Kisah Cinta Gadis Mungil dengan Seekor Babi

Ketegaran Mija dari Pegunungan Korea Sampai ke Jantung Kota Kapitalisme New York dalam Film OKJA (2017)

Asra Wijaya
Jul 10, 2017 · 9 min read

BAGIAN PERTAMA : PENGANTAR YANG BERLEBIHAN

Adakah kausalitas antara kapitalisme dengan perkembangan budaya di suatu negara? Tidak tahu. Sebenarnya saya tidak sedang ingin membicarakan perihal tersebut. Mekarnya perfilman Korea Selatan, seolah cherry blossom di musim bunga pasca kelahiran Generasi Kedua Korean New Wave. Korea Selatan juga menjelma menjadi industri teknologi raksasa, artis Korea menjadi kiblat baru kecantikan dan kegantengan melalui arus K-POP-nya. Perempuan putih-putih nan inosen, indah oh sangat pengen, dan laki-laki mulus- cemerlang bak pualam.

Generasi Kedua Korean New Wave, sebagai modifikasi dari istilah era French New Wave (era persinemaan Perancis pasca Perang Dunia II, yang dimotori oleh beberapa sutradara tersohor macam François Truffaut, Jean-Luc Godard, Jacques Rivette sampai Alain Resnais) disebut-sebut sebagai wajah baru perfilman Korea. Kelompok film Non-Western yang selama ini yang disorot melalui Sinema Modern Jepang lewat Akira Kurosawa, Yasujiro Ozu, Hiroshi Teshigara sampai Shohei Imamura, Atau film laga kontemporer Hongkong dengan nama-nama seperti Jackie Chan, Wong Fei Hung, Jet Li, serta Chou Yun Fat. Atau India lewat Bollywood (Kuch-kuch Hota Hai sampai Three Idiot, dan Slumdog Millionaire) punya alternatif lain.

Di Korea Selatan muncul nama-nama seperti Lee Chang-dong, Kim Ki-duk, Hong Sang-soo, Bong Joon-ho, Park Chan-wook, Na Hong-jin sebagai sineas yang layak dipertimbangkan. Beliau-beliau ini nama yang sudah menyabet beberapa penghargaan Internasional bergengsi (jika kamu peduli soal itu).

Berikut ini daftarnya :

Lee Chang-dong :

- Film Oasis (2003) — Special Director’s Award, Venice Film Festival

- Film Poetry (2010) — Best Screenplay, Cannes Film Festival

Kim Ki-duk :

- Golden Lion di Festival Film Internasional Venesia ke-69 untuk film Pietà

- Silver Lion untuk Sutradara Terbaik di Festival Film Internasional Venesia ke-61 untuk film 3-Iron

- Silver bear untuk Sutradara Terbaik di Festival Film Internasional Berlin ke-54 untuk Samaria

- Penghargaan Un Certain Regard di Festival Film Cannes 2011 untuk Arirang

Na Hong-jin :

- 2017 11th Asian Film Awards: Best Director (The Wailing)

Hong Sang-soo :

- 2015, 68th Locarno International Film Festival: Golden Leopard (Right Now, Wrong Then)

- 2013, 66th Locarno International Film Festival: Best Director (Our Sunh

- 2010, 63rd Cannes Film Festival: Prix Un Certain Regard (Hahaha)

- 1997, International Film Festival Rotterdam: Tiger Award (The Day a Pig Fell into the Well)

Park Chan-wook :

- 2001, Seattle International Film Festival New Director’s Showcase Special Jury Prize film J.S.A

- 2003 , Cannes Film Festival Grand Prix, film Oldboy

- 2006, Bangkok International Film Festival, Golden Kinnaree Award for Best Director, film Lady Vengeance

- 2007, Sitges Catalan International Film Festival, Best Screenplay film I’m Cyborg but That’s OK

- 2009, Cannes Film Festival, Jury Prize, film Thirst

- 2011, Berlin Film Festival, Golden Bear for Best Short Film, film Night Fishing

- The Handmaiden beberapa penghargaan untuk Best Foreign Language film di beberapa festival internasional

BAGIAN KEDUA : BONG JOON HO, OKJA

Bong Joon-ho, baru-baru ini, bersama Michael Haneke, rekan senegaranya: Hong Sang-soo, Yorghos Lanthimos, Sofia Coppola, dan sutradara kelas Dunia lainnya di Cannes Film Festival 2017, memperbutkan penghargaan tertinggi: Palm d’or, alias palem emas (dimenangkan oleh film The Square garapan Ruben Östlund, Swedia).

