Kompleksitas Manusia dalam Perang

Asra Wijaya
Aug 27, 2017 · 3 min read

“Perang Sanggup Bikin Manusia Jadi Monster”

Poster Film The Battleship Island

Rasa penulis, pemersatu manusia bukan cuma simbol macam bendera saja. Sepanjang film ini, tidak ada cinta tanah air, tidak ada bendera Korea Selatan yang berkibar demi membakar spirit melawan Jepang. The Battleship Island sepertinya tidak ingin mengeksploitasi tema nasionalisme. Ia hadir dengan menyajikan kondisi manusia yang tertindas. Berlatar sewaktu akhir Perang Dunia II, manusia-manusia sependeritaan berjuang melarikan diri dari Pulau Hashima.

Manusia, ya, tema-tema yang mengupas, menguliti sifat dan karakter manusia selalu menarik untuk ditonton. Hubungan dalam keluarga, hubungan pertemanan sosial. Kuasa dan lain-lain.

Di Pulau Hashima, tempat Jepang mendapatkan suplai batubara, orang-orang dari Korea, sekapal feri jumlahnya, dijebak untuk bekerja di sana. Kasus suap, pemerintah yang kejam lagi korup, penguasa yang keji, pelacuran dan perbudakan semasa perang. The Battleship Island tidak terjebak dengan nasionalisme merebut kemerdekaan. Karakternya berkembang dengan baik dan manusiawi. Shot-shot aerial dalam rangka memperkenalkan Pulau Hashima di tengah laut demikian rapi. Tempat tambang batubara Jepang itu memang mirip sebuah kapal perang. Pulau kapal perang yang menjadi neraka nyata bagi para pekerja paksa Korea di sana.

Empat ratusan penduduk Korea berusaha melarikan diri dari Pulau Hashima. Meskipun sejarah sebelumnya, belum satupun orang yang berhasil melarikan diri dari sana. Opening film menggunakan set up cerita yang kokoh dan sinematografi yang saling menguatkan. Backstory tambang dipadu dengan gelap lorong tambang dengan warna hitam putih jelas menarik penonton untuk masuk ke Hashima.

Lee Kang-ok (Hwang Jung-min) bersama rekan segrup musiknya berniat memperbaiki nasib dengan tampil di Jepang. Ia turut membawa anaknya yang juga adalah vokalis band mereka, So-hee (Kim Su-an). Namun mereka justru terjebak di feri menuju Hashima.

Karakter si Ayah yang periang dan cenderung humoris menjadi sentral film ini. Penampilan Hwang Jung-min sebagai karakter yang kocak, seperti dalam film drama A Man Who Was Superman dan action Veteran, berhasil membuat penulis jatuh cinta kepada kisah mereka. Ryu mencampurkan kelucuan dengan kesedihan, menghasilkan struktur dramatik yang memukau, sekaligus sukses mengaduk emosi penonton. Ditambah lagi pergerakan kamera yang dinamis dan pengambilan gambar lewat longshot nan informatif. Salah satu adegan teramat menyentuh adalah ketika sang Ayah menari bersama sang anak di remang lampu malam hari. Indah dan bikin mewek.

Di dunia maya, beberapa warganet membandingkan The Battleship Island dengan Dunkirk. Barangkali gegara mengusung tema mirip: perang. Dengan misi yang agak-agak mirip: kabur alias melarikan diri. Jika Dunkirk diam-diam menyergap emosi penonton, maka The Battleship Island terang-terangan menggunakan peluru, darah, air mata, api, ledakan yang kentara.

Perang terkadang dimenangkan oleh orang yang bertahan hidup. Kata-kata lebih baik mati daripada dijajah bukan cuma klise yang lahir spontan. Ia melewati tempaan dan ujian batin apalagi fisik.

Film ini sempat menuai kontroversi. Sutradara Ryu sempat dituding memelintir sejarah oleh surat kabar Jepang, Sankei Shimbun. Namun segera tudingan itu di jawab oleh Ryung bahwa film ini dapat dianggap sebagai non-fiksi bagaimana perang sanggup menjadikan manusia monster ketimbang sebuah sentimen anti-Jepang.

Ryu adalah filmmaker yang boleh dibilang berhasil dinilai dari penjualan tiket bioskop. Film sebelumnya Veteran dan The Berlin File yang bergenre laga-kriminal itu berhasil menjadi sinema blokbuster di Korea Selatan. Veteran (2015) menggaet 13,4 juta penonton, (ketiga sepanjang masa di Korea) sedangkan The Berlin File berhasil mendapat 7,1 juta penonton. Sementara The Battleship Island yang menghabiskan biaya produksi 21 juta USD sudah balik modal di hari ke lima pemutarannya 4 juta tiket 27,9 Juta USD.

Menggunakan cast model Song Joong Ki sebagai pejuang independen kemerdekaan Korea dan So Ji-sub sebagai gangster tentu berisiko. Bisa terjebak dengan komentar: cuma jualan tampang buat mendokngkrak popularitas film. Hal itu bisa menjadi bumerang bila tidak disertai dengan naskah skenario dan porsi penokohan yang tidak sesuai. Akan tetapi The Battleship Island mampu menjawab tantangan itu semua

Ryu sukses mengemas film yang tidak hanya memotret konflik batin para tokoh ia juga berhasil menerapkan strategi penjualan yang elegan.

ISH Review

Collected Essays and Reviews on Books, Films, Musics, and Cultures

)

Asra Wijaya

Written by

ISH Review

Collected Essays and Reviews on Books, Films, Musics, and Cultures

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade