancis. Tambah lagi 3 pesawat tempur spitfire asli.
Bukan perkara mudah membuat film dengan peralatan-peralatan “besar” model di atas. Tentu dibutuhkan kerja all out dan kegeniusan demi membuat film yang tidak hanya laku tetapi juga indah. Nolan benar-benar ambisius menghadirkan pengalaman sinematik dari pengalamannya sendiri. Berbagi pengalaman. Perjalanan 19 jam Nolan beberapa tahun lalu menyeberangi Selat Inggris ke Dunkirk. Disertai cuaca buruk dan gelombang laut. Hal itu rupanya membawanya kepada kekaguman terhadap evakuasi Dunkirk tahun 1940. Evakuasi tentara sekutu dan Inggris oleh penduduk sipil dengan kapal-kapal kecil. Dari situlah Dunkirk akan menjadi film ala based on true story-nya Nolan yang pertama.
Nolan kembali bekerja sama dengan sinematografer Swedia, Hoyte von Hoytema, yang juga menggarap sinematografi film Interstellar. Nolan juga menghindari CGI sehingga puluhan kapal perang asli terlibat dalam film ini. Sebagian besar adegan laut di syut di Selat Inggris sementara adegan Moonstone di ambil di danau buatan di Belanda Ijselmeer.
Tak hanya alasan teknis seperti kapal besar tidak bisa mendekati pantai Dunkirk yang dangkal, tetapi juga soal strategi dan dramatik. Kapal sipil kecil lebih tidak beresiko terkena ludahan peluru pesawat Luftwaffee Jerman.
Hans Zimmer, yang mengisi scoring ini lebih dari cukup. Komposisi musik yang beliau iringkan ke Dunkirk ibarat naik-naik-naik-turun ala roller coaster. Hidup Hans Zimmer ! Ketegangan berhasil ditafsirkan oleh Hans Zimmer lewat musik diburu waktunya.

Secara teknis, pewarnaan, plotting, scoring, directing, sampai ending, Dunkirk adalah karya yang terpuji. Meski demikian saya lebih suka The Prestige.