Okja, film kedua Bong yang lintas negara (Amerika dan Korsel) setelah Snowpiercer (2013). Pemutaran film Okja kabarnya sempat di boo oleh para wartawan karena kesalahan teknis (gambar terpotong gegara resolusi tidak sesuai). Okja memang menuai kontroversi karena rilisannya tidak di layar lebar bioskop, melainkan di situs streaming Netflix. Para wartawan mem boo begitu melihat logo netflix untuk kedua kalinya ketika film diputar ulang. Sekadar trivia, OKJA tidak rilis di bioskop Perancis, sehingga aturan Cannes 2018 pun kemudian diubah (ditambah), film yang di kompetisikan di Cannes mesti punya jadwal rilis di bioskop Perancis.

Okja ialah nama seekor babi super. Di tengah krisis pangan di dunia, perusahaan Mirando menemukan babi super di Chile. Berkat penelitian berhasil dikembangbiakkan 26 ekor babi super dan dikirim ke peternakan di negara-negara di dunia. Mirando mengangkat isu makanan yang terbaik untuk manusia. Ramah lingkungan, aman bagi kesehatan, dan yang terpenting: lezat. Adalah Mija, gadis belia yang tinggal di pegunungan Korea merawat Okja dengan hanya ‘membiarkan’ ia berlari.

Setelah sepuluh tahun, babi super yang dimonitor perkembangannya lewat teknologi canggih ini akan dilombakan, dalam kontes kecantikan. Babi super yang menang akan di bawa ke New York sebagai ikon Mirando.

Pemenangnya adalah Okja. Okja, sahabat Mija semenjak 10 tahun lalu. Okja juga ialah properti perusahaan Mirando. Mija tidak rela harus berpisah dengan Okja. Mija turun gunung, melewati tebing, menyusuri jalan dari pegunungan sampai ke Seoul sampai ke Amerika, demi Okja.

Di tengah jalan muncul ALF yang ikut membantu misi Mija (Animal Liberation Front).

Isu yang diangkat dalam film ini amat aktual menyoal makanan. Bong dalam sebuah wawancara menuturkan bahwa kejadian seperti Okja ini sedang terjadi. Di Kanada ada salmon yang direkayasa secara genetis sebagai bahan makanan, dan sudah dipasarkan dengan sangat hati-hati. Saat riset untuk materi film Okja, Bong juga bertemu dan mewawancarai seorang mahasiswa doktoral yang sedang mengembangkan babi yang direkayasa genetik.

Beberapa bulan yang lalu, Han Kang, novelis Korea, memperoleh hadiah Man Booker International Prize lewat novelnya yang Vegetarian. Barangkali isu vegetarian sedang berkembang di Korea. Bong, menurutnya tidak mengampanyekan Vegetarianisme, bahkan dalam film Okja sang tokoh utama Mija saja makanan kesukaannya adalah ayam rebus. Ia mengaku lebih kepada mengajak penonton filmnya untuk mempertanyakan kembali dari mana makanan di atas piring di hadapan mereka.

Debut penyutradaraan Bong dimulai dengan Barking Dogs Never Bites (2000), tentang seorang dosen yang terganggu dengan gonggongan anjing di apartemennya. Di film ini juga ada tokoh yang hobi memakan anjing. Film komedi gelap dengan menyoroti hubungan anjing dan manusia. Film selanjutnya The Host (2006), Bong mengangkat isu Sungai Han yang tercemar sehingga menghasilkan makhluk mutan yang ganas, yang memangsa manusia. Lalu di film Okja (2017) Bong menghadirkan babi jinak, pemalu, dan introvert yang bersahabat dengan manusia. Benang merah ketiga film Bong ini adalah manusia dengan aktivitas makannya, hewan, dan kelestarian lingkungan.

Ada adegan film Okja yang mengingatkan saya kepada film The Host manakala aktivis lingkungan mendapatkan represi dari aparatur negara (militer) dan serentak memberikan gambaran video klip lagu I Was A Teenage Anarchist https://www.youtube.com/watch?v=c7RUeMCZL3Q. Ketika seorang pemuda dihantam oleh pukulan aparat.

Jangan-jangan Bong adalah seorang anarkis. Tetapi tidak penting. Dalam beberapa kesempatan Bong tidak pernah menyampaikan posisi politiknya.

Ini soal pertempuran manusia dengan manusia lain. Manusia yang berseteru demi egonya masing-masing. Saya setuju bila dalam film Bong, alih-alih berceramah tentang moralitas ia justru menunjukkan realitas. Konsekuensinya tokoh baik dan jahat, hero atau villain dalam film Bong cukup samar (apabila kita tidak mengesampingkan motif dan psikologis karakter tokoh-tokoh tersebut). Setiap saya menonton film-film Bong, Chan-wook saya selalu ingat kepada Rashkolnikov tokoh karangan Dostoyevsky dalam Crime and Punishment. Atau kepada testimoni Katrin Bandel atas novel Eka Kurniawan : nilai-nilai moral yang diajarkan dalam kehidupan sehari-hari ternyata terlalu sederhana, tak memadai untuk kehidupan manusia yang penuh liku-liku.

BAGIAN KETIGA : KOMENTAR SAYA KEPADA FILM OKJA

Film ini bukan film berat macam Jodorowsky atau bukan non linear seperti David Lynch atau Nolan. Film ini ringan-menghibur. Bong menyajikan film yang menyenangkan tanpa meminggirkan keindahan gambar.

Latar yang menawan, pemandangan alam dan kota menjadi kontras di sini. Alam pegunungan disandingkan dengan kota New York yang dipenuhi gedung pencakar langit.

Dilihatkan bahwa hewan bukan cuma makan dan tidur, tetapi punya akal budi untuk menolong Mija ketika di tebing, cerdas. Hewan bisa bermain dengan manusia, mandi di sungai dan tidur bersama manusia. Menarik juga bahwa kotoran Okja menjadi makanan ikan-ikan. Mija yang mengembalikan ikan kecil ke sungai, tidak mengabulkan permintaan Okja ketika mau minta tambah makan buah (sifat tidak tamak), kemudian sebelum membawanya pulang, ikan itu masih dibiarkan dalam air. Perasaan tertindas karyawan Mirando-sang sopir truk. Pembawa acara yang menjadi ikon media Mirando yang tertekan karena mesti selalu tampil ON.

Untuk animasi CGI, Okja begitu nyata. Saya acungkan dua jempol sambil mengangkat topi kepada efek visual yang sukses menampilkan Okja menjadi babi raksasa (mirip gajah digabung dengan kuda nil). Bagaimana Okja meloncat di sungai, mengasilkan kecipak air. Bagaimana Okja berinteraksi dengan Mija. Persentuhan yang sangat riil. Hanya karena saya sudah punya keyakinan saja bahwa ini film fiksi, dan tidak ada babi raksasa macam begitu makanya bisa beranggapan Okja adalah gambar CGI. (kabarnya biaya CGI Okja menghabiskan 7,6 juta dolar, kira-kira setara dengan 101 Miliar rupiah)

Efek suara jelas tidak bombastis, meskipun film ini bergenre action. Suara Okja diracik sedimikian rupa. Dengkurannya, dan lenguhannya. Bercampur dengan kesiur angin di hutan. Suara serangga yang bersahutan, keciap burung, aliran sungai menjalari bebatu: indah.

Soal shot, Bong sudah tidak diragukan lagi, beberapa tracking shot dengan perpetual motion hadir saat kejar-kejaran. Bong memercayakan Darius Khondji (Delicatessen, Se7en, Midnight in Paris). Gerak, yang selalu menjadi modus pengambilan gambar Bong, menjadikan film ini dinamis dan tidak bikin menguap (Mija senang berlari). Hijau pegunungan siang hari yang alamiah, pegunungan malam yang berkabut, sungai yang jernih, tebing yang tandus berdebu dikontraskan dengan suasana gedung pencakar langit di New York. Beberapa extreme close up kepada babi super Okja di bagian mata untuk menunjukkan ekspresi Okja boleh dibilang jenius.

Musik yang harmonis. Adegan berlatar pegunungan diiringi dengan petikan gitar akustik sewaktu Mija dan Okja bercanda-cengkrama. Terharu saya juga ketika diputar Annie Song-nya John Denver saat Okja akan ditembaki bius sehabis kejar-kejaran di dalam supermarket. Dipadu dengan adegan slow mo. Duh rasanya mengena, menyentuh dan bikin terlena.

Pilihan tepat Bong dalam mengkes Ahn Seo-hyun sebagai Mija. Mimik, ekspresi, gestur pemberaninya wajib dicatat (mengingatkan saya kepada Sherina dalam Petualangan Sherina). Ia punya ketangguhan itu, semangat juang mempertahankan cinta kepada Okja. Kepercayaan bahwa Okja akan selalu kembali kepadanya. Mija kerap berbisik kepada Okja. Kita penonton tidak tahu apa isi bisikan itu, dengan bahasa apa Mija, namun dari close up kamera kepada Okja, kita tahu mereka saling memahami. Kelucuan Jake Gylenhall dalam memerankan zoologist sekaligus presenter lucu yang terkesan amburadul-asal serta pemabuk. Perlu diapresiasi pula Tilda Swinton (juga sebagai co-producer dan berperan di film post-apokalips Snowpiercer sutradaan Bong) berhasil memerankan Lucy, seorang yang narsistik, ringan-lidah dan cenderung psikopat. Tidak lupa pula Paul Dano, Steven Young dan Lilly Collins yang memerankan tim ALF dengan humor dan mendebarkan.

Ide film ini menurut Bong diperoleh dari pengalamannya sendiri. Waktu itu Bong sedang menyetir mobil di kota dan membayangkan kehadiran makhluk raksasa yang lebih besar daripada gajah. Dari kuda ide model begitu, kemudian film Okja lahir.

Film persahabatan manusia dengan hewan terbilang sudah cukup lama sejak Old Yeller (1957), Pig in The City (1998)-yang dijadikan referensi film oleh Bong, Hachiko (2009), Warhorse (2011), namun Bong datang dengan genre segar, yang mungkin saja pertama di dunia : eksen ekologikal. Sedikit beda dengan save animal ala Ace Ventura.

Okja juga tidak luput dari karnaval batin manusia. Bagaimana seorang sopir truk yang tidak diberi asuransi oleh perusahaan, bagaimana kesewenang-wenangan bos kepada karyawannya. Bagaimana manusia bisa membohongi demi suatu hal (dan terjadi juga di ALF, K membohongi rekannya ketika menerjemahkan ucapan Mija).

Kalau dikenang sedikit, dengan tokoh Babi, gadis kecil, hubungan manusia dengan alam, kita akan segera ingat dengan Princess Mononoke (1997) Hayao Miyazaki. Memang sentuhan artistik Miyazaki cukup terasa dalam Okja. Yang jelas dari latarnya sudah kelihatan.

Dialognya juga mengalir lancar. Sesekali humoris. Sesekali mengharukan. Okja memakai pakem umum untuk three act. Namun tidak serta merta membuat film ini remeh. Plot mengalir dari pegunungan ke New York hingga kembali ke pegunungan. Sebuah bangunan cerita yang kokoh.

Saya awalnya mengira isu patriarki akan tumbuh kembang dalam film ini, begitu sang Kakek menasihati Mija di hadapan kedua orang tuanya: Kamu sudah tumbuh menjadi perempuan yang dewasa. Saya tidak ingin melihatmu lagi bermain-main dengan babi itu, ada baiknya engkau ke kota dan bertemu lelaki dan….(kalau tidak salah begitu). Jujur saja begitu melihat sang sopir truk pembawa Okja, saya mengira Mija akan berasmara dengan sang sopir truk, Oppa yang mulus, lucu dan cemerlang itu (ternyata tidak, Bong tidak menunjukkan kualitas sereceh imajinasi saya itu).

Impresi dengan pidato meriah-riang dari Lucy di pembukaan film sekaligus sebagai backing story sangat eyecatching. Adegan tidak melulu serius tetapi diselipi lucu. Serta emosional juga. Ketika Mija berlari menumbuk pintu kaca kedap suara, adegan ketika Mija berlari turun gunung. Adegan kejar-kejaran yang menegangkan. Ending yang memukau adalah salah satu penentu kualitas film. Dan seperti film-film laiinnya Barking Dogs Never Bite, The Host, Mother, Bong tidak serta merta menyajikan ending yang remeh dengan membuat semuanya bahagia, yang berisiko menutup keindahan perjalanan dan perjuangan konflik yang dibangun. Tidak tanggung-tangguh film berbajet 50 juta dolar ini pantas untuk tonton lebih dari sekali (kalau sanggup ya Blu Raynya silakan dikoleksi).

ISH Review

Asra Wijaya

Written by

ISH Review

Collected Essays and Reviews on Books, Films, Musics, and Cultures

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade